
17 tahun uni Fathi hari ini, usia yang sudah mulai di kejar-kejar dukcapil untuk foto KTP. “Nanti di aturkan waktunya Yanda, biar fotonya bagus, kan mau dipakai selamanya” komen uni tahun lalu saat di minta ke kelurahan untuk foto kolektif, dia tidak mau karena wajahnya “lecek” waktu itu. Sekarang sudah wajib.
Secara nyata apa perubahan? Yang jelas adalah perubahan tanggung jawab. 17 tahun beberapa akses terbuka, termasuk sudah bisa punya sim, sudah boleh punya rekening sendiri, sudah dianggap dewasa oleh sistem negara dan dunia. Tentu semua “kesudahan” itu mengakibatkan ekses tanggung jawab di belakangnya. Tidak itu saja, walaupun Islam tidak membagi kedewasaan dengan bilangan umur, tapi dari kondisi fisik, antara belum dan sudah baligh. Tapi keterbukaan akses lebih itu, mewajibkan ada tanggung jawab lebih.
17 tahun, harus lebih bertanggung jawab terhadap diri sebagai wanita muslim. Kewajiban menutup aurat dengan benar, tanggung jawab untuk menjaga pergaulan agar tidak keluar dari jalan yang sudah di gariskan agama, kewajiban ber “huznudhan” kepada Allah, bahwa betul “Allah bersama prasangka hambanya”, cita-cita adalah prasangka baik pada sang pencipta. Siapkan cita-cita, berjuang untuk mencapainya, termasuk perjuangan itu adalah memilih dan memilah “aksi” yang harus di lakukan.
Yang paling riskan di umur uni adalah memilih “aksi” itu, ingat selalu pesan Yanda ya, “hati itu punya Allah”, kadang kita tidak punya daya dan upaya untuk menolak suka, senang, benci, pada seseorang atau sesuatu, karena itu digerakkan secara natural. Tapi Allah memberi kita jiwa dan pemikiran, sehingga kita bisa memilih “aksi” dari semua rasa di hati itu dan itulah yang nanti akan dihisab oleh NYA. “Hati Punya Allah, tapi aksi tergantung kita”.
Yanda dan mama tidak akan menuntut uni untuk jadi apapun, hanya doa akan selalu menyertai, “Rabbi habli minassholihin, jadikanlah anak-anak kami jadi anak yang Sholeh”, itu doa Nabi Ibrahim untuk anak-anaknya. Jadi apapun uni nanti, tetaplah jadi anak yang “Sholeh”. Setinggi apapun pencapaian uni nanti, Dimata Yanda dan mama, uni tetaplah hanya “anak yang Sholeh”.
Menuju gerbang dewasa menurut negara dan dunia, tetaplah uni selalu berada di jalanNYA .
Cibis 9, 31 Maret 2026 #17uTati