Mama dan nak bujang Part-32: bersepeda solok-singkarak

Saya sama besar dan sama tumbuh dengan sepupu saya anak Mak Tuo kakak Papa, kami sama-sama panggil Boi dari dulu sejak masih nyilam di lubuak pacah, sama-sama sunat ke Pak Tuo Dalim (alm) sampai sekolah SMP pun sama di Solok. Desrizal, Papa panggil dia ii akong, panggilan itu melekat bagi orang kampung. Rupanya itu doa,…

Mama dan nak bujang Part-31: menempatkan diri

Kelas 2 SMP, bergabung dengan para juara, tertinggal dua “tiang”, ini istilah balapan jalanan, maksudnya ketinggalan 2 tiang listrik, kalau jarak tiang listrik 25 m, ya ketinggalan 50 meter dan itu jauh. Karna itu saya secara sadar harus bisa menempatkan diri, bergabung pada rombongan depan atau pasrah tetap ketinggalan gerbong. Kelas kami waktu itu khusus…

Mama dan nak bujang Part-30: naik kelas 2

Satu tahun tingkat pertama SMP berlalu dengan aktif mengikuti, baik kegiatan belajar mengajar maupun ekstra kurikuler. Gendong tangan 2 bulan ke sekolah karena bahu bergeser tidak menyurutkan semangat untuk tetap bersinergi. Menabung selama 9 bulan pun sudah memperlihatkan hasil, bisa beli sepeda BMX bekas balapan, 70 ribu. Ya, waktu itu lomba BMX cross lagi viral…

Mama dan nak bujang Part-29: pramuka SMP

Mama pembina Pramuka, ingat cerita sebelumnya yang saya jatuh dari pohon manggis dan bahu bergeser? Saat itu mama lagi ikut Kursus Pembina tingkat Dasar (KPD) di Koto Baru, Solok. Saya pun sudah aktif Pramuka dari SD, mulai tingkat siaga mula, siaga bantu dan siaga tata. Masuk SMP, kegiatan extrakurikuler yang pertama kali saya mendaftar adalah…