Archive

Archive for the ‘Mama&Nak Bujang’ Category

Mama dan nak bujang Part-13: lebaran, “anak bujang buk ilih hilang”.

Kelas 4 SD, lebaran tahun 1991 warga kampung geger, anak bujang buk ilih hilang..!!

Itu headline di kancah “ota” mulut kemulut kampung kami hari itu. Berbagai prediksi dan analisa muncul. “Cari dilubuak rukan, mungkin mandi sama kawan-kawan”, “coba tanuang, mana tau dibawa antu aru-aru”, dan berbagai macam hipotesis lainnya dari yang bikin tenang sampai yang bikin senewen mama saya, “biasanya kalau lebih dari 2 jam dibawa penunggu lubuak rukan, dak bisa balik lagi”, prediksi yang membuat mama jadi makin pening.

Apa pasal?, ya, saya hilang, mulai dari siang sampai menjelang magrib, bahkan tidak ikut shalat idul fitri di masjid pagi ini. Mama sadar saya tidak ada pada saat mau mendoa lebaran siang, biasanya tidak pernah absen, karena mendoa lebaran ini bagi kami adalah perbaikan gizi. ๐Ÿ™‚ Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-13: Puasa pertama potong ayam.

24 April 2020 Leave a comment

Bagi kami orang kampung, yang hidup dipedalaman tahun 90an, beras/nasi, sayur pucuk ubi, pete, jengkol, rebung (umbinya bambu), kemumu (pohon keladi), cabe dan sayur gunung lainnya selalu berlebihan tidak pernah kekurangan. Pun ayam dan telurnya, kami surplus, saya pernah punya ayam sekandang, mungkin 30 ekoran, protein terpenuhi. Begitu juga Ikan, kampung kami di sepanjang aliran sungai, bawa pancing sambil mandi, seekor dua ekor dapat juga lah.

Yang jadi barang mewah buat kami adalah produk laut, kalau ikan laut jenisnya kami kenal cuma satu, “ikan padang”, baik itu kembung, hiu, lumba2 kami di gunung taunya ikan Padang, karena yang punya laut hanya Padang, ibu kota provinsi Sumatera Barat. Biasanya datangya sekali seminggu pas pasar nagari hari Rabu. Itupun kadang sudah kering sampai di kampung kami. Makanya kalau diminta sebutkan nama-nama ikan, sudah pasti kami menyerah, taunya cuma ikan padang.. ๐Ÿ˜† Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-12: Angin “limbubu” dan Perlindungan Allah.

11 April 2020 Comments off

Balai-Balai

Siapa menyangka, bumi yang kita tempati akan terkena pandemik yang memakan banyak korban, dimasa kita, ditahun 2020, setelah 100 tahun dari 1918 saat wabah Flu Spanyol juga “membersihkan” bumi ini. Corona Virus Dieses 20l9 (Covid19), memaksa kita untuk jadi pahlawan dengan bersabar untuk di rumah saja sementara.

Sudah minggu ke-4, karantina mandiri, sudah 4 minggu juga tidak Jumatan, siapa yang tak sedih, tapi harus disiplin, disiplin dan disiplin. Insya Allah dengan disiplin jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, kita jadi termasuk survivor pandemic ini.

Sekitar Tahun 1989/1980, dikampung kami Nagari Batu Baianjang, Tigo Lurah Kab Solok, Sumbar, pernah terjadi bencana angin punting beliung (cyclon) atau angin “limbubu” dalam bahasa minang. Saya masih ingat atap “balai-balai”, semacam balai tempat berkumpul orang kampung bersantai dan bercengkrama, di pertigaan jembatan dan masjid (sekarang tugu ayam kokok lenggek) diterbangkan oleh cyclon ini. Kami anak-anak yang sedang bermain saat itu bubar berlarian mencari aman. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-11: mandi darah dan kepala bertanduk

24 January 2020 Leave a comment

Angku Datuak

Saya belum sekolah, mungkin umur 5 tahun, saya ingat tapi tidak jernih. Cerita mama setelahnya sedikit menjernihkan. Kami masih tinggal di rumah gadang milik nenek dan angku (kakek) yang disekelilingnya ada pohon mangga yang banyak “karanggo” semut merah yang gigitannya bikin nangis tapi buahnya manis dan bebas ulat, pohon duren yang ditanam nenek dimana saya belum pernah coba buahnya sampai sekarang, pohon kelapa hijau yang juga ditanam angku, pohon manggis di kebun belakang yang jarang diambil buahnya dan pohon kopi arabika yang bijinya sering disangrai sendiri oleh nenek untuk jadi kopi hitam yang segar.

Menurut cerita mama dan nenek, rumah gadang ini sebenar dulu milik suku yang dijatahkan ke nenek kami. Rumah gadang minang yang termasuk paling bagus dijamannya, dengan balkon model kubah, satu-satunya saat itu. Tetapi hancur dibakar tentara pusat waktu jaman peri peri (PRRI). Cerita nenek waktu itu setelah tentara pusat akhirnya bisa masuk kampung mengejar Kolonel Ahmad Husein, semua orang kampug pergi “ijok”, mengungsi, makanya kalau orang tua-tua kampung jaman PRRI juga sering di sebut jaman Ijok. Seluruh rumah dibakar hanya ditinggalkan masjid saja. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-10: Kisah Lampu strongkeng dan papan dinding..

22 December 2019 Leave a comment

Lampu Strongkeng

Cita-cita saya jadi insinyur kemungkinan besar terinspirasi cerita-cerita papa tentang pesawat terbang, tahun 77-80an papa memang bolak balik Singapura sebagai ABK dan tentu mungkin pernah free melaut pulang ke indonesia dengan pesawat terbang. Sejak cerita itu, kalau ada pesawat nun tinggi diawan melintas kampung kami, saya selalu berlari keluar rumah sambil teriak “pesawat yang bawa papa..!!”.

Mungkin juga karena bacaan, mama saya guru, jadi yang pertama kali dapat buku kalau ada jatah buku-buku inpres. Berbagai buku dan bacaan tentang alat-alat teknik sangat membekas dalam fikiran saya, motor, mobil, sepeda, dan sebagainya. Apalagi dengan dibawa mama jalan-jalan setiap liburan, bentuk fisik yang sebelumnya cuma ada di bayangan dan buku bisa terlihat lansung.

Kreatifitas untuk meniru dan untuk selalu ingin tau tentang segala sesuatu lebih detail mulai muncul di usia-usia pandai membaca, kelas 2 SD mugkin. Saya mulai buat mobil-mobilan dari papan dengan roda sandal jepit bekas, berbagai jenis, truk, sedan, dll. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-9: Lubang kalam dan Merah Sari..

9 November 2019 Leave a comment

Eyang, Oma & Zid

22 Oktober 2019 lalu, harusnya mama 66 tahun. Semoga masih bisa berdoa untuk mama paling tidak kalau diukur umur yang sama dengan mama, 63 tahun saat berpulang, ya 24 tahun lagi la. ๐Ÿ™‚

Seperti cerita sebelumnya, bahwa kami adik beradik selalu dibawa mama piknik setiap libur sekolah, tidak pernah absen. Walau dengan jualan kerupuk leak, air moka, pelihara ayam dan sebagainya, no matter la.

Ada satu cerita dalam perjalanan yang saya tidak pernah lupa. Mungkin sekitar tahun 1989, perjalanan ke Pekan Baru dalam rangka libur naik kelas, ceritanya hadiah masih bisa juara satu. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-8: Kerupuk Leak dan air moka..

6 October 2019 Leave a comment

Karupuak leak, ilustrasi dari cookpad.com

SDN 01 Batu Bajanjang, dulu masuk Kecamatan Payung Sekaki, kemudian ada pemekaran jadi Kecamatan Tigo Lurah, Kab. Solok, Sumatera Barat, adalah tempat Mama kami mengabdi sebagai pendidik, juga tempat kami adik beradik juga sekolah. Saya masuk SD 1987 tamat 1993.

Mama kami masih muda waktu itu, sangat energik dan penuh ide untuk mencari pintu-pintu reski demi mencukupi keperluan untuk kami hidup di kampung, pekerja keras. Selain mengajar pagi hari, ke sawah siang hari, kami juga dibekali jualan yang bisa menambah uang tabungan untuk liburan.

Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-7: Mama suka raun-raun..

Raun Monumen Nasional

Mama kami juga “gadang di rantau”, besar diperantauan, keluar dari kampung untuk sekolah dan berkarir. Beliau generasi pertama dari kampung kami yang masuk ke SMP 1 Kota Solok, sekolah favorit, kemudian ke SPG dan memulai karir jadi guru juga diluar dari kampung kami.

Seingat saya, kami bertiga adik beradik selalu keluar kampung setiap libur sekolah. Walaupun masa 1987-1996 kampung kami belum bisa di lewati kendaraan roda 4, semangat untuk piknik menguatkan kami kuat berjalan kaki 8 jam baru sampai di luar keterisoliran. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-6: Setelah papa kembali..

3 February 2019 Leave a comment

Sungai Nanam, 1989

Bagaimana kehidupan kami setelah papa kembali? Normal, itulah jawabannya.

Mama Guru SD yang berpenghasilan sendiri, kalau dilihat realistis waktu itu, gaji mama lebih besar dari papa yang baru PNS golongan satu, mama waktu itu sudah golongan dua. Selama kami hidup di kampung, gaji PNS cukuplah walau tidak berlebihan. Tapi berbeda kondisi pada saat kami sudah sekolah keluar dan kuliah. Insya Allah ada cerita tersendiri nanti tentang “efisien”nya kami selama sekolah.

Nenek kami juga masih menerima pensiunan Angku (kakek) setiap bulannya. Lumayan untuk menambah dan mensupport mama dalam membesarkan kami. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan Nak bujang part-5: Hari berat mama

26 January 2019 Leave a comment

Tulisan ini lanjutan tentang cerita Mama dan Nak bujang, tiga hari lalu 23 Januri, mama genap 2 tahun kembali ke haribanNYA.

Tahun 1988 bulan Mei, beberapa hari setelah usia saya 6 tahun. Saya ingat di kampung tinggal dengan angku (kakek) dan nenek saja, sementara tidak ada mama, setelahnya, saya baru tau bahwa mama menemani papa di rumah sakit di padang, sudah beberapa minggu.

Papa memang sakit dan dirawat berkali2, momen pada saat papa di rawat karena sakit ini saya cuma ingat satu peristiwa. Yang jelas cukup lama papa dirawat di RSU Solok, karena sampai kami harus mengontrak rumah di Simpang Rumbio Solok untuk menemani perawatan papa. Momen yang saya ingat waktu itu, suatu hari saya kaget kenapa feses saya ada darahnya, rupanya saya juga tidak sehat waktu itu, setelah dewasa saya baru tau, saya terkena disentri waktu papa di rawat di RS Solok. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan Nak bujang part-4: Papa dalam bayang2 mama dan kami

9 August 2018 Leave a comment

Pak etek dan Papa

Mama dan Papa menikah berbarengan dengan adek papa, kami panggil Pak Etek Nasrul, the last papa we have. Mengakibatkan kami sepupu2an juga tumbuh bersamaan. Saya lahir duluan sebagai Abang tertua, kemudian anak Pak Etek Elsa, kemudian lahir adik saya yg kedua, Opet, setelahnya lahir anak Pk Etek yang kedua Esi, diikuti adik saya yang tercilik Kori, generasi terakhir Papa Kami Jamahar. Setelahnya disisi Pak Etek lahir adek kami Ena dan Eki.

Kampung kami medio 80-90an jauh dari keramaian, peradapan dan adat istiadat minang sangat mengakar dan digdaya di tengah belantara bukit barisan yang tersambung dari Solok sampai ke Darmasraya ini. Papa adalah salah satu yang digadang2 sebagai Datuk pemimpin suku beliau, Suku Panai. Lancar beliau petatah petitih layaknya datuk2 minang dijamannya. Begitu cerita mama, pergaulan juga luas walaupun masa muda beliau habis di perantauan. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan Nak bujang part-3: Cerita tentang nama kami.

20 April 2018 Leave a comment

Trio

Saya lahir 1981, adek yang kedua 1983, yang bungsu 1984, kata mama kalau umur papa panjang, mungkin akan satu kesebelasan.. ๐Ÿ˜€ yang sebenarnya itu juga cita-cita saya untuk bisa punya banyak anak, asyik kali, rame.. Tapi tidak kesampaian. ๐Ÿ˜Š

Cerita mama, saya lahir melalui dukun beranak, hari Jumat jam 1 siang, nama bu dukun saya lupa, salah satu dukun tokcer di kampung saya masa itu. Belum ada bidan tahun segitu di kampung kami, apalagi dokter kandungan. Saya lahir benar-benar sesuai cerita melahirkan ibu masa lalu, penuh darah dan mempertaruhkan satu nyawa yang beliau punya, perjuangan 2 hari dengan sakit yang amat sangat hilang seketika setelah tau yang hadir seganteng Papanya.. ๐Ÿ˜€

Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan Nak bujang part-2: Kisah muda mama

6 January 2018 Leave a comment

Mama remaja..

Mama sebenarnya lahir tahun 1950, sama dengan Papa, cuma karena telat masuk sekolah tahun lahir dimundurkan ย ke tahun 1953.

Mama juga lahir dan besar di kampung yang sama dengan saya lahir dan tumbuh, kami berakar berurat di nagari yang subur ini. Diminangkabau jalur kekerabatan itu dari garis ibu, kami hidup bersuku-suku yang jika dirunut akan sampai ke cerita asal muasal Minangkabau.. โ˜บ. ย Kalau dilihat dari harta pusako tinggi, berupa tanah lahan pertanian, atau lahan rumah gadang, yaitu lahan yang dibuka lansung oleh orang tua-tua dulu, mamak, datuak dari jalur ibu kemudian turun temurun diwariskan ke anak perempuan didalam suku sampai ke jaman now. Suku kami cukup berada dan terpandang.ย  Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan Nak bujang – Part 1: Prolog

23 December 2017 Leave a comment

Oma & Fa..

Perjuangan dan kasih seorang ibu..tak bertepi..

Saya mencoba merangkum perjalanan kasih saya dengan Mama sepanjang saya mengingat dan merasa, dengan satu goal nantinya, Mama berpola fikir seperti apa..dimasanya dan diakhir hidupnya, untuk kami jadikan pelajaran mengarungi kehidupan ini kedepan..

Saya lahir tahun 1981 dan dibesarkan di tengah hutan pedalaman kabupaten solok, Sumatera Barat, tempat Kolonel Ahmad Hosen melarikan diri pada saat PRRI dulu, saya masih ingat masa kecil saya dikampung itu baru ada ย “kudo beban” sebagai sarana transportasi kebutuhan pokok, TV hitam putih dilapangan kantor wali nagari jadi hiburan luar biasa pada waktu itu..saya tumbuh dengan memelihara ayam, kesawah tanam padi, ambil manggis dan mangga, nunggu jatuh duren..layaknya kehidupan dipedalaman..

Roda kehidupan selayaknya anak daerah terisolir juga dilalui dengan kondisi yang sesuai pada masa itu.. pagi hanya cuci muka, berangkat sekolah.. di kampung pada waktu itu baru ada SD..”keluar main” (jam istirahat) suka-suka, habis dengan main volley bola plastik.. Siang pulang sekolah, main disungai, mancing, main volley bola plastic satu-satunya olah raga yang bisa dilakukan, karena tidak ada lapangan luas yang bisa untuk sepak bola atau yang lainnya..magrib mengaji di surau sampai isya, habis itu tak ada lagi yang berani keluar rumah, takut di bawa hantu “aru-aru”..tidak ada listrik, hanya lampu strongkeng dan lampu teplok.. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang