
Awalan Dunia Yang Baru
Ditulis Oleh : Allifny Fathini’am Panne
Raespati Aruna itulah namaku, teman temanku biasa memanggil ku Runa. Aku adalah seorang siswi yang baru saja melepas seragam putih biru, aku adalah murid yang cukup pintar dan mempunyai tampang yang menawan itulah kata temanku. Aku akan menjadi siswi SMA besok, semua perlengkapan sekolah sudah kusiapkan malam ini. Sebuah SMA unggul di Sumatera Barat di kaki gunung Singgalang, sejuk, lebih tepatnya dingin dan asri.
Pagi hari aku bergegas untuk mandi dan dilanjut dengan sarapan, ini pertama aku menjalani rutinitas di sekolah berasrama, pagi ini hari pertamaku mengenakan seragam putih abu – abu, aku akhirnya memakai seragam ini setelah lama aku menantikannya. Sampai lah aku di depan sebuah gedung bernama SMA 1 Sumatera Barat, aku sangat senang dan sangat menanti kegiatan ku di sekolah ini. Sekolahku ini adalah salah satu sekolah terbaik di Sumatera Barat bahkan di Indonesia.
Dibalik antusiasku menyambut hari pertama mengenakan putih abu – abu, aku sedikit sedih dan gerogi, karna teman lama ku tidak satu pun ada yang bersekolah di sekolah yang sama denganku. Aku takut aku tidak akan mempunyai teman disini.
Sampai lah aku di depan kelas bertuliskan 10 IPS 2, saat aku masuk, kelas masih sepi hanya berisikan sekitar 5 murid saja. Aku masuk dengan tersenyum dan duduk di kursi bagian kiri paling belakang, setelah 5 menit aku hanya memainkan handphone ku tiba – tiba satu gadis manis berwajah minang menghampiriku.
“Haai, namo awak Naraya Almeira panggilannyo tasarah sajo, hehehe. Sia namo awak?” tanya nya dengan Bahasa Minang. “Haiii aku Raespati Aruna panggil aja Runa” jawabku. “Ondee rancak bana namonyo, baitu pulo urangnyo, rancak bana!” puji nya yang berhasil membuatku tersipu. “Sanang bisa kenal jo Runa, Bawakan sanang handaknyo. Lai buliah awak duduak siko?” tanyanya “Salam kenal juga Meei! Tentu boleh”. “Mei? Haha asiang rasonyo namotu. Sakali ko nan maimbaw bantuak iko” katanya, terlihat bingung tapi menyukai panggilan yang ku buat.
Aku sedikit kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang orang disini, tetapi aku jadi lebih mengetahui Bahasa Minang setelah kami berdua mengobrol dan saling bertanya, tak terasa kelas pun semakin penuh, sampai akhirnya bel pun berbunyi. Tiba–tiba seorang laki laki yang kelihatannya masih muda masuk ke kelas kami.
“Assalamualaikum, selamat pagi semua, saya Rusydi Kurniawan kalian bisa memanggil saya pak Udi. Saya akan menjadi wali kelas kalian selama satu semester kedepan” ucap pak Udi.
“kita akan mulai dengan perkenalan ya” sambung Pak Udi. “yang paling sudut” Pak Udi menunjuk bangku belakang paling kanan. “Saya Riki, dari Batu Sangkar Pak Udi dan teman-teman, salam kenal” Riki memperkenalkan diri. “baik, sekarang yang duduk di Tengah, samping Naraya”, akhirnya Pak Udi meminta aku untuk perkenalan. “Aku Raespati Aruna, panggil saya Runa saja, saya dari Bogor salam kenal teman teman” dengan sedikit bergetar aku mulai memperkenalkan diri “wow, dari jauh rupanya” sebuah celutkan dari bangku tengah belakang, aku tersenyum. “selamat datang di ranah minang Runa”, sambung Melli di sampingku.
Perkenalan berjalan dengan lancar, celetukan-celetukan teman-teman membuat pertemuan pertama menjadi awal yang baik untuk keakraban dan kebersamaan kami. Ya, tiga tahun kedepan kami akan Bersama-sama menimba ilmu dan menjadi yang terbaik di sekolah terbaik di Sumatera Barat ini. Sekolah yang berada dilingkungan Islami, Padang Panjang, sebuah kota kecil antara Padang dan Bukittingi, konturnya hampir sama dengan kota ku, Bogor. Di lereng gunung dan sejuk.
Tidak mudah untuk masuk sekolah unggulan ini, aku peserta test dengan nomor urut 315 dari total 630 pendaftar, sementara yang di terima hanya dua kelas, 50 orang. Test tertulis yang levelnya seperti masuk perguruan tinggi, 3 mata Pelajaran dengan soal 100 lebih,membuat kepala berasap. Alhamdulillah prestasi non akademik membantu ku menjadi peserta nomor ke-31 yang diterima. “kisah meraih asa dan cita di ranah minang bermula” gumanku sambal tersenyum sambil melihat ke jendela yang pas menampakkan gunung tandikek dan singgalang.
Matahari menyinari jendela kamar ku, pagi ini terasa sepi tidak ada suara mama ku yang lantang membangunkanku, tidak ada suara kuali yang bertemu dengan sutil dan mengeluarkan aroma yang sedap. Pagi ini adalah hari kedua ku menjadi siswi SMA. Saat sampai di sekolah aku berjalan menuju kelas ku dan berpapasan dengen Mei “Haii Runaa” sapa Mei “Haloo Meii” jawab ku, kami pun lanjut berjalan menuju kelas. Sesampai nya aku dan Mei di kelas ternyata sudah banyak murid yang datang tidak seperti hari pertamaku sekolah.
Saat kami sedang asyik mengobrol tiba-tiba “Kriiinggg” bel pun berbunyi, teman teman pun langsung kembali ke tempat duduk nya masing-masing, Pelajaran pun di mulai. Pelajaran pertama adalah IPA, aku pikir kita sudah mulai masuk materi ternyata masih perkenalan dan mengulang materi kelas 9. Guru itu menulis 3 pertanyaan di papan tulis kemudian mencari siapa yang harus menjawab pertanyaan tersebut, aku berharap bukan diriku yang ditanya “Kamu, yang paling kiri dekat tembok” aku terkejut saat posisi duduk ku di sebut “aduuh” gumamku “Iya bu” jawabku dengan keringat dingin “siapa nama mu?” “Runa bu” “Ya, Runa jawab tiga pertanyaan tersebut”, pertanyaan ini sebenarnya hanya lah pertanyaan yang hampir semua murid pasti bisa menjawab, aku berhasil menjawab 3 pertanyaan yang di lontarkan oleh guru “Ondee pandai banaa awak ko” puji Mei “Itu hanya pertanyaan biasa Meeii, kamu juga pasti bisa menjawab pertanyaan itu” jawabku sembari meyakinkan Mei.
Tak terasa Pelajaran pun berakhir, kami pulang lebih cepat hari ini. Aku dan Mei, kami berdua tidak langsung pulang kami mampir ke café dekat asrama, sesampainya di café kami mengobrol banyak hal mulai dari Mei yang kepo dengan kehidupan SMP ku dan aku yang kepo tentang kehidupan disini. Mei terkadang bertanya dan menjawab menggunakan Bahasa Indonesia dengan logat Minang, dan menurut ku itu lucu dan unik, pada masa itu lah aku mulai menyukai logat Minang.
Kami berbincang begitu lama sehingga kami berdua tidak sadar bahwa sebentar lagi akan melewati jam malam asrama, kami berdua pun bergegas keluar dari café dan berlari menuju asrama, untung nya café yang kami kunjungi jarak nya tidak terlalu jauh dengan asrama kami. Saat sampai di asrama kami berdua pun berpisah, karena di asrama ini satu kamar satu orang.
Hawa yang lembab dan matahari yang bersinar menembus jendela kamarku, itu lah suasana kamar ku hari ini. Sudah hampir sebulan lebih aku menjadi siswi SMA 1 Sumatera Barat, akhirnya aku mulai terbiasa dengan suasana ini sepi dan sejuk. Aku bergegas merapihkan tempat tidurku dan mulai menyiapkan semua perlengkapan ku.
Hari ini sedikit berbeda, kami tidak memakai seragam sekolah tetapi kami di tugas kan memakai pakaian adat, aku memilih untuk memakai kebaya sunda. Sesampainya aku di kelas, aku terkejut betapa warna warni dan mengkilap nya kelas ku….
“Wee rancak banaa ha bajunya, iko kebaya yo” tanya salah satu teman ku “Iyaa ini kebaya sunda” aku menjawab dengan setahu ku saja. Teman teman ku sangat berbeda hari ini mereka terlihat menawan, ada yang memakai baju dari Aceh, Jawa Barat dan lainnya. Lalu saat bel berbunyi kami disemua diperintahkan untuk menuju ke lapangan, aku menyadari banyak sekali keragaman Indonesia, Kami berbincang dan bermain Bersama siapa sangka aku mendapatkan teman yang ternyata dia juga dari Bogor Neta namanya, kami berdua saling bercerita kesulitan dan kebahagiaan menjadi bagian dari SMA 1 Sumatera Barat.
Minggu depan adalah ujian akhir semesterku, baru kemarin rasa nya aku diterima di sekolah ini dan menjadi anak luar kota yang tidak punya teman, tetapi sekarang aku dikenal hampir satu sekolah dan mempunyai banyak teman. Aku mengikuti sebuah organisasi sekolah yaitu OSIS aku menjadi ketua divisi di OSIS, sangat mengejutkan bukan, aku pun terkejut saat pertama kali aku melihat isi file “daftar penerimaan Osis” dan melihat nama ku terletak di posisi “KETUA BIDANG”.
Tibalah pada hari dimana semua orang tidak menunggu hari ini, ya PAS atau Penilaian Akhir Semester, Aku berfikir bahwa aku sudah bekerja keras, aku sangat berharap hasil ujian ku sebanding dengan kerja keras ku. Pelajaran pertama adalah IPS Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan ujian pertama, setelah 90 menit ujian pun berakhir seluruh murid keluar dari kelas nya untuk beristirahat, di kantin kami mencocokkan jawaban satu sama lain “itu hal normal bagi para murid bukan” fikir ku. Setelah istirahat kami lanjut pelajaran kedua yaitu Matematika, Pelajaran ketiga Bahasa Inggris. Bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan ujian hari ini, aku segera pulang dan menyiapkan untuk ujian hari kedua.
Selesai sudah usaha ku kali ini, Hari ini hari pembagian nilai ujian dan Alhamdulillah aku mendapat nilai yang sangat memuaskan aku langsung menghubungi kedua orangtua ku dan aku bisa melihat senyum lebar dari wajah mereka. Aku sangat Bahagia dan hari ini akan menjadi salah satu hari terbahagia ku.
Suara burung berkicauan langit yang berawan serta udara yang sejuk menghiasi pagi ku, hari ini hari pertama ku di semester genap. Aku berangkat sekolah dengan wajah yang sangat ceria setelah aku mendapatkan nilai yang bisa dibilang mendekati sempurna, sesampainya aku di kelas aku melihat Mei memasang wajah yang murung “Kamu ni kenapa Mei?, murung gitu mukanya seperti habis patah hati” ucapku sembari sedikit bercanda “Nilai ambo membuat ambo sedikit kecewa Run” jawab Mei dengan muka yang sedih “Nilai itu bukan segalanya Mei, bisa jadi kamu kurang berusaha” celoteh ku. “Ambo ni sudah sangat berusaha ha, tapi kenapa ya nilai ambo masi kurang sekali” jawabnya dengan Bahasa Indonesia tetapi menggunakan logat Minang “Mungkin kamu kurang mendekati diri dengan Allah, karna yang menentukan semua ini ya yang di atas Mei, kita memang harus berusaha tapi ada pentingnya juga kita mendekat kan diri kepada Allah” “Iya mungkin ya, ambo seperti nya kurang dekat dengan Allah” jawabnya setuju dengan saranku “Tarimo kasih yo Run, ambo jadi semangat lagi ko” lanjut nya sembari tersenyum.
Sudah 5 bulan sejak aku menerima hasil nilai PAS, sejauh ini cara ku belajar masih aman, pelajaran juga tidak terlalu sulit menurut ku. Minggu depan tepat nya hari senin tanggal 10 Maret 2025 kami akan berhadapan dengan PTS Semester Ganjil, aku pikir aku sudah terbiasa dengan semua ini, jadi PTA kali ini aku berfikir untuk santai saja.
PTS Semester Ganjil akan dilaksanakan hari ini, kami memulai ujian pertama yaitu IPA. Lembar pertama masih aman sampai lah aku di lembar kedua, “Duaar” itu lah isi otak ku aku benar-benar tidak paham apa yang di maksud soal itu. Sampai pada 5 menit terakhir, aku belum beres sedangkan sebagian teman ku sudah terlelap di alam mimpi. Aku sangat panik dan “Ah udahlah asal aja, apaan ya itu jawabannya” gumamku dengan panik,
Sampai lah hari dimana hari terakhir PTS, aku takut PTS hari terakhir akan seperti PTS hari-hari sebelumnya “Tidak focus”. Pikiran ku sangat berantakan kemarin, aku memikirkan bagaimana Nasib nilai ku semester ini, aku terlalu berlebihan memikirkannya sampai aku menjadi tidak focus.
Dua hari lagi hasil ujian akan di serahkan kepada kami, aku sangat takut akan melihat nilai ku yang turun. Ya benar saja, saat aku membuka lembar nilai “JREENG” seperti itu rasa nya hatiku, seharian aku merenung di sekolah. Saat sampai di asrama tiba-tiba handphone ku berdering “Iya halo maa, kenapa” sapaku dengan nada yang datar “Gimana kaa hasil ujiannyaa, pasti bagus donggg” Takut, itu pikiran ku, aku takut untuk memberitahu mama ku tentang hasil nilai ujian “Hehehe baguss laaaah” jawabku berbohong, maaf kan aku yaAllah “Waaah kereeeen anak mama” puji mama ku dengan wajah yang gembira. Setelah telefon di matikan aku langsung merenung “Aku bicara apasih tadi, kenapa bisa aku berbohong” ucap ku frustasi.
Besoknya di sekolah, Mei datang menghampiri ku “Runn benar kata kamuu, nilai aku jadi naik deeh semester inii!” kata nya sambil tersenyum lebar “Waahh..selamat ya Meii” ucap ku sedikit sedih tetapi Bahagia juga “Kamu kenapa?” aku sedikit bingung saat Mei bertanya, mungkin dia bisa melihat betapa sedihnya wajah ku. “Gapapa” jawabku singkat “Heeii ayolah ambo tau kau ni sedang tidak baik-baik saja!” “Ceritakan saja Run!” lanjutnya.
Aku bercerita kepada Mei, lalu aku sadar mengapa nilai ku bisa turun “terlalu mengampangkan” itu lah yang aku lakukan dan nilaiku menjadi turun. PTS kemarin aku merasa aku sudah bisa alhasil aku tidak belajar sama sekali, hanya membaca materi sedikit. Aku sangat menyesal tapi mau bagaimana lagi? Itu sudah berlalu, aku ingat kata Papa ku “Jangan pernah ngomong “Harusnya kemaren tu…” kita tidak akan bisa mengulang kejadian yang sudah terjadi, yang kita bisa hanya memperbaiki kesalahan itu di kebesokan hari” setelah kejadian ini, aku janji dengan diriku tidak akan pernah terlalu meremehkan Pelajaran, kalau kamu sudah merasa yakin kamu bisa Pelajaran itu, alangkah baiknya untuk meriview nya kembali.
Singkat cerita, Aku sudah kelas 11 setelah kejadian yang membuat semua nilai ku turun, aku mulai kembali belajar dengan sungguh sungguh dan serius. Universitas Indonesia adalah universitas Impian ku, pasti kalian semua bingung “Kalau ingin masukin UI mengapa bisa sampai ke Sumatera Barat? Kan bisa di Bogor saja” Justru aku masuk SMA 1 Sumatera Barat untuk UI, kata papa ku SMA 1 Sumatera Barat lulusannya banyak masuk ke UI. Aku sangat ingin sekali memakai almet kuning, minggu depan kami semua akan menghadapi PAT Penilaian Akhir tahun. Ya benar, tahun depan aku akan memakai almet kuning “semoga”, Kami semua benar benar serius kali ini, lebih serius dari sebelumnya.
Selesai sudah semua usaha ku untuk bisa sampai di titik ini, sudah dua minggu kami menyiapkan pelepasan. Minggu depan cerita kami benar benar akan selesai. Kami juga akan ada kegiatan study tour dan itu akan menjadi kegiatan terakhir di SMA.
Setelah kami semua bersenang-senang tibalah di hari dimana kami semua akan meneteskan air mata, “perpisahan” kata itu pasti sangat di benci oleh semua orang, kisah SMA ku pun berakhir di hari ini.
Alhamdulillah aku bisa menggapai cita cita ku, aku memakai almet kuning sekarang, lembar kedua pun terbuka, aku mulai menjadi mahasiswi Universitas Indonesia. Kedua orang tua ku sangat bangga dan senang kepadaku, aku berjanji akan terus berusaha dan menyelesaikan semua apa yang sudah aku mulai. Ini lah akhir dari kisah ku.
Aku menyadari bahwa semua usaha dan doa tidak ada yang sia-sia, banyak cara untuk menjadi sukses salah satu nya ialah sekolah. Walau masa SMA ku ini jauh dari orang-orang tersayang tapi semangat dan ketekunan adalah modal utama untuk menuju gerbang sukses itu. Semoga….
#uTati