Mama dan nak bujang Part-51: lulus SMP

Lulus SMP

Waktu yang ditunggu-tunggu dengan harap-harap cemas datang juga, pengumuman kelulusan SMP, bulan Mei 1996. Saya datang dari kampung khusus untuk melihat pengumuman kelulusan, juga sudah berketetapan hati untuk lanjut di STM Karya Padang Panjang, tidak jadi di STM 1 Padang.

Lulus, cuma agak sedikit kecewa, nem hanya 38, lebih rendah dari lulus SD 42. Waktu itu ada dua nilai, NEM dan STTB, yang dilihat untuk masuk sekolah lanjutan adalah NEM. Yang tertinggi 52, Hendri Umar (sekarang Kapolres Banjarmasin) dan Susi Nofrita (sekarang pejabat Pemko Solok), kalau tidak salah, nilainya ada yang sepuluh. Mereka berdua lolos di SMA Taruna Nusantara, sekolah khusus untuk anak-anak terpintar dari seluruh Indonesia.

Inferior saya kambuh saat itu, saya lansung menghilang dari kawan-kawan. Saya tidak ingat berapa lama jarak pengumuman kelulusan dengan keluarnya ijazah. Seingat saya, saya kembali ke kampung untuk persiapan pendaftaran di STM Karya Padang Panjang. Sebagian perlengkapan di kos depan stasiun juga dibawa pulang.

Sebenarnya ada latihan terakhir yang juga perpisahan di Gudep Pramuka, tapi karna sudah kadung minder, saya memutuskan tidak hadir juga. Menghilang.

Respon mama saat saya kasih tau nilai kelulusan santai saja, “tidak apa-apa bang, yang penting segera daftar ke sekolah lanjutan, nanti disana balikkan lagi, memang SMP 1 sekolah favorit, banyak teman-teman pintar”. Saat itu memang mama mendampingi dari kampung, sekalian beres-beres dan  persiapan pindah kos adek saya nomor dua, yang juga naik kelas 2 MTSN Kota Solok.

Selesai sudah kisah di SMP, juga kisah di Kota Solok, mulai dari dramatisnya saat masuk dan kecewa saat lulus. Tapi banyak cerita yang tidak mungkin lupa, termasuk kisah hampir lemas di pemandian bukik Kili, saat ikut lingkaran penguasa terminal Bareh Solok, latihan keras kungfu di masjid agung, menjadi satu-satunya yang tersisa jadi senior di Pramuka sampai kelas 3, dan kisah remaja lainnya.

Dari kisah SMP kira-kira bisa diambil pelajaran, lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan mental anak. Tidak bisa di pungkiri bahwa kapasitas masing-masing anak berbeda,  sebaiknya ketahui dulu potensi anak sebelum masuk ke sekolah lanjutan, kita orang tua tentu ingin yang terbaik buat anak, tapi belum tentu cocok dengan kondisi anak. Bisa jadi seperti yang saya alami di SMP karena ada rasa rendah diri dari awal, potensi diri tidak bisa berkembang maksimal. Tapi kisah berbeda saat saya di STM, kuliah dan dunia karir, ada di tempat yang tepat.

Hari ini tepat 8 tahun mama kembali ke haribanNYA, selagi muncul serial tulisan ini, bertanda rindu tak luntur, Alfatihah.

Bogor, 24 Januari 2025 # SewinduMamaBerpulang

 

Leave a comment