
Sepertinya pulang kampuang tahun ini terurai, tol lancar, antri kapal normal 2 jam, sampai di Merak jam 7, jam 9 sudah naik kapal, , mungkin karena sudah ada yang duluan Jumat Minggu lalu. Tidak ada pembedaan kelas kapal sekarang , semua reguler, mantap, lebih hemat dan Alhamdulillah dapat kapal eksekutif.
Tahun ini jatah Kepahiang, rute normal Bogor-Palembang, nginap semalam dan Palembang-Kepahiang, sambil pantau kondisi jalur Palembang – Betung, kalau macet, alternatif lewat Pali lagi seperti tahun lalu, info dari yang sudah lewat, beberapa jembatan yang tahun lalu masih darurat, sudah jadi permanen, cuma kondisi jalan setelah Pali masih rusak arah, alternatif saja.
Infonya tol Palembang – Betung juga sudah dibuka fungsional, kita coba kalau waktunya pas, karena hanya bisa di lalui jam 7.00-17.00, malam belum bisa. Opsi jalur lain lintas tengah lewat muara Enim, tanjung Enim.
Ini tahun ke 20 kami “pulang kampuang”, hanya terhalang 1 kali tidak pulang, pas covid. Berbagai jalur sudah dilalui, dulu sebelum tol tersambung dari Bakauheni-Palembang, jalur tengah paling sering kami lewati, karena kondisi jalan yang relatif lebih baik dari pada jalur Lintas Timur Sumatera.
Lintas tengah ada beberapa alternatif tembus jalur, tergantung tujuan, kalau ke Solok, jalur normal Muara Enim tembus ke Lubuk Linggau, tapi kalau ke Kepahiang, kami pernah lewat gunung Dempo, Pagar Alam, lewat jalur kampung lansung tembus ke Kepahiang. Juga pernah menyusuri sungai Musi ke arah hulu tembus Lubuk Linggau.
Lintas timur hanya 2 kali kami lalui, dan setiap pulang lewat timur, empat ban kami harus ganti setelah sampai di Bogor, menggembung, putus kawat. Saat lagi asyik gas, tiba – tiba lubang menganga menghadang, serasa mau runtuh itu mobil. Tapi jalur timur lebih ramai, karena bus dan truk lewat jalur ini. Lewat Palembang, Betung, Jambi, Muaro Bungo, tembus Tebo masuk Darmas Raya.
Satu jalur lain, lintas barat sumatera yang katanya memanjakan mata tapi mengucek lambung, belum sempat kami lalui sampai sekarang, jalur paling panjang, selalu tidak cocok dengan jadwal cuti yang singkat. Lewat jalur ini ke Solok, mungkin perlu 3 atau 4 kali menginap, nantilah, kalau sudah ada sopir cadangan, kita coba juga.
Mulai dari kemampuan nyetir 20 jam kecepatan 100-120 km/jam, 2 hari bisa tembus Bogor-Solok, sampai sekarang hanya kuat 8 jam kecepatan tak lebih 90 km/jam, terpaksa sambung bersambung. Kalau ke Kepahiang 1 kali nginap, tapi kalau ke Solok, 2 kali nginap. Palembang jadi pemberhentian pertama, mampir di rumah Bunda Wa. Kalau ke Solok, dari Palembang paling jauh sampai Sarolangun, kalau lintas tengah, kalau lintas timur sampai muaro Tebo, atau maksimal Muaro Bungo.
Dari anak-anak bayi, sampai sekarang sudah hampir punya sopir cadangan. Pulang Kampuang selalu menarik, dan kami memang sengaja naik darat nyetir sendiri, “road trip” 3000an kilometer, bersama, menjadi Azzam untuk merasakan hangatnya keluarga, karena satu saat nanti, dan tidak lama lagi, akan sangat susah mendapatkan kebersamaan saat seperti sekarang.
Pulang Kampuang berkah dan bahagia.
Selat Sunda, 26 Maret 2025 / 26 Ramadhan 1446 H. #mudik #pulangKampuang.