
Inilah jodoh, mungkin kita anak Adam berusaha, tetapi Allah yang menetapkan.
Buk Na, etek jahil, tapi penyambung komunikasi generasi antara ponakan-ponakan yang sama-sama Gen Z dan orang tua diatasnya. Jagalah itu, walaupun sudah harus menambah sambungan dengan keluarga yang baru.
Buk Na, satu keuntungan sebagai yang terbungsu adalah bisa melihat pelajaran dari yang sudah lalu. Bungsu mungkin yang terakhir tapi dialah sesungguhnya yang terbesar jiwanya, mencontoh dan mengambil pelajaran biasanya lebih cepat untuk matang.
Buk Na, jaga semua sambungan -sambungan yang sudah hangat. Silaturahim, hubungan “rahim”, darah, tidak akan terputus kan oleh apapun, tapi bisa jadi merenggang kalau kita tidak pupuk, suburkanlah, jaga, agar hubungan itu tetap indah seperti sebelum hubungan itu harus terbagi kini.
Buk Na, itulah jodoh, Allah telah tetapkan, kita yang menjaga. Dua hati dengan otak yang berbeda, harus di cairkan dengan banyak dialektika. Walaupun tidak harus selalu bersambung kata, kadang, kadang ya buk na, ada dialek yang tidak harus keluar dari mulut, karna bisa jadi itu jadi penyebab dinginnya hati, panasnya otak.
Buk Na, Allah ciptakan kita laki-laki dan perempuan dengan asasi yang berbeda. Laki-laki itu dilahirkan dengan karakter raja, tidak ada satupun laki-laki normal yang rela jika di tentang. Selayaknya raja, apalagi frontal, balik klepnya. Tapi wanita-nya, insya Allah akan membuat rasa Raja-merajai itu luluh, tentu dengan cara yang meninggikan harkat dan martabat junjungannya. Yakinkan diri bahwa kitalah yang tau persis pasangan kita, bukan siapapun diluar sana.
Fai, Rena itu memang yang terbungsu, tapi sama dengan semua abang dan uninya, merantau dari muda, karakternya sudah pasti mandiri, pandai-pandai dengan wanita mandiri ya. Usahakan selalu argumen yang logis dan menyentuh hati, agar wanita mandiri itu luluh.
Fai, pasti sudah mahfum ya, Rena itu adik bungsu, anak bontot, dia disayang dan di bela dari kehadirannya di dunia, sampai sekarang Fai terima tanggung jawab untuk melanjutkan itu. Kadang, kadang ini ya, manjanya si bungsu itu susah buat kita laki-laki mengerti dengan logika. Tapi sekali lagi, pesan yang sama, kitalah yang tau siapa dan bagaimana pasangan kita, bukan di luar sana, berproses lah untuk tau.
Fai, lagi-lagi, Rena itu adik bungsu dari banyak Abang, yakinlah dia terdidik paling tidak dengan melihat lansung Abang dan uninya, kalau ada yang rasanya tingkah dan kurenah dia yang kira-kira menyinggung rasa “Rajanya” Fai, rentangkan tangan siapkan dada, insya Allah semua akan baik-baik saja. Tapi, kalau saja itu tidak meredakan, ingat saja Abang dan uni nya ada.
Buk Na, Fai, berumah tangga itu kadang kala banyak tidak sesuai dengan ilmu matematika. 1×1 kadang tidak selalu 1, bisa nol atau bahkan jutaan. Pasti tidak mungkin tidak, lautan akan selalu tenang, kadang beriak, gelombang bergelora, hujan badai, setelah itu pasti juga, dia akan kembali tenang, tidak ada badai selamanya. Karnanya kalau ombak bergulung menghadang, pintasi saja, bahwa ketenangan akan datang setelahnya. Hadapi saja semua badai, jangan sedikitpun lari, nakhoda dan Mualim yang baik memang butuh gelombang untuk menjadikan mereka kuat dan tangguh.
Buk Na, Fai, selamat memulai perjalanan. Kehidupan rumah tangga itu menenangkan, itu janji Allah, selagi kita jadikan “syara’-nya” sebagai tuntunan. Aku cinta mu karna NYa. ☺️ Semoga Allah berkahi dan Rahmati.
Kepahiang, 9 April 2025 #bukNaWedding. 🥰