Berbilang 44

Berbilang 44

Jam tubuh mulai berubah, 9 malam sudah susah kelopak mata untuk terangkat, tapi 4.00 pagi, mata sudah terjaga,  subuh belumlah sampai.

Rutin lari minimal 10 km per Minggu hampir dua tahun ini,  sangat berefek baik pada kesegaran tubuh. Walau kolesterol masih di atas ambang batas dan asam urat pun turut-turut pula loncat-loncat, tapi sudah sangat jarang demam dan flu sekarang. Juga sakit kepala yang dulu rutin hadir dan harus stand by Panadol merah kemana-mana, kini alhamdulillah sudah pada kadaluarsa di dalam tas tanpa kurang jumlahnya.

Tapi, perut masihlah seperti dulu, susah kali untuk bikin agak turun dikit, kadang malu juga, masih “gapardo”, mungkin tipikal tubuh seperti itu, yang hilang paha dan lingkar pinggang, celana yang dulu sudah di taruh paling bawah sekarang bisa naik lagi, hampir 2 senti hilangnya, jauh lebih nyaman.

Yang tidak bisa dipungkiri tanda bahwa 44 tahun itu 6 tahun lagi sudah 1/2 abad, adalah putihnya kepala. Rambut tidaklah bisa lewat dari 8 mm atas dan 2 mm bagian samping lagi, kalau tidak mau terlihat seperti bulu landak, runcing kesemua sisi. “Cat yuk” mama anak-anak kerap kali membujuk, cuma putih ini membantu, percaya orang kita sudah senior 😬.

Di usia ini perubahan prioritas yang paling terasa, uni, anak pertama 2 tahun lagi kuliah, pas bersamaan, nomor dua masuk SMA dan bujang paling kecil masuk SMP, mau tak mau ada yang perlu di dahulukan, mempersiapkan support buat mereka mendapatkan pendidikan terbaik, ikhtiar itulah prioritas utama saat ini. Ya pasti, keinginan ganti ini itu tetap ada, tapi logika logis menjadikan “budget is budget”.

Rasa syukur melimpah ruah rasanya, melihat dan mendampingi mereka tumbuh, bersama, berikhtiar untuk membersamai mereka secara lansung. Di phase inilah rasanya waktu itu kok cepat sekali berlalu, belum puas rasanya momong dan dampingi si bujang yang kemana-mana berlari, sekarang dia sudah berlari bersama teamnya di lapangan. Rasanya masih terbayang si uni yang berani dan mudah bergaul dengan teman kecilnya, sekarang sudah harus bersabar teman dan sirkelnya lah yang lebih berimpak, memastikan dia ada di lingkaran yang baik jadi satu kesenangan juga. Apalagi di adek, dalam setahun jadi yang paling tinggi dari mereka bertiga, masih, cerewet dan daya “push”nya tetap bikin tidak bisa nolak.

Doa untuk keberkahan yang sudah dan akan berbilang. Menerima yang lama pergi dan menjauh, yang lain datang dan mendekat adalah realitas kehidupan. Satu politikus gahar indonesia pernah berucap “semakin tinggi posisi dunia seseorang, semakin sepi hidupnya”. Seperti ada benarnya, maka berbahagialah bagi siapapun yang merasa dirinya tidak berposisi, masih tetap di tanah, membumi. Kadang atau satu waktu rasa itu jadi kerinduan.

Semoga Allah merahmati dan memberkahi. 🤲.

Bogor, 22 Mei 2025 #6tahunJelang1/2abad

Leave a comment