
22 Juli 2025, hari kedua umrah mandiri kami. Alarm sudah di setting 2.30 pagi, tapi terbangunnya hampir jam 3, efek penyesuaian panas hari pertama. Sesuai rencana di run-down, harusnya kami sudah jalan ke masjid jam 3.00, subuh jam 4.25 waktu Makkah (WM). 3.15 kami mulai jalan ke masjid, masuk di gate 84, istri lansung masuk ke tempat shalat wanita, saya menuju jalur tawaf, lurus saja dari pintu masuk 84.
Alhamdulillah sampai azan subuh bisa menyelesaikan 7 putaran. Shalat subuh di jalur tawaf tepat di posisi hajar Aswat, lampu hijau. Jangan kawatir haus, jangan kawatir lepas wudhu’, air zam-zam ada dimana-mana. Selesai subuh kami kembali ke hotel.
Kalau semalam habis isya kami ke zamzam mall, pagi ini habis subuh istri dapat lagi tujuan baru, toserba Lulu. Posisi sebelah kanan dekat jembatan bis kalau keluar dari WC no 6. Keluar dengan senyum, lebih murah 2x dari pada toserba di zamzam tower, saya turut senang pastinya, harus on budget soalnya 😊. Kami coba transaksi dengan ATM kartu visa, setelah di hitung benar lebih murah dari pada tukar real di Indonesia. 1 real dengan kartu visa 4350, sedangkan di Indonesia 4700an.
Hari ini kami revisi sedikit rencana, istri tidak kuat kalau tawaf di lantai 2, memang jalurnya lebih panjang, seputaran sekitar 600 m, 4.2 km tujuh putaran, padahal kami sudah rencana memang banyak tawaf untuk ibadah Sunnah kami. Rencana Zuhur tetap saya tawaf di lantai 3, tetapi ashar, magrib, isya ke masjid sudah pakai ihram, agar bisa tawaf di Ka’bah. Magrib ke isya tawaf.
Istri bawa beras dan rice cooker kecil, jadi kami masak. Kebetulan mami anak-anak, adek saya yang paling kecil membekalkan rendang dari Padang, cukup lah untuk ransum. Apalagi Setelah ketemu toserba lulu, lengkap juga ada nasi kebuli disana, amanlah urusan power. Setelah makan siang, jam 10 kami berangkat ke masjid, Zuhur jam 12.27.
Alhamdulillah saya bisa selesaikan lagi tawaf 7 putaran di lantai 3, pas sebelum azan. Tidak lama kami di masjid, setelah Zuhur lansung kembali ke hotel. Rupanya ada issue di hotel, kami di kasih tau bookingnya habis dan harus check-out, rupanya baru satu hari tambahan pesanan travel visa yang di check-in kemaren. Untung balik ke hotel, rencana akan lanjut ashar, magrib dan isya tadinya, kalau tidak, bisa diambil diluar pintu barang-barang kami. Tapi setelah di urus, pesanan Traveloka untuk 22-27 Juli check in di kamar yang sama. Alhamdulillah.
Kami siap-siap untuk ashar, magrib dan isya di masjid. Saya pakai ihram, kami akan tawaf setelah magrib, begitu rencananya. Waktu ashar 3.43 dan magrib 7.04. setelah ashar di ruang shalat masjid, saya berubah pikiran, karna masih lama waktu magrib, akhirnya kami putuskan untuk tawaf dulu.
Area Ka’bah penuh total, kami turun ke jalur, matahari juga mulai hilang di tower masjid, jadi tidak terlalu panas. Alhamdulillah kami bisa selesaikan 7 putaran setengah jam sebelum isya. Perlu di ketahui, kalau mau shalat di area Ka’bah, harus datang minimal 45 menit sebelum azan, dan ikut tawaf dulu, karena saat jam shalat wajib, semua jalur masuk Ka’bah di steril, terutama buat ibu -ibu, perlu antri lebih panjang. Dengan kondisi ini, sepertinya tepat pilihan tawaf sebelum magrib, tawaf menjelang isya tidak cocok dilaksanakan, waktunya pendek.
Sedihnya, saat sudah duduk tenang 30 menit menjelang isya dan istri juga sudah dapat tempat shalat di depan Ka’bah, saya kebelet buang air kecil. Ya salam, penuh perjuangan mencari WC. Untuk sampai ke WC 8 di depan pintu 78, harus keluar dlu melalui pintu bukit Safa, masuk jalur sa’i mengarah ke belakang masjid. Kemudian berputar ke arah zamzam tower, padat dan antri. Dari WC mau masuk lagi ke area Ka’bah, perjuangannya juga tidak mudah, padahal sudah 15 menit sebelum isya, semua jalur di steril. Dari king fahat gate (79) yang harusnya lurus saja masuk Ka’bah, diputar dulu ke arah pintu 87. Alhamdulillah beberapa saat sebelum azan bisa dapat tempat pas di samping pintu keluar sa’i. Kaki gempor.
Keluar Masjidil haram setelah isya, lebih asyik lagi. Pintu 79 dibuka penuh ummat penuh berjejal dari Masjidil haram sampai ke jalan-jalan didepan hotel kami. Disinilah memang perlu di ajukan jempol dan dijadikan referensi, crowded management pemerintah Saudi, mengatur pergerakan ratusan ribu, bahkan jutaan saat haji secara bersamaan bisa aman dan lancar. Bulan Juli tidak sepi umrah, rame, padahal suhu diatas 40 derajat. Iman dan kekuatan atau fisik dan mental di uji.

Akhirnya kami tutup dengan Texas chicken porsi Saudi jam 22.00. Eh iya, satu proses belajar yang tidak masuk ke rencana persiapan, selain doa dan proses tawaf, sa’i dan tahallul, ada satu proses yang selalu, hampir selalu dilakukan setelah shalat wajib, yaitu shalat jenazah. Mengingatkan kembali, takbir pertama Al-fatihah, kedua salawat nabi, ketiga doa untuk mayit kalau bisa hafal yang paling komplet karena imam sepertinya baca yang komplet panjang, ke empat doa untuk keluarga yang di tinggal.
Istirahat, meluruskan pinggang, bersiap untuk hari ke-3.
Masjidil Haram, 22 Juli 2025 #umrahMandiri.