Pelaksanaan Umrah Mandiri hari#3

Menunggu isha

Hari ini 23 Juli 2025, sepertinya lebih sejuk, dari data cuaca benar hanya 32 derajat. Lagi-lagi terlambat dari jadwal untuk shalat subuh, dari hotel 3.25, pas azan pertama. Tapi lebih lega dari hari pertama sepertinya, juga lebih nyaman karena tidak panas seperti hari kemaren, kaca mata hitam tidak perlu di pakai subuh ini. Masuk dari pintu 84 didepan zamzam tower. Sesuai rundown hari ini subuh tidak pakai ihram, tawaf di lantai 3. Kemudian balik ke hotel, mandi, makan dan siap-siap kembali ke haram, untuk Zuhur sambung ashar, magrib dan isha, tidak pulang ke hotel, antara ashar dan magrib kembali tawaf di Ka’bah. Begitu rencananya.

Setelah subuh dan shalat jenazah, saya lansung menuju area tawaf, crowded pertemuan arus keluar dan masuk jalur tawaf lantai 2, baiknya di lewatkan 10-15 menit setelah shalat selesai, agar lebih longgar untuk masuk jalur. Alhamdulillah jam 06.28 selesai tawaf, kami janjian di pintu keluar 84 untuk lansung pulang ke hotel, tanpa mampir di toserba “Lulu lagi, “ntar malam ya, mampir ke Lulu lagi”, masih saja istri memastikan. 😌

Setelah mandi, makan dan siap-siap dengan out fit ihram lengkap agar bisa masuk pintu 79 yang hanya di izinkan khusus untuk yang berihram dan mau tawaf. Jam 10.15 kami jalan lagi menuju Masjidil haram, hari ketiga sudah dengan persiapan yang lebih matang, agar kejadian kemarin bermasalah dengan kebelet tidak terulang lagi. Zuhur jam 12.27, cukup waktu buat kami ibadah Sunnah dulu.

Dari fase persiapan, kami sudah mengidentifikasi ibadah Sunnah apa saja yang baiknya di lakukan dan di perbanyak, termasuk doa-doa yang akan di panjatkan. Disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing. Saya sudah list, ibadah Sunnah saya tawaf dan lanjutkan baca Qur’an terjemahan dan  tafsir Ibn Katsir. Shalat sunat jadi prioritas ke-2, dan zikir ke-3, tentu saja sharing di gadangdirantau.com juga masuk list. Istri juga, tetapi rupanya untuk tawaf memang butuh energi banyak, betis yang prima jugaa, akhirnya di atur, istri sekali sehari saja tawaf dan waktu paling baik ashar ke magrib di depan Ka’bah, jalur lebih pendek dari pada di jalur tawaf dalam bangunan masjid, dia perbanyak membaca Al’quran.

Menunggu masuk Zuhur, kebetulan satu pekerja proyek Masjidil haram duduk di samping saya, penasaran, maka bercerita lah menggunakan google translate, dia pemukim Saudi, tapi Pasport Yaman, lahir dan besar di sini, tapi kewarganegaraan tetap Yaman, saya penasaran kenapa lahir di Saudi tapi tidak bisa jadi warga Saudi, dia jawab “kebijakan kerajaan saja, tidak bisa otomatis”. Dia karyawan kontraktor besar Saudi Bin Laden Corp.  bagian sipil, pemasangan keramik. Jam kerja 8 jam dengan 2 jam lembur, setiap shalat 5 waktu istirahat 30 menit, jadi efektif waktu kerja 8 jam kurang 2x shalat Zuhur dan ashar, 7 jam. Saya bilang “kamu beruntung, kerja tapi bisa shalat jamaah di Masjidil haram, kami, harus biaya besar dan jauh untuk kesini”, dia tertawa dan menjawab “rasa dalam hatinya pasti kamu lebih kuat dari saya yang tiap hari disini”, ya mungkin.

Setelah Zuhur dan shalat jenazah, saya lansung turun ke jalur tawaf, kali ini saya coba jalur dalam masjid lantai 1. Rupanya lurusan pintu 79 tidak ada akses masuk jalur tawaf lantai 1, adanya masuk ke pelataran Ka’bah lansung. Terpaksa turun dulu dan bergeser ke pintu 84, untuk naik ke lantai 1. Jalur tawaf lantai 1 ini cukup crowded juga, banyak ummat yang berlawanan arus dan juga masih ada pengerjaan proyek pengembangan Masjidil haram. Tapi view ke Ka’bah jelas dan lansung, tidak seperti di lantai 2, hanya spot-spot tertentu yang bisa melihat Ka’bah.

Jam 2.00 selesai tawaf 7 putaran dan shalat Sunnah di belakang Maqom Ibrahim. Sesuai rencana respon risiko, agar tidak kebelet tidak kejadian lagi, kami lansung menuju WC. Searah dengan pintu 79, ada WC 6 untuk laki-laki dan WC 7 untuk perempuan, posisi pas di depan lurusan pintu 79, panas membara diluar, silau lantai putih harus pakai kaca mata hitam. Selesai eksekusi rencana respon risiko, kami kembali masuk masjid, dan berpisah, saya ke kiri lokasi shalat laki-laki, istri ke kanan lokasi perempuan, menunggu ashar sambil baca Quran dan progres sharing di gadangdirantau.com.

Setelah ashar ummat kembali membludak untuk melaksanakan tawaf. Sesuai rencana kami pun turun ke pelataran Ka’bah bergabung dengan ribuan ummat Islam, mulai berputar menuju titik awal tawaf hajar Aswad. Tapi sepertinya masih kesiangan, matahari masih tinggi dari atap masjid, masih panas membara, 41 derajat celsius. Putaran ke-3 ada yang tumbang,  kemungkinan pingsan dan membuat jalur melambat, kami tidak sempat berhenti, terdorong untuk terus bergerak, berputar. Alhamdulillah 5.14 selesai 7 putaran, sesuai rencana juga kami lansung menuju Al Fath, lokasi untuk shalat magrib, laki-laki sebelah kiri dan perempuan sebelah kanan, ada zamzam stand by juga bisa untuk minum dan perbarui wudhu’. Menunggu magrib.

Selesai magrib, sesuai rencana menunggu isha, cari posisi yang nyaman di pelataran Ka’bah posisi pintu Al-Fath, tetapi baru 20 menit, sempat ketiduran sebentar, sudah di usir Askar, “hajji haji  Yala Yala”. Rupanya seluruh laki-laki di suruh kedepan Ka’bah, mungkin melihat membludaknya jamaah ibu -ibu saat magrib, sementara lokasi bapak-bapak tidak penuh, konfigurasi di ubah dua lapis, bapak-bapak di depan, ibu-ibu di belakang, lagi-lagi management crowded yang bagus, 5 menit semua kembali teratur, didepan Ka’bah bebas dari jamaah ibu-ibu, berbekal pembatas yang bisa di pindah-pindah. Menunggu isha, mulai terasa tidak nyaman duduk, berdiri, duduk lagi, 1.5 jam, sepertinya kekurangan kalori, makan jam 10.00.pagi saat berangkat ke masjid, setelah itu belum makan lagi sampai isha, exhausting.

Dan benar, setelah isha setengah badan mulai dari betis sampai pinggang cenat cenut, segera menuju toserba  Lulu lagi, malam malam, sampai di hotel jam 10.15, lansung tertidur.

Makkah, 24 Juli 2025, #umrahMandiri

Leave a comment