Pelaksanaan Umrah Mandiri hari #9

Masjid Nabawi dari pintu 320

Hari ini 29 Juli 2025, hari ke 9 umrah mandiri kami. Subuh di pintu 84 lagi, subuh terakhir di Masjidil Haram untuk kesempatan umrah kali ini. Makin banyak ketemu jamaah dari Indonesia, juga hari -hari terakhir mereka setelah dari Madinah. Buat kami dan yakin juga sama dengan jamaah lainnya, suasana masjdil haram yang selalu bergerak, 24 jam tidak pernah berhenti, akan selalu dirindukan untuk kembali. 9 hari kami di Makkah, full 5 waktu sehari, Zuhur gabung ashar, magrib dengan isya, full tawaf juga setiap shalat wajib, kecuali isya. Alhamdulillah, lokasi lain Makkah yang kami tau hanya toserba Lulu, Toserba Panda, toserba Bin Dawood, Al baik dan resto lantai 5 Zamzam mall, tambah posisi WC deh 😊. Kami tidak jalan-jalan, hanya fokus bolak-balik Masjidil haram, memang begitu rencananya, dan Alhamdulillah terlaksana lancar dan syahdu.

6.30 kami bergerak turun, dari kamar lantai 21 Pullman Zamzam, turun lift ke P11 menuju loby hotel untuk check-out. Kemudian lansung ke lantai -2 untuk menuju taxi. Pakai taxi Ijarah warna hijau, ke stasiun kereta cepat Haramain 50 SAR. 20 menit kami sampai di stasiun, 07.15, kecepatan, diinfokan petugas jam 9 baru bisa naik ke platform, tiket kami jam 10.

Kedatangan taksi Stasiun Haramain Makkah, ada di B1, ada troli disana, tapi tidak gratis, sewa  5 SAR kalau mau gunakan, resmi, kami tidak jadi pakai. Lurus ke pintu masuk, sebelah kanan ada ruang ticketing, pesan tiket dan informasi kalau ada masalah dengan tiket di sini.  Ada 2 eskalator dan 4 lift untuk naik ke L1, ruang tunggu sebelum naik ke Platform. Pastikan siapkan tiket untuk di scan.

Jam 9.00 gate dibuka untuk masuk platform keberangkatan, pastikan pilih gate sesuai  dengan tujuan, sebelah kiri ke Madinah dan sebelah kanan ke kanan ke Jeddah ada lift sebelah kanan.  Kereta ke Madinah 01100 jam 10.00 tersedia di Platform 1. Kereta cepat teknologi yang sama dengan KCIC Jakarta Bandung. Makkah Madinah 300 km akan di tempuh dalam 2 jam, diperkirakan tiba di Madinah jam 12.15.

Tidak terlalu ramai, tapi gerbong 9 yang kami tempati penuh. Sedikit keterkejutan saat naik, rupanya nomor kursi 325 dan 326 tidak bersebelahan, tapi berseberangan, terpisah saya dan istri, untung penumpang di 326 mau tukar tempat, Alhamdulillah. Saya pernah naik kereta cepat yang sama beberapa kali di negara pembuatnya, China. Kesempatan pertama dari Guangzu di selatan china ke Hunan di Utara, 550 km, ditempuh dalam 2.5 jam, kecepatan maksimal sampai 425 km/jam. Kemudian dari Shengyang ke Beijing sekitar 675 km, juga dalam 2.5 jam. Haramain Makkah-Madinah maksimal kecepatan 300 km/jam, berhenti di Jeddah, kemudian lansung ke Madinah. Saya tertidur, sampai di Madinah tepat sesuai jadwal 12.15.

Desain stasiun sama dengan Makkah, jadi sudah dapat vibe dan perkiraan layout-nya. Setelah Zuhur di stasiun, kami naik taxi Ijarah lagi, lurus keluar stasiun sudah ngetem banyak taxi warna hijau, tinggal tunggu antrian jalan, ke Hotel Tulip Inn Al Dar Rawafed, sekitar 20 menit ongkos 50 SAR. Vibe Madinah sepertinya lebih welcome dari pada Makkah, lebih ramah.

Hotel Tulip Inn Al Dar Rawafed, tepat di pintu masuk masjid Nabi, sudah terlihat payung mengembang saat kami masuk dan check in Hotel, “sampai kita di Madinah” guman istri saya, tersenyum. Kami beres-beres persiapan ashar di Masjid Nabawi. Panas terasa, kalau di Makkah ada gedung-gedung tinggi yang menghalangi matahari, di Madinah rata. Kami masuk masjid dari pintu 320, pas selurus pintu hotel. Payung masjid yang viral itu sedang terkembang, cuma sayang istri sudah tidak dapat shalat di dalam masjid, sepertinya area shalat dalam masjid untuk perempuan hanya 20%, lebih banyak buat bapak-bapak, ibu-ibu di luar. Setelah ashar kami buru-buru cari makan, hanya di sumpel Al baik di stasiun Haramain, sudah terasa lapar.

Rupanya hotel kami bukan di area ekonomi, tidak ada resto yang cocok. Kami harus melintasi masjid Nabawi ke arah pintu 338, di sana taunya pusat ekonomi, oleh-oleh, makanan, mall. Ada Restoran Jakarta, RM Padang Buyung, Resto Sunda, sepertinya harus di coba besok, malam ini di Resto Jakarta Dulu, makan bakso 25 SAR, kemudian kembali ke hotel untuk persiapan magrib Isya.

Magrib, istri masih belum dapat di dalam masjid, penuh. Rencana habis magrib explore lagi area pintu 338 untuk makan malam dan “kehendak istri”, menelusuri rekomendasi IG untuk oleh-oleh efisien. Jadilah “tawaf” di seputaran jalan king abdul Azis, menjelang isya. Setelah shalat kembali ke hotel, persiapan untuk besok jam 2 kunjungan Rawdah.

Madinah lebih santui, tidak seperti Makkah yang mobile.

Masjid Nabawi, 29 Juli 2025 #umrahMandiri

Leave a comment