Pelaksanaan Umrah Mandiri hari #10

Masjid Nabi belakang Raudhah

30 Juli 2025, hari ke 10 umrah mandiri kami, hari ke 2 di Madinah. Sepertinya ada ketidaktepatan kami memilih hotel. Dekat, 200 m lansung di depan pintu 320 masjid Nabawi, tapi menyeberangi lapangan yang panjangnya 200 m itu, serasa 1 km pada temperatur 44 derajat. Kalau ada kesempatan lagi, hotel Madinah pilih di arah pintu 330 ke atas, yang paling tepat pintu 338, disana pusat kuliner, mudah cari makan.

Subuh ini Saya dapat jadwal kunjungan Raudah jam 3.30 sebelum subuh, sudah harus antri 2.50, sedangkan istri 3.45 setelah subuh. Saya duluan ke masjid jam 2, istri menyusul jam 3.00. Masuk Raudah sekarang di atur rapi, booking harus melalui aplikasi nusuk di jam yang sudah di tentukan. Jadwal bergilir antara jamaah laki-laki dan perempuan.

Antri di pintu 38, perlihatkan QR code ke petugas untuk di scan, kemudian di arahkan menunggu shalat Sunnah dan zikir di dalam masjid. Setelah group sebelumnya habis waktu baru di arahkan untuk masuk melalui pintu Bilal. Raudhah didalam masjid nabi, masjid lama yang ukurannya hanya sekitar 20 x 20 m, didepan, sementara masjid tempat shalat sudah masjid baru yang sangat luas. Satu rombongan sekitar 100 orang. Kita punya waktu untuk shalat Sunnah dan berdoa di Raudah  sekitat 20 menit, setelah itu di arahkan keluar lewat pintu 4. Karena bertepatan dengan subuh, rombongan kami diijinkan shalat subuh di Raudhah.  Alhamdulillah, merasa dekat dengan jasad Rasulullah, agak susah mencari kata-kata untuk mengekspresikan.

Pagi ini kami berencana ke Masjid Quba, naik bus Madinah, seperti jaringan busway di Jakarta. Jam 7.30 start mencari halte Bus terdekat dari hotel, ditemukan halte Al-salam. Drama terjadi, menggunakan google map di arahkan putar-putar lewat perkampungan pinggir Madinah, lewat jalan kecil antar bangunan dan proyek bangunan yang sedang dikerjakan, sampai juga sih, berpeluh tapi tidak banyak, temperatur sudah 39 derajat tapi humidity hanya 20%, kering.

Disinilah saya mendapatkan konteks pemakaian kafiyeh oleh warga Arab laki-laki, sebagai pelindung panas dan debu bahkan pasir saat berada di Padang gurun. Di Indonesia mungkin akan kurang cocok, karena humidity kita tinggi di atas 70%, akibatnya saat panas akan sangat berkeringat kafiyeh beralih fungsi menjadi handuk, akan tau sendiri aromanya. ☺️

Saat akan mau naik bus, taunya harus pakai aplikasi khusus, kami tidak bisa install, gagal. Akhirnya naik Careem, semacam Go Car, tujuan di ubah ke toserba Wow Five, hasil “penelitian” istri untuk oleh-oleh murah serba 5 Real, tidak jadi ke Quba. 😊

Karena jalan pagi yang lumayan panjang di bawah temperatur 39 derajat, energi dan mood lansung habis. Akhirnya kembali ke hotel, tertidur sampai jam 11 menjelang Zuhur. Masjid Nabawi memisahkan pintu laki-laki dan perempuan, tidak seperi di Masjidil Haram, yang di bedakan hanya tempat sholat. Di Masjid Nabawi jamaah laki-laki di depan, sisi kanan pintu 4 sampai pintu 10, sisi kiri pintu 1 mundur ke 30, sisanya untuk jamaah perempuan, jadi saya dan istri hanya barengan sampai pintu gerbang 320, setelah itu pisah cari tempat masing-masing.

Buat saya yang paling efektif dan nyaman masuk pintu 9 dan 8, Shaft pertama di belakang Multazam masjid Nabi. Istri keseringan dapat di luar, pelataran yang ada payungnya, karena tempat jamaah perempuan lebih sedikit dalam masjid. Tapi nyaman juga, ada kipas dengan air embun.

Makan siang kami menemukan restoran yang sesuai, Restoran Zaitoon, di pertokoan Taiba lantai 3, keluar dari gerbang nomor 331. Menunya nasi goreng dan ayam, satu porsi 35 SAR untuk berdua, ayamnya malah bisa di bawa pulang, banyak porsinya. Tapi tidak bisa bayar dengan kartu, harus cas. Ada ATM di lantai 2, bisa ambil dengan kartu debit yang berlogo visa atau master card, nilai tukar sekitar Rp 4500 per real, ditambah ongkos penarikan 20 ribu.

Setelah Zuhur sampai ashar kembali ke hotel dan tertidur, istri ashar tidak ke masjid. Madinah memang selayaknya tempat istirahat setelah mobilitas tinggi di Makkah. Saya mencoba cari halaqoh setelah ashar, tidak ketemu. Pulang ke hotel, saya ikut tertidur sampai jam 5.50, magrib dan isya kami gabung, waktunya agak dekat hanya 1.5 jaman, magrib jam 7.07 sementara isya 8.36. masih sempat ke Hypermarket Lulu dulu menjelang isya, lokasinya di arah pintu 318.

Setelah isya pulang ke hotel dan istirahat. Madinah kota nabi yang fibe nya seperti Jogja lah, tidak buru-buru, lebih santai. Masjid Nabawi penuh saat sholat 5 waktu, selain itu relatif longgar, tidak seperti di Masjidil Haram, 24 jam penuh  dan mobilitas tinggi.

Masjid Nabawi, 30 Juli 2025 #umrahMandiri

Leave a comment