
31 Juli 2025, hari terakhir di Madinah dan hari terakhir umrah mandiri kami kali ini. Rencana hari ini melengkapi apa yang harus di lengkapi istri sebelum pulang, pasar Madinah menunggu. Juga menyempatkan untuk mengunjungi masjid Quba.
Kami ke masjid subuh jam 3.15, sebelum azan pertama, agar istri bisa shalat di dalam masjid. Buat ibu-ibu, di Masjid Nabawi agak keras perjuangan untuk bisa shalat di dalam masjid, ramai dan penuh, minimal 1.5 jam sebelum masuk waktu shalat, walaupun jarak dari hotel hanya 200 meter.
Setelah ikut Sunnah shalat jenazah pagi ini, istri minta sampai waktu syuru’, saya sempatkan untuk keliling 360° baik luar maupun dalam Masjid Nabawi. Bagian luar mulai dari pintu 8 dan 9 khusus jamaah laki-laki, kearah depan, Raudhah, masjid nabi, ramai jamaah antri untuk masuk ke raudah. Di bagian depan searah Raudhah, berturut-turut pintu 7, 6 dan 4 bersebelahan dengan pintu keluar Raudhah, pintu 3, 2 dan pintu 1. Kalau naik ke roof top bisa dari pintu 6 A dan B. Ini semua pintu masuk laki-laki. Pintu Raudah hanya bisa di akses dari antrian nusuk.
Sebelah kanan masjid nabi, ada pintu, 41, 40, 39 pintu Bilal, kemudian berturut-turut 38 37, 36, pintu ini juga hanya untuk akses ke Raudah, bagian depan masjid. Bergerak ke ujung kanan masjid baru ada pintu 35, 34 dan 33 pintu akses jamaah laki-laki. Kemudian pintu 32, 31, 32, 30 dan 29 khusus akses jamaah perempuan, di batasi pagar tidak bisa di lalui laki-laki.
Di bagian samping kanan masjid baru dengan pelataran yang ada payungnya, mulai dari pintu 28 ke 22 merupakan akses perempuan. Pintu 20 sampai 17 kembali akses jamaah laki-laki. Pintu 16 sampai pintu 12 kembali akses jamaah perempuan, pintu 11 sampai 360° di pintu 8 kembali akses jamaah laki-laki.
Bagian dalam masjid, pintu 11 dan interseksi pintu 13, merupakan lokasi jamaah perempuan sayap kiri belakang. Pintu 21 belakang masjid bertepatan dengan pintu masuk Raudhah tapi ditutup, jadi 21 ke 38 bagian depan masjid sayap kiri, lokasi sebagian Jamaan perempuan dan antri ke Raudhah. Selain pintu di atas, semuanya lokasi shalat jamaah laki-laki.
Pintu 9 ke 21 area khusus halaqoh, banyak anak-anak mengulang kaji dengan para guru. Masuk ketengah jadi lokasi halaqoh para pemuda dan jamaah dewasa. Pagi ini ramai dengan para pembelajar. Air zam-zam juga tersedia di hampir semua sudut masjid, jadi aman hidrasi.
Total keliling Masjid Nabawi sekitar 1.6 km persegi. Berarti luas sekitar 1.2 km2. Butuh 25 menit untuk mengelilingi. Tentu lebih kecil di banding masjdil haram, juga lebih mudah di akses, semuanya satu ruangan. Beda dengan masjidil Haram yang terpisah -pisah.
Setelah Zuhur kami sempatkan untuk berkunjung ke Masjid Quba, naik Careem ongkos 21 SAR dari Hotel, panas 43° benar-benar membakar. Kami ashar alhamdulilah dapat di belakang imam, sesuatu yang impossible jika shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, tetapi penjagaan tetap ketat, 2 lapis. Dari masjid Quba kami menuju Zaitoon Resto lagi, makan sore tepatnya, sebelum magrib dan isya.
Masjid Nabawi atau Madinah keseluruhan cocok untuk rehat, walaupun cuaca panas seperti musim panas ini, tetapi tetap nyaman untuk pemulihan energi setelah di Makkah jalan kaki hampir 60 km, termasuk tawaf 4 waktu sehari. Otot paha dan betis, juga tungkai depan, mulai melemas 2 hari di Madinah. Cuma tetap sesuai pilihan realistis, travel banyak ke Madinah dulu karena lebih mudah dalam handle hotel, di Makkah lebih rumit. Menunggu sampai jam 4 untuk ratusan orang sebelum check in, jadi masalah serius, apalagi di tengah panas seperti sekarang, makanya di Madinah lebih banyak ketemu dengan jamaah asal Indonesia.
Siap-siap untuk pulang besok, menata barang dari 2 jadi 4, sesuatu juga. 😌
Masjid Nabawi, 31 Juli 2025 #umrahMandiri