Mama dan nak bujang Part-52: ke Padang Panjang

Asrama Brimob Padang Panjang

Akhirnya bulat, berdasarkan masukan Da Wi, yang saat itu masih aktif di Brimob Kompi C Padang Panjang, saya memutuskan masuk SMK Karya Padang Panjang bukan STM Negeri. Mama menyerahkan pilihan ke saya, mama tidak bisa antar untuk pendaftaran, Mak Etek Raflis menemani saya, ke asrama Brimob dulu, setelah itu akan di antar da Wi ke sekolah, yang memang pas di depan asrama, daftar dulu, cari kosan dan kembali pulang, begitu rencananya.

Dari kampung pertengahan Juni 1993 saya jalan kaki sampai Nagari Rangkiang Luluih, batas lokasi terakhir mobil 4×4 masih bisa masuk ke arah kampung kami, dari rumah ke Rangking Luluih jalan kaki sekitar 2 jaman lah. Kemudian naik mobil sampai ke Solok bisa 7-8 jam, tentu ditambah dengan dorong dan tarik. Datsun 4×4 dengan bak terbuka dibelakang, campur dengan hasil bumi. Saya di antar mama sampai ke Solok, sekalian melihat adik saya yang nomor 2, sudah naik kelas 2 di MTSn Solok.

Mak Etek Raflis sudah menunggu di kosan depan stasiun, untuk antar saya ke Padang Panjang. Saya tidak ingat tanggal pasti, kami naik mobil engkel Tanjung Jaya dari tanah garam, angkutan umum Solok-Padang Panjang terus ke Bukittinggi atau Batu Sangkar, bisa juga ke Payakumbuh. Mobil yang terkenal dengan kecepatan pelurunya. Baru saja duduk di row ke 2 dekat jendela, isi perut saya lansung berontak mau keluar semua. Saya anak kampung yang  alergi mabuk darat.

Mobil berjalan, saya paksa untuk tertidur, ya bisa, tapi hanya sampai Singkarak. Setelah terbangun, mulailah drama itu. Semua sarapan pagi keluar semua, untung sudah di siapkan beberapa kresek sebelum berangkat, tepar, habis energi dan cairan. Sampai ke simpang batu sangkar, saya masih berjuang, walau sudah tidak ada yang bisa keluar tapi perut saya masih di kocok sejadi-jadinya. Saya tertidur lagi sampai akhirnya turun di simpang lampu merah depan pesantren baru Serambi Mekah dan SMA 1 Padang Panjang, ya waktu itu belum bertukar tempat dengan SMK 1 Padang Panjang.

Pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Serambi Mekkah, dengan terhuyung karena isi perut sudah keluar semua, sejuk, itu yang terasa, dan tidak datar, itu yang terlihat. Berbeda sekali dengan Solok yang panas dan datar. Di Solok kita bisa bedakan, bahkan bisa melihat batas kaki bukit dari pusat kota, sementara dari arah lampu merah Serambi Mekah yang terlihat hanya puncak Marapi, Singgalang dan Tandikek, dalam kondisi kelaparan, saya merasakan kedamaian masuk kota ini, relate dengan kondisi kampung saya.

Waktu itu saya belum tau bahwa Padang Panjang adalah Kota Pendidikan yang mungkin boleh di setarakan dengan Jogja, tetapi di level pendidikan menengah dan lebih khusus dengan nafas Islam yang kental dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Kelak 3 tahun disini, aktif di kegiatan Pramuka, saya benar-benar tau Padang Panjang pusatnya pendidikan menengah Sumatera Barat, sekolah dan pesantren bertebaran di kota yang luasnya bisa di kelilingi 1/2 hari jalan kaki, kelak hati saya benar-benar tertambat di kota ini.

Kami ditunggu Da Wi di lampu merah  dan naik motor CB ke asrama Brimob, masuk asrama Brimob atau tentara sebelum 1998 adalah sesuatu, ada rasa deg deg ser di dada melewati pos penjagaan. Setelah makan, saya minta ijin istirahat, masih goyang karena isi perut keluar semua. Besok hari akan diantar Da Wi ke SMK Karya untuk daftar dan perkenalan Padang Panjang.

Cibis 9, 13 Agustus 2025 #mamaDanNakBujang

Leave a comment