
Masih di panggil mamanya ayang bubu, bubu ini kata yang dia bisa ucapkan awal-awal dulu untuk minta minum botol susu, melekat sampai sekarang. 10 tahun Bang Ziyad hari ini.
Kelas 4 SD sekarang, olah raga beregu memilih klub futsal sekolah, jadi rutinitas Jumat sore dan Sabtu pagi, beberapa turnamen juga sudah ikut, kiper jadi pilihan posisinya. Olahraga perorangan, Taekwondo, sabuk hijau strip sekarang. “Kelas 5 biru, kelas 6 merah, SMP udah hitam ya Yanda”. Ya dia semangat dari umur 4 tahun, 3 tahun sabuk putih, main-main sampai kelas 2 SD.
Beberapa turnamen juga ikut berpartisipasi, walaupun seringnya masih jadi “samsak”. “Gak apa-apa bang, kalau olahraga bela diri yang pilihannya Kyorugi, fighting, bertempur bang”, respon saya saat dia minta ikut Pomsae saja saat kalah di kejuaraan taekwondo panglima TNI bulan lalu. Kyorugi itu istilah fighting dan Pomsae itu penampilan jurus-jurus di Taekwondo. Minggu pagi waktunya untuk taekwondo.
Selain sekolah sampai jam 3, mengaji sampai magrib, apa lagi? Main game. Ya kami kasih ijin semua waktu senggangnya sampai jam tidur datang 9 malam, silahkan main, saya tidak batasi, biar dia puas masa anak-anaknya penuh dengan masa bermain, termasuk hari libur, dia akan selalu ditemukan dalam permainan.
Seperi itulah dia tumbuh, sebelum pandemi dulu, main di lapangan, main di arena bermain mall, disekolah, berenang, bersepeda, hari-harinya penuh dengan bermain lebih banyak ke permainan fisik. Saat covid datang, berubah, internet dan game di HP dan laptop jadi arena bermain dia. Apakah ada dampak negatif, kami melihat malah dengan puas bermain psikologisnya tumbuh dengan baik, termasuk akademik di sekolah. Masa anak adalah masa bermain.
Jaman dia tumbuh saat AI mulai menggantikan google, bahkan banyak pekerjaan yang bersifat online sudah tergantikan, terhubung dan terkoneksi. Kebutuhan primer juga mulai berubah, bukan lagi sandang, pangan papan, tapi sudah bergeser, yang pertama adalah colokan.Dengan akses network yang lebih awal terlihat ekses ke hal negatif juga terhindar.
Lingkungan sekolah dia dari TK sampai sekarang SD, juga memenuhi hasrat anak-anak yang memang penuh permainan. Semua program pembelajaran selain bernilai Islam, juga dalam pola permainan, kepemimpinan. “Sekarang Iyad wakil presiden class Yanda” infonya dua Minggu lalu, “kenapa gak presiden sekalian?” Saya respon waktu itu, “gantian la yanda” jawabnya. Satu sifat yang mungkin turun dari DNA, tidak terlalu berambisi, tetapi menyiapkan diri.
Tumbuh terus ayang bubu mama, walau di protes bunda di panggil ayang bubu, tapi mama dan mami masih setia bang. Berkembanglah sesuai dengan usiamu, proses dan perjuangan menguatkan kita, beda Yanda dan Abang cuma satu, Abang ada Yanda yang janji-janji naik gunung, belum jadi-jadi. Dulu Yanda sendiri tak ada tempat nagih janji bang. Selain itu kita sama, kita laki-laki !.
Bogor, 13 November 2025 #seDasaAyangBubuMama