Mama dan nak bujang Part-53: SMK Karya Padang Panjang

STM Karya Padang Panjang

Lupa tanggal pasti, tahun ajaran baru 1996, diantar Da Wi dan Mak Etek akhirnya mendaftar ke SMK Karya Padang Panjang. Sekolah teknik menengah swasta yang termasuk papan atas di Sumatera Barat saat itu. Sekolahnya di pinggir rel kereta Padang Panjang-Kayu tanam, Silaing Atas, simpang ke sekolah pas di depan rumah dinas komandan Brimob disamping Masjid Nurul Iman.

Semangat, itu yang terasa pertama kali sampai di sekolah, ada spanduk penerimaan siswa baru di depan kantor yang bergonjong rumah adat Minang, kantor 2 tingkat. Sebelah kiri pintu masuk, ruang kelas, sebelah kanan posisi lebih tinggi dari lapangan depan kantor, juga ruang belajar. Topografi sekolah layaknya Kota Padang Panjang, tidak datar.

Area penerimaan siswa baru di depan kantor. Ada Mading yang berisi foto-foto pelaksanaan KBM termasuk foto latihan PBB di Secata B Padang panjang, menarik. Da Wi lansung ketemu dengan Pak Jasman, wakil kepala sekolah yang “badagok” bahasa minang “tegap” dengan kumis melintang. “Yakin Anton mau sekolah di STM Karya?, bisa disiplin?” Masih ingat saya kesan pertama kali bertemu dengan almarhum, yang saya sesali tidak sempat silaturahmi sampai beliau berpulang.

Tapi agak terdiam sedikit setelah melihat biaya sekolah, Rp. 40.000, sebulan. “Jangan kawatir, ada beasiswa untuk siswa berprestasi”, sambung Pak Jasman melihat rona muka saya berubah. Ya, rasanya berat sekali beban mama nanti, biaya bukan saja uang sekolah tetapi juga biaya kos dan belanja bulanan. Karena saya sudah bilang, tidak mau tinggal di asrama Brimob.

“Kalau diterima, siap untuk botak dan ikut latihan PBB di Secata B Padang panjang seminggu ya?” Bu Asnita, admin sekolah menekankan saat menjelaskan proses penerimaan dan kegiatan awal sekolah. “Siap Buk”. Disiplin jadi daya tarik saya untuk makin kuat bersekolah di sini.

Pak Jasman mengenalkan saya dengan Pak Zuhelmi Asiz, kepala sekolah. Sama tegapnya dengan pak Jasman, kumis juga melintang dan tatapan tajam. “Kos di rumah Pak Zulhelmi saja” sambung Pak Jasman, yang rupanya sudah di ceritakan da Wi, maunya kos, tidak mau di asrama Brimob.

Setelah selesai pendaftaran dan administrasi, Pak Zuhelmi memberikan alamat rumah beliau dan janjian sore untuk melihat sekalian booking dan balik ke Solok, Guguk Malintang rumah Pak Zuhelmi searah jalan ke Solok.

Antara semangat dan sedikit bingung merenungkan biaya, yang pasti harus diskusi dulu sama mama. Saat itu saya sudah tau persis berapa mama terima gaji guru sebulan, menyekolahkan 3 anak di perantauan, adik saya nomor dua di MTSN Solok, dan yang kecil di SMP kampung. Tapi di sisi lain, saya merasa makin tepat memilih STM untuk pendidikan tinggi, sesuai dengan rencana yang dari SMP sudah di susun.

Mendaftar di STM/SMK Karya Padang Panjang, jurusan mesin produksi.

Aeon Garden City, 15 November 2025 #mama&nakBujang#53

Leave a comment