Tangkuban Perahu 14 tahun dan kini

Tangkuban Perahu

Libur sekolah anak-anak tahun ini agak susah atur waktu. Biasanya libur  periode Desember jadwal jalan dengan bunda dan pa Indo, tahun lalu rafting di Pangalengan, tahun sebelumnya ke jembatan gantung situ Gunung Sukabumi. Harusnya tahun ini ke Bromo tapi karena Bunda dan Pa Ido umrah serta mami minta undur tahun depan, ya akhirnya liburan di sempat-sempatkan, kembali ke Bandung.

Kalau ke Bandung yang agak santai, biasanya kami lewat jalur khusus, Bogor-Purwakarta-Wanayasa-Kebun teh PTPN VII-Cikole-Dago-Bandung, tidak lewat jalan tol.

Pagi ini berangkat dari Bogor setelah subuh, menuju target pertama sarapan pagi di Salbean Park Purwakarta, di jalur Wanayasa. Kemudian menuju kebun teh PTPN VII dan mampir di kopi gunung, sepertinya sudah tutup. Setelah masuk jalan raya Subang – Cikole, tiba-tiba kepikiran, ke Tangkuban perahu. Karena semua yes, belok kanan masuk ke gerbang.

Sudah lama sekali tidak kesini, terakhir saat uni Fathi umur 3 tahun, bareng Oma dan eyang, bunda dan mami anak-anak, 14 tahun lalu. Saat itu jalan akses masuk masih banyak yang rusak. 

Tiket masuk 5 orang dan mobil 200 ribuan. Naik ke atas jalan akses sudah sangat bagus, tidak terlalu ramai saat kami sampai di puncak. Sepertinya tidak ada yang berubah, hanya tambahan terminal bus yang sudah rapi dan sudah tersedia shuttle bus. Masjid masih disana, pagar pembatas sudah rapi. Kios jualan oleh -oleh juga sudah tertata rapi.

Masih sempat foto-foto sebelum kabut menyelimuti. Tak lama, 10 menit cuaca berubah, angin kencang, kabut turun pandangan tertutup dan aroma belerang menusuk hidung, kami pun turun. Kunjungan sesaat cukuplah melepas rindu setelah 14 tahun.

Kami turun ke bandung juga tidak lewat Lembang, rencana lewat dago, tapi ditutup akhirnya lewat Punclut, kali pertama, terengah-engah si hijau sehabis-habis gas. Makan siang di Warung Taburai-nya Pras teguh dan sampai di hotel pas ashar.

Siap menikmati Bandung.

PVJ, Bandung, 3 Januari 2026 #BandungMariKembali

Leave a comment