Berdua dua

Madinah Al Munawwarah

Bunda dan Pa Ido sedang enjoy Madinah, kota nabi yang cocok untuk romantis berdua-dua. “Dibawah payung eyang”, foto dan komentar bunda menerbangkan kembali angan ke 10 tahun lalu saat eyang juga memaksa ikut Oma berangkat umrah, ingin selalu berdua dua dan ke Makkah Madinah adalah perjalanan terpanjang mereka bedua dua, romantis.

Eyang dan Oma menunggu waktu untuk bercerita dengan anak dan cucu laki satu satunya, bagaimana mereka selalu bergandeng tangan, masjid nabi, kebun kurma, bahkan eyang semangat naik ke jabal Uhud, 91 tahun saat itu. Pada saat itu tidak berkesempatan untuk mengantar dan mendampingi, padahal cita cita apalagi yang paling tinggi bagi anak laki selain menggandeng tangan ibunda di tanah suci, mama dan eyang menggantikan.

Madinah memang kota romantis, berdekatan dan bermesraan mengikat hati dengan Baginda Nabi, literal dengan jasad Rasulullah. Shalat dan berlama-lama di batas raudah, cukup di batas dinding masjid nabi dan masjid baru Madinah, sudah mengentak Ngentak rasanya, apalagi di Raudah nya, tak mau beranjak rasanya kalau tidak ingat laskar mengingatkan.

Madinah kota romantis untuk berdua dua, mengelilingi masjid pagi pagi setelah dhuha tak lama, 1.2 km saja, slow living, tanpa beban. Apalagi musim musim ini, yang udaranya serasa di puncak Bogor atau di Alahan panjang, makin syahdu. Puas di masjid keluar sedikit pintu 230, kebutuhan energi pun bertebaran.

Eyang dan Oma berdua dua, bunda Pa Ido pun sama, Yanda dan Mama iya juga. Berdua dua di kota nabi dan Al-Mukarramah, selamat beribadah Bunda dan Pa Ido, sehat pergi, sehat di sana dan sehat selamat kembali sampai di rumah. Gantikan saja nanti eyang dan Oma untuk cerita. Mudah mudahan mami dan Buya pun berdua dua kelak ke kota nabi Allah.

Bogor, 23 Januari 2026 #Umrah

Leave a comment