Mama dan nak bujang Part-55: Restu ke Padang Panjang

9 tahun Oma

Sekembali dari mendaftar dan pulang ke kampung sambil menunggu jadwal mulai tahun baru sekolah, saya bercerita agak personal dengan mama, terutama tentang biaya. Agak anomali juga waktu itu, saat semua orang berusaha masuk sekolah negeri, saya dengan sadar malah memilih sekolah swasta yang menurut saya berkualitas dan disiplin. Dan sudah pasti salah satu issue adalah uang sekolah, lebih besar dari sekolah negeri, pastinya.

“Ma, uang sekolahnya 40 ribu, sementara Opet dan Kori juga sekolah, bisa mama membiayai?, kalau berat biar Abang daftar ke STM Solok saja” Saya memulai percakapan waktu itu. Saat saya masuk SLTA, adik saya nomor dua kelas 2 di MTSN Kota Solok. Karena sudah tidak dengan saya, kosannya di tumpangkan selalu mengikuti uni-uni dari Pangka Pulai, Ni Emi, Ni Marni’s, ini meneruskan startegi mama dari mulai saya kosan di Solok. Tentu biaya jadi dua sekarang, kalau sebelumnya kosan satu, makan satu, sekarang akan jadi 2.

Saya tau, saat itu mama saya hanya menerima sisa gaji 300 ribu perbulan. Kalau di hitung matematis, anggap adik saya perlu 100 ribu, saya juga mungkin perlu segitu, hanya sisa 100 ribu untuk mama di kampung dengan nenek dan adik saya paling kecil, walaupun mama bertani yang bisa memastikan untuk makan aman, cuma secara matematis kok berat rasanya. Kalau sebelumnya mama cuma mengeluarkan 100 ribu perbulan buat kami berdua di Solok.

“Bang, jangan Abang fikirkan biaya, kalau menurut Abang memang sekolahnya bagus, jalani, mama dan nenek akan berjuang, kan nenek juga ada pensiun angku yang bisa bantu bantu, yang penting Abang sekolah, setinggi tingginya” respon mama waktu itu. “Nenek terimalah 200 ribuan sebulan, bisa bantu untuk belanja di kampung” sambung mama. Ya rupanya nenek masih terima pensiun angku (kakek), saya baru ngeh, kenapa nenek selalu ke Solok sebulan sekali.

“ya ma, insya Allah. Sekolah juga ada beasiswa untuk yang terbaik, nanti Abang juga akan cari kerja -kerja sambilan untuk membantu biaya sehari hari” saya tutup diskusi saat itu, setelah mama menyampaikan lagi kisah terakhir mama ikhlas melepas papa, yaitu dengan membawa satu pesan, “sekolahkan anak saya setinggi mungkin ya Lis”, amanah itu di pegang mama dan di buktikan.

Setelah mendapat penjelasan mama hati saya tenang untuk memulai perantauan baru di Kota Padang Panjang. Setelah hitung-hitung untuk awal saya dapat jatah belanja 80 ribu saja, 40 untuk uang sekolah, 25 ribu untuk kos, sisanya untuk belanja. Untuk makan aman lah, beras melimpah.

Mulai persiapan untuk memulai kehidupan perantauan yang sedikit lebih jauh, perjuangannya bertambah dari jalan kaki rute kampung ke Solok dan melawan “lajunya” Tanjung jaya yang mengocok isi perut. Kisah di Padang Panjang adalah kisah yang akan memakan cerita sebagian besar dari cerita indah masa remaja, perubahan fisik, mental, persaudaraan dan aktualisasi energi yang kadang “gilanya” anak lelaki keluar.

Pesan mama “sekolah setinggi tingginya” terpatri. Tepat hari ini mama berpulang sudah 9 tahun, tapi kerinduan tak berujung. Alfatihah 🤲

Soka 2 Bogor, 24 Januari 2026 #9tahunOmaBerpulang

Leave a comment