
Berubahkah kita?Pertanyaan itu muncul, berubahkah kita setelah 17 tahun bersama dan kenal lebih dari 20 tahun? Jawabnya, tidak, kita tidak berubah, masih saja seperti awal ketemu 20 tahun lalu, gadis manis di “menara gading”, tinggi, tidak bisa di tolak.
Apa buktinya? Masih dengan treatment yang sama, tidak bisa ditolak, saat maunya sudah di dalam hati, harus dapat, harus bisa cium hajar Aswad, bagaimanapun caranya. Sementara diriku yang logis tetap dengan logisnya, ribuan ummat di temperatur 42 derajat, logis saja, tidak usah di paksakan. Tapi? Kehendak nya jualah yang berlaku, dan berlaku. Doanya “mangkus”.
Literalnya tidak ada yang berubah, kalau fisik rambut dan berat, tentulah kita tidak bisa melawan hukum alam, makin lama di pakai makin menuju keusangannya. Namun “diri”, mental, cara fikir cara tindak, hakikatnya sama saja. Bukan berubah, tapi tambah kurang. Layaknya iman, bertambah saat inputnya bagus dan berkurang saat masukannya berbeda.
Begitu juga kita, secara logis juga bisa berkurang, tapi layaknya iman lagi, saat dia berkurang, maka arahkan ke faktor lain yang paling tidak bisa bikin tetap. Saat lagi timbul malas mengaji, perbanyak doa dan shalat, saat shalat pas pasan, arahkan mengaji yang lebih. Satu kurang arahkan ke kebaikan yang lain.
Saat lagi berkurang interaksi karena salah satu sibuk, eh tiba tiba masakan enak banyak di atas meja, tak bicara tapi “tandas” itu semua, senyum saja cukup untuk mempertahankan yang kurang itu. Begitu juga kalau kehendak tidak dapat, ijin seret, berundur saja sebentar, pelukan 7 detik kadang cukup meluruhkan yang tersumbat di jalur jantung, lega lagi. Begitulah, tambah dan kurang.
Begitulah, tidak ada yang berubah, perasaan kita tetap sama, merasa memiliki, berhak me-ratui dan me-rajai. Ratu hakikatnya mengatur, raja hakikatnya memimpin. Makin lama bersama, DNA menyatu, perasaan itu makin terikat. Satu kerutan saja di wajah, berubah saja bentuk air muka, sudah paham ada rasa yang bisa jadi penyebab kurang tambah itu, otomatis.
Hari ini hari lahir, yang keberapa? Tak penting lah. Jangan berubah warna muka kalau dibilang “tak penting”, kadang esensinya lah yang perlu. Sesuai harapan, hendaknya Allah kabulkan tulisan dalam foto, di umur yang sekarang final tuntas, mam Professor.
Semoga Allah selalu melindungi dan merahmati, Yanda, Fa, Fey, Zid, sayaaang mama. 🥰
Soka 2, 28 Januari 2026 #HariLahirMamaProfessor.