Bukitinggi

Hari ini 7 jam dari Solok ke Bukittinggi, 5 jam sendiri dari Padang Panjang ke Bukitinggi, rencana singgah di Padang Panjang, jadi terskip. Lebaran hari ke 3 masih banyak yang liburan. “Berangsut-ansut” sampai ka Padang Lua, begitu juga dari Bukittinggi.

Sudah lama juga tidak berkesempatan mengunjungi kota kedua terbesar di Sumatera Barat ini, 8 tahun ada. Ikonnya memang jam gadang, tapi vibe masuk kota ini agak lain dari pada kota lain di Sumatra Barat. Kuliner “sambuah”, textil industri kreatif merupakan ciri khas dari lama. Yang unik, nama-nama brand cukup menarik perhatian, apalagi di sepanjang jalan Sudirman menuju jam Gadang, kosa kata Minang yang di merek-kan membuat kita ceria membacanya.

Jam Gadang setelah di revitalisasi juga makin bagus, tapi yang namanya musim liburan, tentu jangan berharap kenyamanan, penuh sesak. Sementara ibuk-ibuk cari “bros” jilbab, sopir dan asisten menikmati Bukittinggi menjelang magrib dengan segelas coklat dingin, bukan minumnya jadi tujuan, tapi tempat duduk. 😌

Banyak yang tak kesampaian karena macet, termasuk “gulai itiak lado hijau” di ngarai yang sudah di ancang-ancang dari lama, tapi tak pernah kejadian. Beberapa agenda silaturahmi juga terpaksa di skip, waktu tak cukup. Bukittinggi kota spesial, dari lama.

Jam Gadang, 23 Maret 2026. #pulkam2026

Leave a comment