Pelajaran Habibie & Ainun

Habibie dan Ainun
(Sumber: https://siapnikah.org/cari-tahu-10-dimensi-siap-nikah-dari-kisah-cinta-habibie-ainun/)

Setelah Ibu Ainun meninggal, Prof. Habibie meluapkan rasa rindu dengan menuliskan kisah tentang mereka, sehingga jadilah satu buku yang akhirnya di film kan sampai 3 sequel. Dari situlah kita tau kisah lain dari orang yang paling di cita-citakan oleh bapak-bapak seangkatan saya, seorang insinyur jenius, tak sedikit kalau di tanya mau jadi apa? Insinyur seperti Habibie. Menulis meninggalkan jejak untuk generasi setelahnya.

Kisah tentang cinta dan perjalanan hidup mereka sungguh sangat menginspirasi. Mereka mulai dengan normal dan realistis, logis, ini gaya anak-anak esakta yang tidak abstrak. “Saya akan ikut kemana Habibie pergi”, kalimat janji dan komitmen yang Ibu Ainun pegang sampai hayat memisahkan mereka. “Saya hanya butuh Ainun”, kalimat singkat Habibie yang diterjemahkan Ibu Ainun dengan kalimat diatas.

Habibie dan Ainun masa muda, adalah remaja-remaja sangat terpelajar. Kalau Prof. Habibie semua kita tau riwayat pendidikannya, Ibu Ainun juga tak kalah terpelajar, mahasiswi kedokteran UI, lulusan terbaik juga. Seorang remaja putri yang cerdas, berkarakter, tentu saja manis, makanya Habibie memanggil Ainun dengan “gula jawa”, gelap sikit tapi manis dan tentu saja sehat. 🙂

Pelajaran pertama, Habibi sangat elegan dan kepala tegak saat akan “melamar” Ainun. Kelas tinggi, karena dia sudah melihat dan menganalisa, rasa yang sama juga sudah di rasakan Ainun, jadi tinggal sampaikan dan gayung lansung bersambut. Tidak ada kisah-kisah melankonis dayu mendayu, yang ada malah patah hati penggemar Ainun yang datang dengan lebih mentereng.

Pelajaran kedua, Ainun dengan hati mantap, ikhlas, “Ainun ikut kemana Habibie pergi”. Ini gaya rumah tangga orang-orang lama, yang mungkin oleh feminis akan di tentang keras, patriarki katanya. Istri ikut suami, mendampingi, bersama-sama membangun keluarga, suami yang berusaha istri dirumah. Namun dapat pula kita lihat, saat emergency, kondisi ekonomi terpuruk, Ainun pun kembali praktek dokter di Jerman membantu Habibie, ini pentingnya wanita sekolah setinggi-tingginya kalau terjadi apa-apa dengan suami, bisa support dengan profesi yang tetap menjaga marwah wanita. Namun lagi-lagi, dengan sadar Ainun mundur karena dua buah hatinya jadi kurang maksimal diurus saat dia bekerja. Istri mengabdikan ilmunya setelah suami dan anak berangkat dari rumah dan sudah dirumah lagi saat anak dan suami pulang kerumah lagi, fokusnya ke keluarga, menjadikan ikatan mereka berdua benar-benar “bonding”.

Pelajaran ke tiga, Perjuangan Habibie sampai akhirnya menjadi wakil presiden perusahaan pembuat pesawat Jerman, tidaklah main-main. Itulah laki-laki, cinta itu diterjemahkan menjadi tanggung jawab, hilang lingkungan, hilang teman, adalah satu yang wajar, dalam berjuang memenuhi tanggung jawab, temannya ya istri. Ketenangan Habibie kalau sudah bersama dengan Ainun di gambarkan sangatlah luar biasa, apapun yang terjadi diluar sana, kembali kerumah semua kembali damai.

Dan terakhir, semua rasa saling ikhlas itu, menghadirkan satu ikatan yang membuat semua kita yang mencinta, turut bergetar. Sampai eyang Habibie benar-benar tidak bisa bangun lagi, baru terhenti kunjungan rutin beliau ke makam eyang Ainun di kalibata. Sungguh ikatan yang menjadi harapan semua pasangan suami istri. Beliau kembali menjadi role model “cita-cita”, setelah dulu beliau menjadi arah anak-anak yang ingin jadi insinyur.

Kita semua bisa juga jadi Habibie dan Ainun, dengan mengambil pelajaran..🤗

Selamat jalan Da Ed, yang ikhlas Ni Rat, bersama sampai akhir…

RS Dharmais, Jakarta, 27 Mei 2023 #kisahCintaSampai Akhir.

 

 

Leave a comment