
Di kelas 3 SMP, ada pelajaran bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang mewajibkan punya sahabat pena. Kurikulum ini sangat bagus menurut saya, tidak semua siswa bisa menulis memang, tapi bagi yang punya bakat, program ini bisa menjadi trigger. Awal mula saya suka menulis mungkin dipelajaran ini, saya punya beberapa sahabat pena yang rutin berbalas surat sampai saya di SLTA bahkan sampai saya kuliah.
Program ini dimulai dengan riset calon sahabat pena kita, bisa dari mana saja. Waktu itu media yang tersedia tidaklah seperti sekarang, diantara yang saya pakai adalah majalah, koran dan buku kuning, buku telpon yang saat itu seperti google saat ini. Ada lebih dari sepuluh orang lokal Indonesia yang saya kirim surat dan satu dari Autralia.
Yang lokal saya dibalas oleh sahabat dari Aceh, namanya mudah diingat, ibu susuan Nabi Muhammad SAW, Halimatus Sa’diah. Berbagai topik yang kami bahas saat itu, mulai dari cerita keluarga, adek kakak, sampai cerita seramnya Aceh di suasana DOM waktu itu. Dia tinggal di Banda Aceh, SMP 1 juga, hobi menulis juga. Kalau tidak salah ingat saya dapat alamat dan datanya dari majalah Bobo yang pernah memuat puisinya.
Kami berbalas surat sampai saya kuliah, belum pernah ketemu tetapi sudah serasa sahabat dekat, karena memang rutin, 2 atau 3 kali sebulan balas berbalas surat. Saya pindah STM di Padang Panjang dan kuliah di Padang, alamat selalu saya update sehingga tidak terputus komunikasi, dia masuk SMA 1 Banda Aceh dan di terima di Universitas Syah Kuala. Dari surat lewat pos sampai tahun 2000an beralih ke email. Namun setelah tsunami Aceh, saya putus kontak, email sudah tidak pernah dibalas, saya yakin sahabat saya itu jadi satu korban di Banda Aceh.
Dari luar negeri surat saya dibalas dari Adelaide, Australia Selatan, lupa namanya, murid SMP juga. Dia bisa bersurat bahasa Indonesia, rupanya disana bahasa kita jadi mata pelajaran pilihan. Jadi saya bersurat bahasa inggris bermodal kamus, dia jawab bahasa Indonesia, tapi tidak banyak kami bersurat-suratan, perangko luar negeri mahal 😁.
Punya sahabat pena dari Australia inilah awal saya punya mimpi untuk bisa keliling dunia, asyik kayaknya saat dia bercerita dia tinggal di desa punya peternakan dan ladang gandum, punya kuda dan ranch juga. Dia juga cerita tentang kondisi disekolah yang kadang bikin kesal juga, ada teman-teman yang suka membuli. Jadi terasa walaupun berbeda dari budaya dan kepercayaan kalau sudah membahas tentang nilai-nilai kemanusiaan, sayang, marah, suka, kita manusia dimanapun sama.
Saya tidak punya banyak teman dari dulu, punya sahabat pena itu menjadi hiburan tersendiri. Menunggu surat balasan, yang tidak sebentar juga waktunya menjadi penyemangat untuk segera membalas. Dan secara tidak lansung juga melatih untuk menulis yang enak dibaca oleh sahabat, satu pantun selalu saya sisipkan di setiap surat “empat kali empat sama dengan enambelas, sempat tidak sempat harus di balas” 🙂.
Sayang jaman ini anak-anak sudah tidak lagi dibatas jarak, whatapss bahkan games sudah lansung membuat mereka terhubung dimanapun dan kapanpun, selagi data dan wifi tersambung. Makanya kerinduan agak berkurang shahdunya saat ini, karena jarak dan waktu itulah yang memupuk kerinduan antar sahabat, sodara, handai tolan.
Bogor, 2 Juli 2023 #mama&NB#44