
Kredit foto : @han da https://www.facebook.com/share/p/YZCnLdApgP2KxZed/?mibextid=oFDknk
Bahasa kampung kami “sawah batingkek”, bahkan hampir semua sawah di kampung terasering, karena memang tidak ada lahan datar yang luas, hampir semua di lereng perbukitan. Istilah terasering ini bermakna positif saat ini karena jadi istilah dalam pariwisata.
Libur panjang minggu lalu, di sebuah hotel dekat bandara kertajati, Majalengka, Jawa barat. Kami menemukan terasering ini dijadikan sebagai ide utama dalam desain fasilitas hotel, mulai dari lukisan dinding yang berupa abstrak dari peta topografi sampai nama restonya terasering. Ya, Majalengka menjadikan daya tarik sawah berundak ini sebagai destinasi wisata yang bisa di jual. Memanjakan mata, apalagi saat padi menghijau.
Bali juga, menjadikan terasering di daerah Ubud sebagai jualan titik pariwisata yang masif di iklankan, dan memang bagus, apalagi didukung oleh ekosistem wisata yang bagus juga.
Selingkaran kampung kami, kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, memiliki potensi wisata satu ini, melimpah sumber dayanya. Terasering di gabung dengan wisata air, baik air terjun atau dalam bahasa minamg “timbulun” juga aliran sungai yang bisa jadi wisata arung jeram, susur sungai dan semacamnya.
Cuma memang harus dipersiapkan sistem yang mendukung untuk pariwisata ini. Kalau wisata air, aliran sungai harus di pastikan bersih dari limbah, tidak lucu, lagi main ban, atau bahasa kerennya jeram tube, taunya di sampingya ada kuning-kuning ikut berenang. 🙂. Atau lagi bernang pasti akan ada air masuk mulut, eh ada minyak atau kotoran bekas nasi cuci piring, tentu tak seru.
Mungkin dari dana desa atau kalau bisa diperjuangkan masuk program pemerintah kabupaten, pengadaan sanitasi, jamban atau toilet disemua rumah warga, terutama untuk desa-desa di hulu, agar tidak masuk ke sungai secara lansung. Karena sampai saat ini, sungai masih jadi sanitasi terpanjang yang dimanfaatkan warga, mulai dari WC, cuci piring, pakaian dan mandi dan sulit kalau hanya swadaya masyarakat untuk pengadaan sanitasi ini, harus jadi program pemerintah.
Juga harus dimasukkan kedalam program desa, bagaimana pengolahan limbah domestik, yang selama ini dibuang ke sungai, harus dibuatkan program pengolahan terpadu. Setelah semua fasilitas itu ada baru dibuatkan aturan pembuangan limbah.
Pemerintah Bali, melakukan program tersebut tahun 2005an, saya pernah terlibat proyeknya. Sistem pengolahan limbah terpadu, dimana semua limbah rumah tangga, baik WC, kamar mandi, bekas cuci, semuanya dialirkan ke pengolahan limbah sebelum dialirkan ke sungai. Efeknya, semua pantai di Kuta, Sanur, Denpasar, bersih dari limbah, menjadikan ekosistem wisatanya jadi baik.
Setelah objek wisatanya di perbaiki, yang lain akan tumbuh sendirinya. Penginapan, restoran, bahkan sampai ke paket wisatanya akan menjadi bisnis. Seperti daerah pangalengan Bandung, pemandu arung jeram jadi karir dan peluang bisnis para pemuda desa. Mereka bisa mandiri dan hidup dengan ekosistem wisata.
Terasering memberi ide dan kesejukan mata.
Bogor, 14 Feb 2024 #terasering #pemilu