“Jin buang anak”

Penginapan Annisa Muara Bengkal, Kutai Timur

Media masa, baik yang besar, abal-abal bahkan medsos semuanya lagi hangat dengan judul ini “jin buang anak”. Apa kasusnya? silahkan google sendiri. Saya pribadi punya kisah yang hampir sama dengan kontex issue ini. Ini mengenai Kalimantan, ya pulau terbesar yang kaya akan batu bara dan kandungan bumi lainnya.

Kesempatan kunjungan pertama ke Kalimantan sekitar tahun 2006,  bumi Borneo, Balik Papan, Kalimantan Timur. Kemudian berkeliling provinsi ini mulai dari Balik Papan, naik ke utara Samarinda, ibukota provinsi, Tenggarong kutai kartanegara, naik lagi keatas Bontang, dan berkeliling lebih dari 20 hari di Kutai Timur yang waktu itu Bupatinya masih Bpk Awang Faruk, yang kelak jadi gubernur Kaltim. Dalam rangka survey untuk sumber air IPA dan sistem distribusi air bersih se kabupaten Kutai Timur, yang waktu itu baru pemekaran.

Dari ibukota Kutai timur, Sangatta, berkeliling ke semua kecamatan, Wahau, Gunung Kongbeng, Miau Baru, Teluk pandan, Telen, Jukayak, Muara bengkal ada penginapan Annisa disini, kemudian naik CES (sampan kecil bermesin) di sungai Atan Kongbeng, sungai Klinjau Muara Ancalong, Mesangat, dan Sepaso. Perjalanan yang luar biasa dan membuka mata dan jiwa akan kayanya Indonesia, bagi saya anak muda yang pada saat itu memang lagi suka traveling gratis, sambil bekerja 🙂.

Apa yang saya fikirkan waktu sebelum berangkat, itulah yang saya bilang kontexnya sama dengan kasus “jin buang anak” ini. Saya mengenal kalimantan, sebelumnya hanya dari buku-buku geografi atau sejarah di sekolah. Yang sering ditampilkan tentang kalimantan adalah budaya dari saudara kita suku Dayak, yang digambarkan penuh gelang, dengan anting telinga panjang. Buat kami di minang bahkan melayu, itu “aneh”.

Dalam fikiran saya, jika masuk ke pedalaman Kalimantan, yang “aneh” itulah akan ketemu, juga cerita-cerita mistik dan “seram” dari info-info tak bertuan. Walaupun saya juga tau persis kalau yang diperkotaan sama saja, beberapa teman dari Kalimantan sudah saya kenal sejak aktif pramuka dari dulu, malah pada menawan.

Apa yang saya dapati setelah berhari-hari berkeliling Kutai Timur? Selain tentunya tambang batu bara, yang kalau pagi kita lewat jalan itu, dengan tracking GPS jalur sama, sorenya sudah tidak ada jalan, jadi lobang tambang. Juga hutan industri tak bertepi milik kiani kertas, Pak Menhan, masuk jam 7 pagi, jam 7 malam pun belum keluar dari hutan itu, sempurna luasnya.

Tapi, didaerah yang hanya bisa di akses dengan CES, perahu kecil bermesin bermuatan sampai 5 orang, jangankan listrik, air bersih pun susah, yang tinggal adalah para bidadari. Pasti pernah nonton film mandarin yang dibintangi Andi Lau, Cho Yun Fat, Jackie Chan, yang selalu didampingi oleh para bintang wanita menawan kan? seperti bintang taiwan dan hongkong itulah kira-kira mereka itu, menawan. Makanya ada rumor yang tidak bisa keluar dari kampung dayak, kalau sudah melihat anak gadis dayak, sepertinya bisa dilogiskan 🙂. Bahkan tidak bertemu satupun yang awalnya saya anggap “aneh” itu. Gadis-gadis dayak yang jelita, pemuda-pemuda yang sopan, ramah dan bersahabat, itulah yang ketemu.

Selain itu, di kalimantan tidak hanya suku dayak, di Kutai Timur mungkin mayoritas islam. Karena setiap daerah pedalaman yang saya lalui selalu ada masjid, anak-anak mengaji, bahkan di daerah Muara Bengkal penginapan tempat kami rehat bernama Annisa. Jauh dari bayangan awal sebelum berkunjung kesana.

Benarlah, Indonesia itu luas dan beragam. Selain kalimantan, hampir semua pulau besar di indonesia ini, tidak ada satupun yang hanya dihuni oleh satu suku bangsa. Mulai dari Ujung Utara sumatera, Aceh, yang kental Islamnya, ummat kristen, konghucu, hidup dengan damai. Turun ke Medan, jangan dikata, boleh di bilang seperti Jakarta kedua, semua suku ada disana. Turun ke Riau, metropolitan kaya raya karna minyak, pasti menjadi tujuan anak bangsa untuk mencari nafkah.

Sumbar, kampung saya tercinta, yang hampir 100% islam, sahabat-sahabat suku dan agama lain juga hidup sangat damai, tak pernah saya mendengar ada kerusuhan rasialis di sumbar, kecuali sentimen 1998 lalu. Jambi, yang punya suku asli anak dalam, beragam juga. Sumsel, Palembang yang dikenal dengan budaya “tuja”nya, juga daerah yang aman sekali kita berkelana disana. Turun ke ujung selatan sumatera, Lampung, saya pun punya beberapa kawan disana, metro juga tempat berkumpulnya semua anak bangsa.

Jawa, mau Banten, Jabar, Jateng, Jatim, buat kami dari sumatera hanya ada satu nama, RANTAU JAWA 🙂. Dari Anyer ke Panarukan baik jalan pantura yang dibangun Daendels, maupun tol Jawa yang dibangun dari Jaman Pak Harto dan tersambung total jaman Pak Jokowi, yang sudah saya lalui, semuanya aman, nyaman dan bersahabat, walaupun makin ketimur, makin keras logatnya, no problem. Nyebrang ke Madura, sate dan logatnya membuat kita bergelora. 1.5 bulan di Bali, berkeliling dari Kuta, ketemu Kuta lagi, pulau dengan Agama Hindu jadi mayoritas, saya pun tidak kesulitan mendapati masjid dan sapaan ramah bli-bli Bali.

Terbang ke atas, pulau Sulawesi, memang baru sampai ujung pandang, dan bili-bili, tapi paling tidak menggambarkan Sulawesi itu juga beragam, tentu suku Bugis menjadi tuan rumah yang ramah. Kalau logat, mungkin sebelas dua belas dengan Medan. Ketimur Tanah Sorong Papua, kaka kaka, mama mama, juga sangat lembut hatinya, tentu kalau pembawaan, kita yang dari minang atau sunda, perlu penyesuaian diri 🙂. Yang belum terjajaki adalah tanah jawa kecil, NTT NTB, Timor Leste, mudah-mudahan ada kesempatan untuk ke sana, tapi saya juga yakin saudara-saudara kita disana adalah manusia Indonesia seutuhnya yang baik dan bersahabat. 

Dan dimanapun itu, tanah Indonesia di jejak, tak kan dan tak mungkin tidak, ada warung padang disana, bahkan pedalaman Melak Kutai Timur sana, atau bahkan Sorong Papua sana, apalagi tanah sulawesi dan Bali, warung Padang tetap menjadi pengembali selera dan bahasa setelah lidah mulai berubah 🙂.

Memang, kalau issue seperti saat ini dibiarkan, disharmonisasi akan subur, akan sangat habis waktu dan energi kita hanya untuk minta klarifikasi. Bayangkan, kalau sahabat dari jawa, rusak kopling ditanah minang, kemudian cari servis dan bertanya “dimana pan**k kompling?”, jangankan di tunjukkan tempatnya, bisa-bisa diajak “pidato adat” berjam-jam 🙂. Jangan pula kalau di medan cari sarapan lontong sayur, panggil ibu yang jual dengan dengan “ibu lontong”, bisa barabe 🤭.

Realita memang, bahasa, logat, pembawaan, tentu saja budaya, agama kita, berbeda dari ujung Sabang ke ujung Merauke,  dari Miangas ke Pulau Rote. Tapi realita juga, sebaran bawaan dan sifat orang Indonesia itu seperti kurva normal, ada memang yang extrim kiri dan esktrim kanan, tapi sebagian besar sebenarnya ditengah, orang baik, sopan, bersahabat, cinta perdamaian dan persatuan. Harusnya kalau pengelolaan issue itu berbasis realita ini, hidup kita tentram.

Kita sudah pernah buktikan, dijaman Pk Harto, dua extrim ini di berangus, memang dengan tangan besi, negara stabil pembangunan lancar. Pun di jaman Pak SBY, dua extrim ini juga bisa dikendalikan, dalam ranah demokrasi malah. APBN Indonesia meroket dari 500an Triliun ke 2500an triliun, kelas menengah tumbuh. Demonstrasi memang marak, tapi bukan kah itu salah satu ciri negara Demokrasi?.

Bukan malah miring ke satu kutub extrem, ya akan bergejolak dimana-mana, karena tidak mungkin bhinneka ini disatukan, bagaimanapun realitasnya kita memang berbeda. Yang mungkin, bhinneka itu diberi porsi yang sama, yang adil dan yang extrim di “kendalikan”. Adil dan tampak adil, haruslah dikedepankan untuk menjaga agar kita ni’mat bernegara.

Bogor, 29 Januari 2022 #jinBuangAnak #Bhinneka #kendalikanExtrim.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s