
Kita mengambil contoh akan kehidupan berkeluarga, tentu yang pertama dari orang tua kita. Tindak lanjut dari bagaimana mereka berdua, itu akan jadi tesis kita. Bisa jadi kita berharap akan seperti mereka atau malah sebaliknya, antitesa dari bagaimana ayah ibuk kita menjalankan hari-hari bersama.
Saya pincang, dari kecil tidak pernah punya referensi itu. Papa saya kerja jauh dari rumah, jarang bertemu dan meninggalkan kami semua kembali kepadaNYA di saat saya umur 6.5 tahun. Kami tidak punya contoh kasat mata, yang kami punya hanya cerita mama. Karena itu mimpi akan sebuah keluarga, banyak di angankan sendiri.
Mulai dari mencari calon pasangan, angan saya di ijabah Allah SWT. Mengazzamkan diri sangat lama mencoba menjalankan sesuai perintahNYA, “jangan mendekati zina”. Sampai akhirnya benar-benar siap untuk mengambil tanggung jawab, secara serius pulalah mulai mem follow-up check list dan secara logis, taktis dan terhormat. Betul, jujur saya membagi hati paling tidak 4 list saat itu. Hati milikNYA tidak bisa kita dustai, yang bisa kita kendalikan adalah aksi.
Sampai akhirnya di list ke-4, terakhir. Allah SWT menakdirkan dengan indah, saya rupanya pun menjadi check list terakhir dia, nomor 11, ya salam jauh bener, rupanya pun kami sama-sama punya check list dan membagi hati, setelah saya akhirnya tau, bahwa menjadi urutan terakhir pula di lisnya dia, api membakar dada ini, antara cemburu dan jumawa, buncah dada karna saya dipilihnya sebagai “bacalon” yang tidak ada minus dalam check-listnya, cemburu karena saya tidak satu-satunya, sama dengan saya memilihnya. Misteri memang rencana Allah. 🙂↔️
Kami teman, walau tidak bisa di bilang sahabat, ya di Pramuka Sumatera Barat. Desir pertama itu mulai di tahun 2000, saat saya waktu itu memanfaatkan kekuasaan sebagai tim formatur pemilihan anggota DKD Pramuka Sumbar utusan Kota Padang Panjang, untuk puas memandangi, dari jauh, curi-curi. Dia memang manis dari dulu. ☺️
Saat itu desir-desir di dada dengan logis saya paksa padamkan, selaksa memandang putri di menara gading, saya pelanduk yang merindukan bulan. Jauh sekali, bayangkan secara logis ya, dia satu-satunya yang punya HP nokia 3310 saat itu, yang cara pakainya saja saya belum bisa, apalagi punya. Kosan saya 15 ribu sebulan, dia 300 ribu, belanja saya 3 bulan itu. Selain tentunya karena prinsip yang sudah diazamkan.
Tapi rupanya Allah SWT sudah kasih tanda-tanda yang bikin kami saling pandang dan senyum-senyum bercerita setelah halal 8 tahun setelahnya, Allah rupanya membuat hidup kami itu bersinggungan terus menerus.
HP Nokia 3310 miliknya menjadikan saya tamat D3 di Poltek Unand, judul tugas akhir “Rancang Bangun dudukan HP Nokia 3310”, saya di pinjamkan, walaupun namanya dia tidak spesial masuk dalam lembar ucapan terima kasih, masih list no. 2 saat itu. 😌
Dia pinjam carrier untuk kegiatan alam, yang saya pinjamkan adalah hasil saya minjam juga ke teman. Carrier warna hijau 60 liter, yang saya sering pakai untuk naik gunung. Baliknya penuh dengan makanan dan oleh-oleh. Sebagai anak kos kurang gizi dan kurang perhatian, tentu saya senang saat itu.
Saya secara pribadi meminta dia jadi advisor kegiatan pramuka penegak Kota Padang Panjang, Raimuna Cabang, khusus untuk membuat semangat panitia dan peserta, saat itu dia wakil ketua DKD, saya sampaikan waktu itu kalau tidak dia yang ditugaskan, tidak perlu ada advisor dari DKD, saya senang dia datang.
Saya jadikan nomor HPnya dia mentari 0815xxx, sebagai nomor kontak emergency saya waktu itu, karena memang dia yang sudah punya HP, sampai menjadi nomor kontak yang dicantumkan di CV untuk melamar kerja, saat masih di Padang, sebelum saya ke Jakarta. Padahal saat itu saya masih azzam list no 2. Aneh memang.
Sampai akhirnya berpisah di 2003, saya melangkahkan kaki ke ibu kota. Ketemu lagi 2005, setelah itu setiap apapun kegiatan kepramukaan yang dia ada disana, baik daerah maupun nasional saya selalu berusaha untuk sempatkan datang, bertemu saja, azzam juga. Diapun begitu, saya cukup rajin pulang saat wisuda adek-adek Pramuka Unand atau even-even khusus, dia selalu juga samperin, ketemu say hai, setelah itu berpisah lagi.
Semua persinggungan itu menjadi sesuatu setelah akhirnya kami sepakati 27 Juni 2008, sebagai hari H kami. Rupanya kami sama, memendam angan-angan, sejak pertama kali bertemu. Buat saya, semua persinggungan itu bukan begitu saja, tapi salah satu cara menjaga azzam.
Buat dia juga, sampai-sampai yang saya tidak jadi perhatikan, tidak terbayang sama sekali, tapi menjadi sangat spesial rasanya, setelah dia mengeluarkan satu foto, foto diatas, dengan pengakuan yang membuat saya berkata “kenapa tidak dari dulu ya, kita bersepakat, kenapa harus menunggu 8 tahun dan saya jadi lis no 11”, ☺️ “foto ini Nyng curi dari album Pramuka Unand saat berkunjung ke sanggar Fekon Jati dan Nyng simpan, ambilnya cepat-cepat agar tidak ketahuan, makanya agak sedikit terlipat” katanya sambil tersenyum, foto awal-awal kami ketemu, bertajuk 2002.
Dan 16 tahun hari ini, apa yang saya tidak dapat referensi dari kedua orang tua alhamdulillah menjadi satu kebiasaan kecil setiap berangkat dan pulang ke rumah, sejak 16 tahun lalu. Pelukan 7 detik tidak pernah alpa, yang membuat tenang. Kami sengaja show-off di depan anak-anak, bahkan kalau mereka jauh, dia akan panggil “uni, abang, liat yanda neh, yanda peluk-peluk mama!”. Pelukan yang menenangkan berangkat menjemput rezeki dan mendamaikan saat kembali kerumah.
Semoga Allah Berkahi dan berkati sepanjang hayat yang sudah di takdirkanNYA.🤲
Cibis 9 Cilandak, 27 Juni 2024 #16thAnniversary #7detik