Belahan jiwa

Ade & Fida, Pekanbaru, 5 Oktober 2024

2 hari ini tanpa sengaja melihat tepatnya menonton 2 cerita dan 1 peristiwa yang membuat jiwa semakin “bucin”. Kemaren, wafat mendadaknya artis senior Marisa Haque diberbagai media diperlihatkan betapa nelangsanya Ikang Fawzi, kepergian sang istri tersayang membuat separuh jiwa pun ikut. Itu satu peristiwa.

Kemaren, dalam perjalanan pergi pulang kantor, juga sempat menonton youtube endgame nya, bapak Gita Wirajman dengan presiden Indonesia ke-6, bapak SBY. Dipercakapan 1 jam lebih yang isinya “daging semua”, serasa dapat 4 SKS kuliah leadership. Disatu sesi menjawab pertanyaan, pak SBY menyampaikan “saya tidak sama lagi sebelum dan sesudah di tinggal Bu Ani”, beliau menceritakan betapa bersatunya jiwa mereka dan saat Bu Ani pergi, separuh jiwanya pun ikut. Pak SBY menceritakan bagaimana cara beliau move on, yaitu salah satunya dengan melukis, sejak kepergian Bu Ani, sudah 300an lebih lukisan beliau selesaikan.

Pagi ini, dalam perjalanan ke Bandara Soeta, tanpa sengaja menonton lagi video interview Presiden Indonesia ke 3, Prof BJ Habibie, menceritakan betapa hilangnya separuh jiwa beliau saat bu Ainun pergi, beliau juga menceritakan bagaimana cara beliau menjaga kenangan itu tidak pergi, selain rutin berkunjung ke makam bu Ainun di TMP Kalibata, beliau menulis buku yang akhirnya dijadikan tiga sequel film romantis dan inspiratif Ainun dan Habibie.

Berkah tuhan yang tidak terhingga kita dijodohkanNYA dengan sosok yang menjadi sosok kita juga, menjadi satu jiwa walau kadang tidak satu fikiran. Dari tiga cerita diatas kita boleh iri, betapa mereka di satukan Allah dan dipisahkan pula dengan jiwa masih bersama. Tapi yang pasti semua rasa itu tidaklah datang begitu saja, jiwa lelaki dan perempuan itu tidak bisa tumbuh organik tanpa di pupuk, mesti ada perekatnya.

Kalau kita membaca buku dan menonton film Ainun dan Habibie, serta mendengar penuturan Prof Habibie tentang bu Ainun, bisa disimpulkan bahwa yang menjadi pengikat mereka adalah “pengorbanan”. Bagaimana si pintar dan si manis Ainun melepaskan semua cita-citanya mendampingi Prof Habibie dalam keadaan apapun ke Jerman. Tak sehari pun mereka berpisah, Bu Ainun mengorbankan profesi dokter beliau untuk tetap di samping Pak Habibie, menjadi istri dan ibu dalam arti sesungguhnya. Begitupun Habibie, kita lihat hari-hari terakhir bu Ainun, tak sedetikpun Habibie beranjak dari sisi beliau.

Pak SBY pun begitu, bu Ani pun berkorban dalam arti yang indah, bagaimana mereka tidak pernah berpisah, bu Ani benar-benar menjadi ibu yang penuh kehadirannya buat AHY dan Ibas, bahkan saat SBY tugas di Timor Timur dengan kehidupan yang prihatin, bu Ani memutuskan ikut. Selalu bersama dan saling mengorbankan diri, itulah yang membuat jiwa jadi bersatu.

Kita, selayaknya “mengambil tuah ke yang menang”, mengambil hikmah pada yang tampak. Terpenting belahan jiwa, jaga dengan fitrahnya. Lelaki itu fitrahnya adalah “Raja”, kekuasaan adalah tendensinya, jangan jadikan dia hamba sahaya, lepas fitrahnya. Perempuan itu fitrahnya adalah “Ratu”, bawaan oroknya dia itu pengatur, manager, tulang rusuk, jangan jadikan dia tulang punggung, keluar juga dia dari fitrahnya. Insya Allah dalam fitrah, dua jiwa itu menyatu, selayaknya Habibie dan Ainun, SBY dan Bu Ani, Marisa dan Ikang Fawzi. Dan yang terhebat, Rasulullah dan ibunda Khadijah.

Selamat menempuh kehidupan menyatukan Jiwa Ade dan Fida, jalani proses dengan fitrah, semoga Allah Merahmati, Allah memberkahi..🤲

Jakarta-Pekanbaru, 35000 FASL #belahanJiwa #Ade&Fida

Leave a comment