
Pagi ini macet di Jl. Soleh Iskandar Kota Bogor, setelah lampu merah Yasmin, jalur harian antar Uni Feyka dan Ziyad setiap pagi. Tidak biasanya, “mungkin ada kecelakaan didepan dek”.
Dan benar, didepan pembangunan Rumah Sakit Melia, ada anak SMA bawa motor sepertinya menabrak truk tronton yang sedang parkir. Pas juga ambulan sampai, saat kami melewati lokasi, darah masih mengalir, “jangan lihat dek” pesan saya ke Feyka, “Yanda itu sepertinya kakak SMA UQ, bajunya sama”, respon Fey, “ya semoga bisa di selamatkan”. Setelah saya masuk tol Jagorawi, Fey WA “yanda, benar kakak SMA UQ. Uni Fathi menimpali “meninggal Yanda” dengan gambar belasungkawa. Innalillahi Wainna ilaihi Raji’un, “semoga ayah ibu kakak tabah” pungkas saya.
Tidak biasanya, saya agak gemeteran sampai ke kantor, bukan karna korban se usia uni Fathi, bukan juga karna membayangkan kesedihan kedua orang tuanya, bukan. Tapi karna matinya hati atau karna ketakutan dipersalahkan, tidak ada yang inisiatif satupun untuk penyelamatan, ambulan juga datang 30 menit setelah kejadian. Perkiraan kecelakaan terjadi sudah lebih dari 30 menit, korban masih di sana. Ya, umur memang ketentuan yang maha kuasa. Tapi sudah sebegitukah rasa takut kita? Hanya menonton yang kita bisa. Kalau pas kejadian lansung ada yang inisiatif bawa korban ke RS, padahal RS Hermina, RS Islam lima menit dari tempat kejadian, mungkin usaha itu akan lebih meringankan beban orang tua korban.
Kita tau sistem emergency respon kita juga masih jauh dari yang seharusnya, bayangkan, kejadian di tengah kota, dekat 2 rumah sakit, ambulan baru sampai 30 menit, sudah pasti melewati masa kritis, sudah bisa di pastikan juga, waktu yang hilang sama dengan waktu hilangnya nyawa korban. Tapi lagi-lagi sudah sedemikian takutkah kita dipersalahkan? dijadikan saksi oleh pihak berwajib? Atau mungkin dituntut hukum, atau jadi pelampiasan kemarahan keluarga korban? Kalau kita membantu?
Yang lebih parah, mungkin ada sebagian kita yang berkata “itu orang tuanya kenapa anak di kasih motor, sama dengan membunuh anak”, kita malah judge yang sedang tertimpa musibah. Okelah kalau itu begal, penjahat, mungkin masih masih masuk rasio. Ini anak SMA dengan seragam, tak satupun yang berani ambil inisiatif penyelamatan.
Inilah yang buat gemetaran tidak hilang sampai tulisan ini di buat, membayangkan bisa saja kejadian yang sama terjadi pada diri kita, keluarga kita, dan sudah bisa di perkirakan juga, akan hilang nyawa sia-sia tanpa usaha penyelamatan. Apalagi kalau itu terjadi di jalanan daerah yang bisa di pastikan juga tidak akan ada ambulan atau pertolongan medis bisa datang dengan segera, kalau di pusat kota saja 30 menit apalagi di daerah sana.
Catatan buat diri sendiri juga, semoga Allah tabahkan kedua orang tua korban. 😢
Jaksel, 24 April 2025 #emergencyRespone.