
Waktunya datang juga, setelah semua persiapan ter-eksekusi, termasuk persetujuan cuti khusus umrah sudah di setujui juga oleh direktur dan istri oleh rektor, 20 Juli kami berangkat dari Bogor menuju Soeta terminal 3. Anak-anak tinggal dengan ummi nya untuk 2 minggu, semua keperluan untuk tinggal termasuk budget belanja dan transport anak-anak juga sudah terbayarkan. Sesuai dengan analisa risiko, Bogor-Jakarta biasa padat setiap Minggu sore, kami percepat keberangkatan jam 2 siang, walaupun penerbangan pagi besok 21 Juli jam 00.40 wib.
Sampai di terminal 3 pas ashar, informasi dari Saudia, check-in buka jam 21.40 wib, cukup waktu untuk shalat magrib, isha dan makan malam. Melihat counter Saudia yang penuh untuk penerbangan jam 21.00 wib, oleh rombongan umrah sesi Juli, kemungkinan penerbangan kami juga sama, dilakukan lagi analisa risiko dan disusun respon plan-nya, jam 8 sudah stand by, sambil di cek berkala apakah sudah ada persiapan jalur check in. Benar saja, saat persiapan mulai di lakukan, ratusan koper yang check in group sudah di susun, kami juga Tarok barang dulu di posisi pertama, kemudian ditinggal menunggu jam check in.
Risiko selalu ada, paralel menunggu check-in kami mulai berkoordinasi dengan sopir yang akan menjemput di Jeddah disiapkan oleh travel visa. Dia jawab WA kami sudah menunggu 5 jam kenapa tidak datang, dia kirimkan pdf konfirmasi booking, bahasa arab, saya menggunakan aplikasi google translate diketahui salah informasi booking dari travel ke kami, yang di share ke kami tujuan Madinah, 4 orang, jelas bukan kami. Sampai kami boarding belum ada info lanjutan, kami merencanakan respon risiko, kalau memang tidak ada kembali ke rencana awal dengan Haramain, dengan claim balik pembayaran.
Jam 21.00 wib rupanya sudah buka counter check in, mungkin karena banyak di percepat, kami jadi yang pertama, check-duluan mana tau sampai duluan ☺️. Akhirnya boarding tepat waktu di gate 1C, jauh di ujung terminal 3, latihan sa’i pertama. Informasi penjemputan masih belum ada. Jam 00.40 wib 21 Juli kami terbang, 9 jam. Menurut jadwal akan landing di Jeddah jam 6.15 waktu Jeddah, waktu Saudi lebih lambat 4 jam dari Indonesia masuk UTC +3. Seduduk-nya di pesawat, saya dan istri memaksa untuk lansung tidur, karena rencana sesampainya di Makkah akan lansung tawaf, minimal bisa tidur 4-5 jam untuk menjaga stamina. Dan kami terbangun saat pembagian makan malam jam 02.00 wib, jam saya masih wib, lumayan 2 jam. Setelah makan, kami lanjut paksa tidur.
Saya terbangun saat pembagian makan besar, saya lihat jam masih jam 7.05 wib, di layar jam destinasi masih 3.05 waktu Jeddah. Sudah di atas Oman, saya lihat istri rupanya tidak tidur, malah nonton film india, hadeh, bukannya zikir dan talbiah. 😊, setelah makan saya cek waktu ke miqat masih 2 jam, karena ramai, menghindari risiko antri, saya majukan ganti ihram. Dan benar saja, setelah itu antrian cukup banyak. Menunggu masuk ya lam lam untuk niat umrah.

Kami landing lebih lambat 15 menit jam 6.30 WJ, yang di cek pertama kali adalah WA booking transportasi penjemputan, rupanya sudah ada dan sopir juga sudah stand by, Alhamdulillah. Kami keluar bandara jam 7.00 WJ, dilihat dari google maps butuh 1 jam ke hotel melalui tol. Kalimat talbiah tidak putus, sudah di coba komunikasi dengan sopir, rupanya pendiam, makanya talbiah tidak terganggu. ☺️.
Booking hotel kami confirm, tapi check-in kamar baru bisa jam 4 sore, bisa titip barang dulu, sekalian numpang cuci badan dan wudhu’ untuk mulai umrah. Temperatur 38 derajat celsius, terasa membakar kulit, dilihat data kelembaban cuma 19%, kering. Kaca mata hitam yang di rencanakan sebagai respon risiko sangat membantu.
Jam 8.15 kami mulai menuju Masjidil Haram, hotel kami bangunan pertama yang hadap-hadapan dengan ZAM ZAM tower. Ikut arah menuju pintu 79, jam 8.35 kami masuk masjid, dimulai dengan doa masuk masjid, kami ikut alur menuju Ka’bah. Doa melihat Ka’bah kami lantunkan.
8.40 kami mulai tawaf putaran pertama dari tanda hijau, lapis ke 4 dari Ka’bah, tidak bisa masuk ke lapis pertama. Putaran pertama doa khusus untuk ampunan dosa diri sendiri antara hajar Aswad dan rukun Yamani, selesai. Ummat makin banyak, kami mulai terlempar keluar. Putaran 2 doa khusus untuk ampunan kedua orang tua, air mata tak bisa di bendung, antara rukun Yamani dan Hajar Aswad sama doa sapu jagat rabbana atina, putaran 3 doa khusus ampunan untuk istri kekasih hati, putaran 4 doa khusus untuk anak-anak sibuah hati, putaran ke 5, doa khusus untuk mami dan bunda anak-anak, Tante mereka, putaran ke 6 doa rezki yang halal dan kematian yang Husnul khotimah, putaran 7, putaran khusus untuk doa pribadi dalam hati, untuk dunia. Alhamdulillah 9.26 kami menuju belakang makam ibrahim.
Shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim, alhamdullilah kami dapat tempat. Setelah itu minum air zam-zam dan menuju lokasi sa’i. Kami salah pintu keluar Ka’bah akibatnya harus lawan arus sa’i untuk menuju bukit Safa.
Takbir dan tahmid di bukit safa di ikuti doa pribadi, memulai proses sa’i. Putaran pertama dari Safa menuju marwa, ummat penuh. Tepat di sepanjang lampu hijau saya lari pace 9, istri jalan. Sampai di marwa takbir dan doa pribadi yang sama kami lantunkan, putaran kedua marwa ke Safa, saat lampu hijau istri juga ikut lari, akibatnya sampai di Safa lansung minta duduk dulu. Istirahat sebentar meringankan betis istri yang nyut-nyut kami start lagi putaran ke 3 dari Safa ke marwa, lampu hijau, start lari. Sampai di marwa, istri minta duduk lagi, mulai terasa di betis dan pinggang, “bagaimana dulu bunda hajar, panas bedengkang, kita AC saja tak kuat” , “ok lanjut “, putaran 4 , putaran 5, putaran 6 dan putaran 7 berakhir di marwa. Lansung keluar menuju tempat tahallul, potong sedikit rambut.
Kami menuju hotel lagi, saya mau full botak, sebelum ke masjid tadi sempat lihat barber shop, menuju kesana dulu. Banyak yang menawarkan sepanjang jalan. Selesai botak, Alhamdulillah, lega. Terasa juga benefit umrah mandiri, tidak perlu terlalu strick terhadap jadwal, di atur semampunya seperlunya, terasa benar saat tawaf dan sa’i. Tidak terburu-buru.
Kami sampai di hotel jam 11an, masih belum bisa check in. Perut sudah memanggil-manggil, jangan kawatir banyak makanan di sepanjang jalan. Saya dan istri tertidur di ruang tunggu hotel setelah makan. Satu keluarga yang juga menunggu, warga Banglades tapi tinggal di London, juga pasangan dari Malaysia, yang rupanya juga umrah mandiri, pertama kali juga.
Jam 2 rupanya sudah bisa check in, setelah shalat, mandi dan beres-beres kami kembali ke Masjidil haram untuk shalat ashar, panasnya terasa membakar muka, penyesuaian. Shalat ashar pintu 84, tidak boleh lagi masuk pintu 79 kalau tidak pakai ihram. Shalat di lantai 2. Sesuai rencana , saya perbanyak tawaf selama di Makkah, setiap shalat wajib saya tawaf. Sebelum Ashar hanya dapat 1 putaran, keburu azan dna iqamat. Setelah ashar kami kembali lagi ke hotel, untuk persiapan magrib dan isya.
Magrib kami sedikit terlambat, dapat tempat di roof top, tepat di depan ZAM ZAM tower, sampai isya. Perkenalan dengan saudara dari Pakistan, membuat rencana baca quran jadi teralihkan. Habis isya 21.26, istri masih ajak untuk ke zamzam tower dulu, mall setara pondok indah. Tepar sampai di hotel jam 10an.
Alhamdulillah selesai tawaf wajib hari pertama.
Masjidil Haram, 21 Juli 2025 #umrah mandiri