Closing Phase Umrah Mandiri

Bandara Hammad Doha

Akhirnya sampai juga ke fase closing, selesai sudah project umrah mandiri kami tahun ini. Sebagai perpisahan menyempatkan untuk shalat subuh di belakang kuburan nabi, belakang Raudhah, didinding pembatas antara masjid nabi dan masjid Nabawi baru, walau hanya terlihat pintu, tapi serasa dekat dan rindu. Nabi sudah kembali 1400 tahun yang lalu, tapi jasad beliau utuh sampai kelak hari berbangkit, serasa shalat di belakang nabi. Air mata  tidak tertahan, menetes.

Kami check out hotel Tulip Inn Al Darwafeed Madinah lebih cepat, jam 6.00. Menggunakan Careem menuju stasiun kereta cepat Haramain, 20 menit dari hotel. Alhamdulillah dapat mobil Camry phev terbaru yang dijadikan go car dan sopir yang baik bisa bahasa Inggris. Sampai di stasiun jam 6.30.

Sedikit kaget, sampai di stasiun membaca papan pengumuman, kereta kami sesuai tiket menuju Airport Jeddah, tapi di Billboard tujuannya Mekkah, setelah konfirmasi bagian ticket, keretanya memang tujuan akhir Makkah tetapi berhenti di semua stasiun termasuk stasiun King Abdul Azis International Air Port (KAIA) Jeddah, menunggu keberangkatan jam 10.00.

Kereta nomor 09101, gerbong 6, di peron 3. Dipanggil boarding tepat jam 9.30. kami bergegas karena proses boarding hanya 15 menit. Mungkin ini juga yang menjadi kendala, kenapa umrah dengan group travel tidak menggunakan HHR dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya, waktunya tidak cukup untuk proses load dan unload puluhan penumpang, ditambah semua barang-barang harus di bawa sendiri. Dengan kecepatan maksimal 300 km/jam, kami sampai di KAIA Jeddah jam 11.30, masih terkejar jumatan di Bandara KAIA. Tapi sayang saja, tempatnya hanya di mushalla berdempetan.

Di KAIA Jeddah, setiap pasport boleh beli zamzam 2 galon, harga satu galon 12.5 SAR. Sudah terpaking boleh di bawa dengan pesawat. Lokasi jualannya di pintu masuk lantai satu. Kami beli di pintu D1, karena dengan kereta cepat Haramain yang stasiunnya terintegrasi bandara, harus keluar dulu untuk beli, kalau ragu, tanya ke petugas yang ada.

Kami boarding Qatar Air QR1187 menuju Doha jam 19.50 waktu Jeddah,  tepat waktu, waktu Jeddah dan Qatar sama UTC +3. 1 jam 45 menit dari Jeddah ke Qatar, sampai sesuai jadwal jam 21.15. Dari garbarata turun ke gate C93 tempat GA901 yang akan membawa kami ke Jakarta jaraknya lumayan juga. Melewati taman bandara Hammad Internasional Airport yang terkenal itu, mengikuti petunjuk arah, sampai di ruang tunggu C93 sudah jam 23.15. karena lumayan jauh, bagi yang membawa lansia atau kurang sehat, minta naik baggy car saja. Memang terasa bedanya, bandara Hammad di design seperti mall bintang lima, dengan system informasi yang luar biasa efektif dan simpel, ada peta otomatis lewat scan QR code untuk menuju titik dan akomodasi apapun, keren.

Satu issue di Doha, kami tidak ada Qatar Real, rupanya pembayaran pakai kartu Visa hanya bisa di bawah jam 00.00 WIB, kami transit jam 23.00 waktu Qatar, artinya sudah jam 3 WIB, pembayaran di tolak, jadilah kami kehausan sampai naik pesawat, tidak bawa minum juga, sebenarnya ada air minum kran tersedia di beberapa tempat, tapi karena sudah mengantuk, ya sudah menunggu boarding saja.

Satu hal kenapa saya memilih transit di Qatar, sebagaimana ditulis sebelumnya, adalah keberpihakan Qatar ke Palestina dan Gaza, disini home base nya Al Jazeera. Dan benar saja, selama di Saudi saya tidak pernah melihat berita-berita yang menggambarkan secara lugas genocide dan kelaparan di Gaza.  Di Qatar, melalui Al Jazeera TV semuanya di sampaikan dengan gamblang. Keberpihakan.

Jam 1.15 waktu Doha kami boarding, Qatar Air kerja sama dengan Garuda untuk Doha-Jakarta, naik bus, bukan garbarata, mmm. Satu foreigner di depan kami berceloteh “what, Garuda. Oh no”. Dan memang terasa, perbandingannya Qatar Air sudah seperti zenix terbaru yang ruang kaki luas, dengan infotainment terkini. Sedangkan Garuda masih Innova reborn, ya nyaman tapi mulai terlihat jadul dan sempit. Tapi bagaimanapun di layani bahasa Indonesia dan menu makan kita, jadi nilai plus juga. Saya dan istri kebanyakan tidur dari Doha-Jakarta, memang sudah pagi.

11.12 waktu Doha atau 15.12 WIB, kami mendarat di terminal 3 Soeta, yang harus di lakukan isi laporan imigrasi lewat https://allindonesia.imigrasi.go.id/, scan QR code saja, pastikan semua barang yang dibawa di laporkan, baik yang masuk bagasi maupun yang di tenteng untuk menghindari masuk jalur merah imigrasi. Bagasi kami, air zam-zam hilang satu, Garuda mengganti dengan stok yang mereka punya.

Dan kejadian lagi, saat keluar imigrasi passport saya tidak bisa di scan oleh mesin e-imigrasi, sedangkan istri lancar, akibatnya harus antri lagi 30 me nit. Padahal di Jeddah dan Qatar, dulu juga di Beijing, lancar saja, seperti mesin e-imigrasi yang di pasang di Soeta kurang canggih. Keluar bea cukai juga lancar.

Keluar arah taxi, taunya troli di T3  hanya bisa sampai batas jalan dalam, tidak bisa sampai ke taxi biasa di depan, rupanya taxi bluebird mereka siapkan troli khusus, simple tapi sangat membantu buat pelanggan. Akhirnya sebelum isya kami sampai kembali di rumah. Alhamdulillah.

Beberapa lesson learn dan analisa risiko akan ditulis di satu tulisan penutup.

T3 Soeta, 2 Agustus 2025 #umrahMandiri

Leave a comment