Perjalanan selagi sehat

Berkelana selagi sehat

“Berkelana-lah sebelum sakit pinggang datang dan mata tak lagi nyalang”

Waktu tidak bisa mundur, kenangan indah hanya akan ada jika kita yang membuatnya. Perjalanan hidup adalah satu tiket pergi tanpa kembali, nikmatilah setiap masanya selagi masa itu ada. Nikmati repot nya mengajak anak-anak berkelana saat masa kecilnya. Bawa dan dampingi perjalanan anak-anak saat remaja melewati baligh-nya. Buatlah kenangan, karena kelak, katanya, kenangan itulah yang membuat hidup tetap hidup.

Aturlah kelapangan ,belilah kendaraan selagi pinggang dan mata masih nyalang, kelak kalau kedua itu sudah masanya meredup, keinginan berkelana hanya tinggal kemauan. Masa-masa bisa nyetir 24 jam, hanya ada diumur 30-38 tahun, setelah itu akan berkurang menjadi 12 jam dan berkurang lagi jadi 8 jam setelah umur 43 tahun. Itu nyata, pengalaman sendiri.

Kami, termasuk yang menabung setahun untuk habis dalam setiap setahun juga. Paling tidak 3000 km, setiap tahun untuk pulang kampung, sejak 15 tahun lalu. Berkelana sampai ke ujung Jawa dan Sumatra, semampunya. Sejak anak masih dalam kandungan sampai kini sudah para remaja, kami masih berkelana.

Kendaraan pertama 250.000 kM, dalam 4 tahun, kendaraan kedua 165.000 kM dalam 4 tahun juga, kendaraan ke tiga dan empat, satu 125.000, satu 150.000 km, total 275.000 km dalam 5 tahun. Kendaraan memang untuk berkelana. Kalau dihitung sudah bolak -balik ke bulan.

Mulai dari perjalanan yang di tunggu anak-anak dengan semangat, ke gunung, ke pantai, staycation di hampir semua hotel seantero Jabodetabek dan Jawa Barat sampai ke Banten, sampai anak-anak sudah mulai memilih untuk ikut. Nyetir sendiri, sampai kini sudah hampir punya sopir cadangan. Berkelanalah

Aeon Sentul City, 27 September 2025 #perjalanan

Leave a comment