
Mungkin hadis ini yang di jadikan dasar tuduhan bahwa Surga itu gambarannya lebih untuk laki-laki, Maskulin. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, saat membahas Surat ke 19, Maryam ayat 85. Beliau mengetengahkan satu riwayat dari Ibnu Abu Hatim, sebuah hadis yang garib sekali secara marfu’ dari Ali.
Ia mengatakan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan Malik ibnu Ismail An-Nahdi, telah menceritakan kepada kami Maslamah ibnu Ja’far Al-Bajali; ia pernah mendengar Abu Mu’az Al-Basri mengatakan bahwa pada suatu hari Ali berada di rumah Rasulullah S.A.W, maka Rasulullah S.A.W membaca firman-Nya: (Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang- orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. (Maryam, [19:85])
Maka Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, menurut hematku utusan itu tiada lain datang dengan berkendaraan.” Rasulullah S.A.W menjawab melalui sabdanya, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya mereka apabila dibangkitkan dari kuburnya masing-masing langsung disambut oleh unta putih yang bersayap. Di punggung untanya terdapat pelana emas, sedangkan teracaknya adalah nur yang berkilauan cahayanya. Sekali langkah dapat mencapai jarak sejauh mata memandang.
Maka sampailah perjalanan mereka di sebuah pohon yang dari akarnya menyumber dua buah mata air, lalu mereka minum dari salah satu mata air itu, dan air itu mencuci semua kotoran yang ada di dalam perut mereka. Kemudian dari mata air lainnya mereka mandi, karena itu kulit dan rambut mereka tidak akan mengalami kekusutan lagi selama-lamanya, dan penampilan mereka menggambarkan kesenangan hidupnya.
Setelah itu mereka sampai atau mendatangi pintu surga. Ternyata mereka menjumpai pegangan pintunya berupa yaqut merah, sedangkan daun pintunya emas. Lalu mereka mengetuk pintu itu dengan pegangannya yang bulat, maka terdengarlah suara ketukan yang membunyikan kalimat ‘Wahai Tuhan Yang Mahatinggi’. Suara ketukan itu terdengar oleh semua bidadari yang ada di dalam surga, dan para bidadari itu mengetahui bahwa suami-suami mereka telah tiba.
Maka bidadari itu menyuruh pelayannya untuk membukakan pintu; saat pintu surga dibuka dan orang mukmin itu melihatnya, maka orang mukmin langsung menyungkur bersujud kepadanya. Maka si pelayan itu berkata, ‘Angkatlah mukamu, sesungguhnya saya ini hanyalah pelayanmu, saya disuruh untuk menyambut kedatanganmu.’ Kemudian orang mukmin itu mengikutinya, sedangkan bidadari sudah tidak sabar lagi; maka keluarlah ia dari kemah mutiara dan yaqutnya dan langsung menyambut suaminya serta memeluknya seraya berkata, ‘Engkau kekasihku dan aku kekasihmu. Aku wanita yang kekal, tidak mati, selalu senang, tidak sengsara; aku wanita yang selalu rela, tidak pernah marah; dan aku wanita yang selalu berada di tempat, tidak pernah bepergian.
Maka orang mukmin itu masuk ke dalam sebuah gedung yang tingginya dari bawah sampai atapnya adalah seratus ribu hasta. Bangunannya terbuat dari mutiara yang beraneka ragam; ada yang berwarna merah, kuning, dan hijau, masing-masing darinya mempunyai modelnya sendiri yang berbeda dengan lainnya. Di dalam gedung itu terdapat tujuh puluh pelaminan, di dalam tiap pelaminan terdapat tujuh puluh kasur, setiap kasur diisi oleh tujuh puluh orang istri, setiap orang istri memakai tujuh puluh pakaian; sumsum betisnya kelihatan dari balik pakaiannya. Untuk ***** (sensor ya☺️) diperlukan waktu yang lamanya sama dengan satu malam dari malam kalian ini.
Sungai-sungai mengalir di bawah gedung mereka dengan berbagai macam rasa; ada yang airnya tawar lagi jernih, tidak ada kotoran padanya; ada yang airnya berupa air susu yang tidak berubah rasanya, tetapi bukan dikeluarkan dari tetek ternak; ada yang airnya berupa khamr yang sangat lezat bagi peminumnya, bukan khamr yang diperah oleh injakan kaki manusia; dan ada yang airnya berupa madu yang disaring, bukan madu yang dikeluarkan dari perut lebah.
Buah-buahan semuanya masak dan ranum; jika ia menghendaki memakannya dengan berdiri, ia dapat melakukannya, atau sambil duduk atau sambil bersandar, menurut cara yang disukainya.” Kemudian Nabi S.A.W membaca firman-Nya: Dan naungan (pohon- pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah- mudahnya. (Al-Insan, [76:14])
Bila ia ingin makan, maka datanglah burung putih kepadanya atau burung hijau, kemudian burung itu mengangkat kedua sayapnya; maka ia dapat makan darinya berbagai jenis makanan yang disukainya. Setelah itu si burung terbang kembali, lalu masuklah malaikat menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaikum.” Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal- amal yang dahulu kalian kerjakan. (Al-Zukhruf, [43:72]) Seandainya sebilah rambut bidadari jatuh ke bumi, niscaya matahari dapat menyinari bagian yang tidak terjangkau olehnya berkat rambut bidadari itu.
Ibnu Katsir menutup penjelasannya dengan mengatakan, demikianlah menurut riwayat ini secara marfu’, kami dalam pendahuluan kitab telah meriwayatkannya melalui perkataan Ali R.A dengan lafaz yang semisal yang lebih mendekati predikat sahih. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
Cerita ghaib hanya boleh di percaya jika Allah dan Rasulnya yang mengabarkan, dalam Islam gambaran tentang surga dan neraka digambarkan secara detail melalui lisan Rasulullah, hanya itu yang kita ambil dan yakini, semoga kita termasuk ummat Rasulullah yang di ceritakan dalam tafsir ini. Amin.
Ciater, 17 Januari 2026, #tafsirIbuKatsir