Mama dan nak bujang Part-58: Menyusuri jalan kereta api

Padang Panjang itu kota kecil, bisa di kelilingi jalan kaki beberapa jam saja. Kosan kami di Guguak Malintang, dekat perbatasan kota arah ke Solok, sekolah ada di Silaing Atas, perbatasan arah ke Padang.   Kotanya ampibi, matahari hanya sampai jam 1 siang, setelah itu sudah berganti cuaca hujan, bisa hujan lebat atau lebat sekali. Makanya selain terkenal dengan kota serambi Mekkah karena banyaknya pendidikan keagamaan disini, juga terkenal dengan kota hujan yang kelak saat saya memilih Bogor sebagai kota tempat tinggal, relate hampir semua hal dengan Padang Panjang.

3 gunung memagari, Tandikek, Singgalang dan Marapi, makanya angin dari laut tertahan di lembah dan gunung-gunung ini, curah hujan tinggi, temperatur bisa 18 derajat di pagi hari. Ada Lubuak Mato kuciang, kolam renang yang airnya jernih sekali, cuma sekarang tinggal kenangan habis olah galodo banjir bandang beberapa tahun lalu. Banyak sekolah terkenal di kota ini, ada SMA 1 Padang Panjang, yang salah satu alumni barusan di angkat jadi Kapolda Kepri, dulu yang terkenal saat saya sekolah, menteri koperasi Bapak Bustanul Arifin, rumahnya  tetanggaan dengan sekolah saya. Ada Diniah Puteri, ada Tawalib, kalau ke atas arah bukit tinggi ada MAN Koto Baru, ada Pesantren Canduang, juga sekolah calon tamtama yang menjadi pelatih diksarmil kami. Bus NPM yang terkenal itu juga pusatnya di Padang Panjang, bus yang mengantar saya merantau ke tanah jawa, kelak.

Untuk ke sekolah ada beberapa jalur yang bisa dilewati, awal-awal kami, saya dan sepupu Desrizal naik angkot, lumayan juga ongkosnya, 500 rupiah, dua kali sambung. Tetapi setelah tau, kami akhirnya jalan kaki, dari kosan lewat belakang SMA 1 dan tembus di lapangan kantin, turun ke arah pasar sampai ketemu jalan kereta api, saat itu Kereta api dari Sawahlunto ke Padang membawa batu bara masih ada. Setelah itu menulusuri jalan kereta sampai ke stasiun, dari sana sudah dekat sekolah, total mungkin 25 menit dari Guguk Malintang ke Sekolah, setiap pagi. Kalau pulang kita sudah pisah-pisah. Sepupu saya jurusan Bangunan Gedung kadang jadwalnya berbeda dengan saya teknik mesin.

Jalur lain lewat jalan besar, dari lapangan kantin ke pasar, dibawah bofet Gumarang belok kanan sampai ke Bekas bioskop, yang disana ada bakso mas Amin, terkenal dan ramai. Setelah itu tinggal ikut jalan besar, lewat di depan Rumah owner Bus NPM, berarti sudah dekat. Sebelum asrama Brimob pas di simpang Masiid Nurul Iman, belom kiri, sekolah kami SMK Karya, dulu terkenal dengan STM Karya ada di jalan Hos Cokroaminoto, ujung jalannya mentok, diujung ada produsen oleh-oleh khas Padang panjang Goreng Jagung Upik. Diujung itu ada jalan belok kiri, tembus ke kampung manggis yang kelak disana jadi rumah orang tua saya.

Hari-hari menyusuri jalan kereta api cukup menghemat pengeluaran, saya belanja hanya 50 ribu sebulan, kurangi kos 25 ribu. 500 seribu perak sangat berarti rasanya. Masa Sekolah atas bermula, merubah hidup dan menjadi pondasi masa depan, kelak. Kalau cerita ke mama, mama hanya tersenyum.

Botai Square, 10 Oktober 2026 #mama&nakBujang#58 #padangPanjang

Leave a Reply