
Masa orientasi sekolah, kalau sekarang di sebut MOS tahun ajaran 1996/1997 dimulai, SMK Karya Padang Panjang perkenalannya bukan di mulai dengan berkeliling sekolah, tapi dibuka dengan Upacara Diksarmil di Lapangan Kantin Padang Panjang dan serah terima ke pelatih Sekolah Calon Tantama (SECATA B), 1 Minggu kedepan semua siswa baru yang sudah di Botak akan di gojrok habis-habisan dengan latihan PBB.
Tinggi saya tamat SMP baru 157 cm, kalau berbaris sudah pasti di belakang. Saat pembukaan saya tidak melihat lansung siapa saja yang memberikan pidato, tapi yang teringat komandan Secata B Waktu itu, mirip dengan pelatih kungfu waktu di Solok, tentu saja kepala sekolah almarhum Bapak Zulhelmi Azis. Cuplikan isi pidato yang masih saya ingat “kulit kalian akan bersisik seperti ular selesai pendidikan ini” dan itu betul, seminggu berjuang berpanas, ganti kulit.
Buat saya PBB tentu tidak asing, aktif di Pramuka saat SMP sudah pasti makanan mingguan, bahkan sudah termasuk pelatih adik-adik di gudep SMP 1 Solok, cuma karena pelatihnya tentara, keder juga. Apalagi Padang Panjang itu kota dua alam, ampibi, pagi panas bedengkang siang hujan dan dingin menggigit. Pas benar, kayak besi dipanaskan sekonyong-konyong disiram air, kulit mengeras dan tidak ada cerita berhenti saat hujan, panas hujan satu Minggu di gembleng.
Lapangan kantin Padang Panjang di depan Polres, kalau sekarang ada SMA 2 disana, dulu belum ada. Dari kosan dekat, jalan kaki lewat belakang SMA 1 dan SMP 1 tembus langsung di lapangan, jadi tiap pagi aman lah dari hukuman terlambat. Secara pribadi salah satu ketertarikan saya masuk SMK Karya Padang Panjang karena diksarmil inilah. Saat itu STM baru berubah nama ke SMK, terkenal dengan tawuran pelajar, logis juga karena 95% siswanya laki-laki. SMK Karya Padang Panjang menarik karena yang dijual adalah disiplinnya dan itu terbukti dalam 3 tahun pembelajaran.
Saya tidak ingat berkenalan siapa saja saat itu, dan juga sudah tidak ingat lagi peleton berapa, tapi yang jelas masa latihan PBB itulah pertemanan dimulai yang kelak berlanjut di kelas. Saya seperti menemukan jati diri, “ini saya benar”. Apalagi setelah berkenalan rasa-rasanya semuanya “sekutu”, tidak ada yang lebih wah dari yang lain, latar belakang sekolah juga hampir-hampir sama.
Satu Minggu diksarmil PBB, membuka lembaran pemikiran baru, yang jelas cita-cita jadi Tentara terkubur, selain pendek, juga tidak kuat menjalani pendidikannya, PBB seminggu saja sudah bagaimana rasanya, jadi Insinyur sajalah. ☺️
Akhir waktu PBB mama datang membawa beras dan goreang ayam dan tentu saja terkejut, seminggu saja kok sudah berubah warna kulit. Tapi saya bilang saya senang, mama juga senang. Bermulalah masa SMK.
Citeureup, 5 Oktober 2026 #mama&nakBujang57 #HUTTNI