Mama dan nak bujang Part-22: Merantau

23 January 2021 Leave a comment

Bukit Tnduak

Sambil menunggu pengumuman penerimaan SMP 1 Solok, Mama dapat pula menyelesaikan sawah dulu, Mama menitip ke Mak Etek Raf, untuk melihat pengumuman hasil cadangan itu, dari Sungai Nanam ke Solok, transpor relatif lancar.

Suatu sore, saya sudah tidak ingat tanggalnya, Mak Etek mengirim pesan lewat orang yang dari Sungai Nanam, saya di terima di SMP 1 Solok, cuma 2 cadangan yang di terima, teman saya, Indra Kadican dari Sijunjung dan saya, tanggal batas akhir daftar ulang juga sudah ditentukan, setelah dilihat tanggal, Mama kalang kabut, rupanya besok jam 3 sore paling lambat. Mungkin yang bawa pesan terlambat menyampaikan ke mama.

Untuk keluar dari kampung saya waktu itu ada 2 jalur normal yang sering dipakai orang kampung, jalur Sirukam, perjalanan 12 jaman, berangkat jam 7 bisa sampai jam 7 juga malamnya. Kemudian jalur Kapujan terus ke Sungai Nanam, sekitar 10 jam an jalan kaki, tracking naik gunung turun lurah.

Mama bilang dua jalur itu tidak mungkin. Tiba-tiba mama ingat, dulu beliau pernah tempuh jalur Sabie Aie tembus talang babungo, bisa tembus 5-6 jam, tetapi tidak tau lagi apakah masih bisa di tempuh atau tidak, setelah bertanya sana sini, malam itu dapat info jalur masih ada yang dilewati orang sekali-kali.

“Bang, tidur cepat malam ini ya, besok setelah subuh kita berangkat” terasa semangat mama waktu itu. SMP 1 Solok juga almamater beliau dulu. Cerita mama, 2 orang yang sekolah di sana, mama dan Mak Buyuang, kemudian kalau jadi saya yang ke-3. Saya pun terlelap dengan semangat pula malam itu. Nenek begadang mempersiapkan bekal. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-21: Tamat SD

23 January 2021 Leave a comment

Habis Ujian Akhir SD

1993 ujian akhir Sekolah Dasar (SD) masih digabung dan dipusatkan di SD Nagari Batu Bajanjang, sekolah saya. Semua murid dari nagari sekeliling yang tidak bisa akses jalan kaki ke kampung kami, nagari Simanau, Sumiso dan Garabak Data, menginap di kampung, ada lokasi rumah yang disiapkan atau menumpang di rumah warga, saya masih ingat, teman-teman dari Simanau penginapannya di Surau Pulau-pulau, surau saya, dekat dengan tepian tempat mandi kami.

Besar manfaatnya sebenarnya, momen ujian yang full satu minggu, hanya pagi sampai siang, siang sampai sore, selain belajar, bisalah digunakan untuk saling berkenalan. Bertemu teman baru dari beda nagari buat kami waktu itu sungguh membahagiakan. Dengan teman laki-laki kami buat lomba bola volly karah yang lapangannya didekat Lubuak Pacah, tempat mandi anak-anak perempuan, sebelum mandi teman-teman cewek memberi semangat ke yang main volley, saling kenal terjadilah disana.

Guru-guru dari semua wilayah, termasuk dari kantor dikbud Payung Sekaki, juga tumplek blek di kampung, seksi konsumsi adalah Mama, jadi setiap makan pagi dan malam semua makan di rumah dan kebetulan ada yang menginap dirumah kami juga. Rame, makanya saya seringnya bermain dengan teman-teman yang diluar nagari karena ada guru-guru di rumah. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Aktifitas pemulihan Covid -19

22 January 2021 Leave a comment

Saturasi oksigen

Selama 24 hari isolasi mandiri karena Covid 19, apa saja penanganan pemulihan yang dilakukan?, saya coba berbagi treatment apa saja yang kami sekeluarga lakukan.

Setelah terkonfirmasi positif, yang pertama saya lakukan adalah menginformasikan ke gugus tugas kantor untuk di lakukan tracing siapa saja yang bersinggungan dan bertemu dengan saya seminggu terakhir. Ini prosedur kantor yang nantinya diikuti dengan swab antigen pada setiap contact tracing terebut.

Saya juga lansung menginformasikan ke RT, yang ex-officio sebagai gugus tugas kota Bogor, untuk diinformasikan ke warga, yang juga berkemungkinan kontak erat dengan saya seminggu terakhir. RT/RW melaporkan ke gugus tugas kota dan petugas puskesmas Kedung Badak juga lansung menghubungi saya untuk interview, baik kondisi dan gejala yang saya alami maupun kontak trace saya. Read more…

24 hari Isolasi mandiri Covid-19

20 January 2021 1 comment

Negatif

Saya test Covid 26 Desember 2020, dan keluar hasil Positif 24 jam setelahnya dengan nilai RpDp CT value 12, dokter menginformasikam kondisi berat dan menular. Dinyatakan negatif setelah tes swab ke-4, 20 Januari 2021. Tulisan ini cerita apa yang terasa hari ke hari di “inapi” virus Covid-19, selama 24 hari isolasi mandiri.

Hari ke-1, 27 Dec 2020, sampai jam 8 malam, demam masih belum turun-turun, 38.8 degre Celcius, saya coba kontak lagi perawat puskesmas kedung badak yang sepertinya memang di tugaskan khusus in-charge pasien covid, saya dikasih nomor HP dokter kepala puskesmas dr. Tengku Yani. Saya minta rekomendasi untuk cek ke IGD, setelah konsul dr. Yani tidak menyarankan saya ke IGD, tetapi diminta minum paracetamol, 4 jam sekali. Besok, beliau akan resepkan obat dan akan diantar oleh gugus tugas RW.

Hari ke-2, 28 Dec 2020,Senin. Saya terbangun azan subuh, dengan tubuh sedikit ringan, tidak lagi demam dan nyeri sendi pun tidak terasa, tinggal sedikit sakit kepala. Setelah sholat subuh, mengaji dan sedikit olah raga ringan, sarapan pagi, minum obat yang masih ada untuk 2 hari kedepan. Memulai rutinitas pekerjaan kembali, WFH. Yang masih jadi fikiran, testing istri dan anak-anak, sudah di coba cari beberapa RS yang bisa home care, melakukan pengetesan di rumah, semua masih full book, paling cepat tersedia kamis depan. Sementara kalau pengetesan di fasilitas kesehatan, tidak ada sopir yang bisa antar. Padahal tidak tertutup kemungkian istri dan anak-anak juga terpapar, karena ada gejala batuk dan pilek. Jam 4 sore, obat-obat dari puskesmas di kirim ke rumah melalui gugus tugas RT/RW, support dari warga komplek dan teman-teman juga bernilai positif membantu perkuat imun. Hari ini menjelang isya dapat kabar satu lagi warga komplek positif Covid 19. Read more…

Positif Covid 19

27 December 2020 3 comments

Rabu, 23 Dec 2020, hari terakhir kerja minggu lalu, badan tiba-tiba menggigil kedinginan hebat pada saat wuduk sholat zuhur, “demam ini” terlintas dalam hati, karena memang demam tinggi, semua badan nyeri adalah penyakit kambuhan saya, cuma ini sudah setahun tidak muncul.

Sebelum pulang saya sempatkan minun panadol merah, biasanya setelah dibawa tidur badan akan ringan. Sampai di rumah, saya ketiduran sampai kebangun jam 1 malam, kamis pagi, dengan dingin yang makin menjadi dan badan panas, mungkin mendekati 40 deg. Saya minum panadol sekali lagi, sampai ketiduran. Read more…