Home > Kata Hati & Jejak Langkah > Selamat Tahun Baru Hijriah 1434 H,

Selamat Tahun Baru Hijriah 1434 H,

TAHUN Baru Islam(awal Hijriah), 1 Muharram 1434 H bertepatan dengan 14 November 2012 yang berhubungan dengan peristiwa besar ummat Islam yakni Hijrah. Hijrah Rasulullah beserta para sahabat dari kota Makkah menuju kota Madinah (622M).

Tradisi ini senantiasa mengingatkan kepada ummat Islam, terhadap perjuangan panjang Rasulullah dalam mengemban amanah sebagai utusan Allah Subhanahu Wata’ala, membimbing ummat kepada jalan yang di ridhoi oleh Allah Allah Subhanahu Wata’ala.

Perjalanan menuju kota Madinah (hijrah) yang dilakukan ummat Islam yang ketika itu Rasulullah dan para sahabat, di antaranya kaum Anshor dan Muhajirin dengan sembunyi- sembunyi di tengah kegelapan malam serta ketakutan yang menyelimuti mereka dari bayangan kaum Quraisy, kaum yang sangat kontra dan tidak setuju dengan adanya risalah Islam.

Dalam hal ini Allah Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfaal Ayat 30).

Ketika bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy (dalam gua di bukit Tsur), para sahabat sangat tegang dan ketakutan menghantui. Karena apabila persembunyian mereka diketahui oleh kaum musyrik, tamatlah riwayat mereka, itulah perasaan yang menyelimuti hati para sahabat ketika itu.

Namun dengan tenang Rasulullah berkata, yang ketika itu kepada Abu Bakar.“ Tetapi dijawab oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, “Wahai Abu Bakar, jangan kamu kira kita hanya berdua saya. Sesungguhnya Allah berserta kita” (Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita) QS At-Taubah ayat 40 (Sirah Nabawiyah oleh Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, Robbani Press)

Peristiwa hijrah mengigatkan kepada ummat Islam akan arti perjuangan membela agama Allah, perjuangan untuk berpindah dari kegelapan (bathil) menuju kebenaran (haq), dan hal ini menjadi keharusan ketika ummat telah tidak lagi meyakini yang benar itu benar dan yang salah itu tetap salah.

Hanif Hidayatullah dalam Buliran Hikmah Hijrah Rasulullah yang diterbitkan oleh Media Republika mengatakan, banyak sekali nilai, hikmah dan tauladan yang dapat diambil dari peristiwa hijirah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para sahabat, diantaranya penepatan awal tahun Hijriah yang terinspirasi akan semangat dakwah menegakkan risalah Islam.

Penanggalan Hijriyah

Dr. Thomas Djamaludin dalam Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah, mengatakan penanggalan awal tahun 1 Hijriah dilakukan pada tahun ke 6 setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa kekhalifahan  Umar bin Al-khathab dalam  sebuah upaya rasionalisasi sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya, melihat banyaknya persoalan yang timbul akibat ketidakjelasakan masa awal dari penanggalan Hijriah.

Persoalan penentuan bulan contohnya yang dialami oleh Gubernur Basrah pada masa itu. Al-Baruni menyatakan bahwa Khalifah Umar bin Al-Khathab Menerima Surat dari Gubernur Basrah, dan dalam surat itu tertulis;

“Kami hingga saat ini telah banyak menerima surat dari para amirul muminin, dan kami sungguh tidak mengetahui pilihan mana yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, serta kami telah membaca agenda kegiatan yang bertanggakan Sya’ban, namun kami tidak tahu pasti Sya’ban mana yang dimaksud, apakah Sya’ban yang jatuh pada tahun ini atau Sya’ban pada tahun depan.”

Menurut Abu Hasan Al-Atsari dalam bukunya Bidayah wa Nihayah Juz III, Khalifah Umar bin Al-Khathab menjadikan persoalan yang dihadapi Abu Musa Al-Asy’ari itu sebagai suatu persoalan yang penting, dan sebagai penentu kebijakan perlu sekiranya ia membuat  ketetepan Kalender yang seragam antara satu sama lainnya agar dapat dipergunakan untuk keperluan admisistrasi dan keperluan ummat dalam kehidupan.

Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat dan mengadakan musyawarah untuk menentukan hal apa atau peristiwa apa yang paling tepat sebagai patokan awal tahun Islam tersebut, hingga keluarlah empat opsi:

Pertama : Hari Kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai awal tahunn Hijriah
Kedua :  Hari Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam,
Ketiga : Hari dimana ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menerima wahyu pertama dan merupakan awal tugas kenabiannya dan
Keempat : Peristiwa Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.

Dengan ijtihad khalifah dan para sahabat ketika itu, peristiwa Hijrah lah yang menjadi tumpuan akhir, sehingga keputusanpun diambil dengan dengan bijak berasaskan musyawarah, menentukan Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yaitu 1 Muharram, sebagai peristiwa yang paling tepat untuk mengawali sistem penanggalan Hijriah.

Pada tahun 638 M (17 H), Khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan Kalender Hijriah dengan menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 , dan tanggal ini bukan berarti tanggal Hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam terjadi bulan September 622.

Menentukan peristiwa Hijrah sebagai awal dari penaggalan Hijriah mengandung makna historis yang sangat dalam. Imam Sakhawi dalam kitabnya Al-I’laan bi al-tawbikh liman dzamma al-Tarikh mengatakan bahwa bulan Muharram sebagai awal bulan penanggalan  Hijriah karena niat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk berhijrah sudah ada sejak bulan tersebut (Muharram), inilah maka penentuan Hijrah sebagai awal Hijriah adalah sangat tepat, mengingat nilai, hikmah dan tauladan dari peristiwa tersebut.

Dan penanggalan Hijriah mengingatkan kepada seluruh ummat Islam bahwasanya setiap tahun bukanlah kepada kejayaan dan kebesaran Islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama.

Identitas Ummat

Sebagai Agama rahmatan lil’alamin, identitas ummat Islam adalah inti utama daripada kemajuan risalah Islam. Identitas inilah yang menujukan eksistensi dan ukhuwah Islamiyah terhadap tantangan peradaban ummat dimasa sekarang dan akan datang.

Sebagai sebuah identitas, penanggalan Hijriyah terlihat dalam system birokrasi dan administrasi umat, karya-karya ilmiah yang dilahirkan oleh ilmuan Islam menggunakan penanggalan Hijriah, hingga saat ini  mayoritas umat Islam di beberapa Negara telah menggunakan penanggalan Hijriah.

Inilah awal dari Wacana  Kebudayaan dan Peradaban Islam serta perjuangan dalam menegakan risalah Islam, Sehingga transformasi nilai-nilai Hijriah sebagai sebuah identitas ummat sangat penting, dengan mengambil hikmah dan tauladan yang terkandung di balik peristiwa Hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriah.

Kita sepakat bahwa penanggalan Hijriyah adalah identitas umat oleh karena umat Islam dimana saja, memiliki sejarah yang sama, yaitu sejarah Islam dan sejarah peradaban Islam, agama yang sama yaitu agama Islam,  kultur yang sama yaitu kultur Islam dan banyak lagi persamaan antara umat Islam di seluruh dunia.

Selain itu penanggalan Hijriyah sebagai era baru pengembangan Islam, mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya “Kebangkitan Islam dalam Pembahasan” (1979), jalinan ukhuwah yang terjadi antara kaum Anshor dan Muhajirin ketika dalam perjalan Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, Ukhuwah mereka melahirkan integrasi umat Islam yang kokoh dan mereka membuktikan bahwa Ukhuwah Islamiyah  bisa membawa ummat Islam jaya dan disegani.

Oleh sebab itu, penggunaan penaggalan Hijriyah perlu untuk di terapkan dalam struktur kehidupan  ummat Islam, dengan menerapkan pananggalan Hijriyah sebagai pedoman individu dan kelompok serta menyelami makna, hikmah, nilai dan tauladan yang terkandung dalam peristiwa Hijrah yang merupakan awal tahun baru Islam (Hijriyah), dengan itu identitas ummat akan terjaga dan solid dalam menyongsong peradaban Islam yang bermartabat.

Belajar dari fenomena di atas ummat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah dan peristiwa-peristiwa Sejarah Islam, dari sejarah inilah ummat Islam akan menemukan nilai-nilai spiritual dan perjuangan membela agama Allah (An-Nahl ayat 41-42), menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sandaran, Tauhid sebagai tujuan dan syariah Islamiyah sebagai pedoman hidup dan itulah identitas ummat Islam sebenarnya.

Dari Bogor Kami mengucapkan Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1434 H, tahun bertambah segaris dengan iman hendaknya, semoga Allah SWT selalu memberkahi kita semua. Amin..

Sumber : Tulisan Elvan Syaputra (Peneliti Mizan Institute dan sedang menempuh Master Program Islamic Science University of Malaysia) di www.hidayatullah.com

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: