
Waktu itu tiba juga, fase sekolah menengah atas dimulai tahun ajaran baru 1996. Pertengahan Juli 1996 setelah dapat izin mama, berangkat dari kampung dan masuk ke kosan Pak Zuhelmi di Guguk Malintang Padang Panjang, rumah tinggal beliau dibagi dua, bagian kiri bertingkat diperuntukkan untuk kos-kosan. Sebelah kanan rumah tinggal Bapak dan Ibuk.
Kosan ada 2 kamar di bawah, tiga kamar diatas, kamar mandi khusus kosan ada 2, satu tertutup satu dibawah tangga terbuka, jadi kelihatan semua itu bujang-bujang kalau mandi. Rumah utama ada 2 kamar, kamar depan buat bapak dan ibuk, kamar belakang buat nenek ibunya ibuk. Saat kami angkatan 1996 masuk, juga ada anak adik ibuk yang tinggal sama beliau, Angga, masih SD.
Saya berbarengan dengan sepupu sama tumbuh, Desrizal, kami biasa saling panggil “boy”. Dia jurusan teknik bangunan atau sipil saat ini, saya teknik mesin. Kami juga dapat kamar yang sama, dipan 2 tingkat, saya dibawah Iboy di atas. Sekamar dengan kami juga ada Andi dari Lintau, Batu Sangkar, panggilan sayangnya Doyok, sekarang pengelola resto Sederhana Cabang Kelapa Gading. Juga sekamar dengan Budi asalnya sama dengan Doyok, sekarang pembesar di jaringan resto Sederhana Lintau Jakarta. Saya lupa 2 pasang lagi, karena sekamar kami ada 3 tempat tidur tingkat.
Dari kampung kami bertiga, satu lagi Surimariadi (Alm) panggilannya Edi, terkahir beliau adalah anggota DPRD Kabupaten Solok 2 periode, secara angkatan dia sebenarnya di atas saya dan Iboy setahun, lulusan SMP 5 Kota Solok, masuk STM bersamaan dengan kami. Dia dapat di kamar bawah depan.
Saya tidak ingat, kamar atas saya kami masuk sepertinya masih kosong, baru terisi tahun berikutnya oleh teman-teman dari Muaro Bungo, lumayan ramai. De seberang kosan kami ada rumah-rumah di lereng tebing, mushalla juga. Dipuncak lereng ada satu rumah yang kelihatan terang dari kosan dan sepertinya ada yang mentereng dan makhluk halus di sana, yang kelak jadi penyemangat para bujang kosan Pak Zuhelmi.
Dibelakang pas pagar SMEA Padang panjang, yang akhirnya ditukar guling jadi SMA 1 Padang Panjang, gedung jaman Belanda yang ikonik. Sekolah unggulan di Sumatera Barat, punya asrama khusus anak-anak hebat.
Tentu lengkap dengan perlengkapan kami bawa, kasur, kompor, alat masak, alat makan dan keperluan akomodasi lainnya. Mama dan Ni Netik (kakak Iboy)Â yang siapkan lengkap dengan beras sekarung untuk 2 bulan kedepan.
Setelah semuanya urusan perkamaran lengkap, langkah pertama kami adalah “botakan”, untuk menghadapi latihan PBB satu Minggu di Secara B Padang Panjang, diwajibkan Botak. Cuaca yang sejuk dan dingin malam hari memerlukan penyesuaian bagi kami yang datang dari daerah panas.
Memulai aktifitas baru di Guguk Malintang.
Bogor, 1 Mei 2026 #KosanGugukMalintang.