
Mengingat hari-hari spesial usaha rutin buat keluarga, hanya internal. Hari ini 9 Desember gadis tengah kami genap 13 tahun, kelas 1 SMP, sudah nomor dua tinggi di rumah setelah Yandanya, kalah uninya sepersekian centi. Alifa Feykaniam Panne, anugerah nikmat yang datang saat tenang, kami maknai namanya, doa sesuai dengan kondisi saat dia hadir.
Dia berubah, wajah, tinggi, pemikiran, tapi satu yang tetap, “cerewet dan fighting”. Usahanya untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau dengan berbagai cara memperlihatkan tipe penempurnya. Kalau sudah minta sesuatu, sampai bosan yang dia minta akan diteror terus, ya mama dan Yandanya lah sering kena target. “Gini lho Yanda”, “ayo Yanda nanti habis kuotanya, cepetan”, uninya kadang sampai mangkel.
U Tita, panggilan di rumah, tumbuh secara fisik sesuai umurnya, sudah baligh sekarang. Di sekolah dapatnya aktif Pramuka, dulunya mau OSIS taunya ada persyaratan yang tidak bisa dipenuhi saat daftar semester lalu. Seperti agak lebih fokus ke akademik tapi juga ke kepemimpinan. “Yanda, adek ambil IPA atau speach ya”, saat ada kesempatan dari sekolah untuk peminatan khusus, “oh ya benar, speach saja karna adek udah punya basic sedikit public speaking”, responnya saat di beri pandangan, logisnya mulai kelihatan.
“Kemasalasannya” kadang bikin mamanya naik spaning juga, pemilihan prioritasnya lebih ke fungsi, agak sama dengan Yandanya, saat disuruh mandi, bersih-bersih kamar, jadi prioritas ke 2 buat dia, inilah titik tolak dengan mamanya, suatu waktu dia senyum kecut saat di tanya “sudah dapat wawawa hari ini?”, maksudnya cerewetan mamanya. “Sudah sekali” setelah itu ketawa bareng. Tak heran, Yandanya juga begitu.
Dia lebih “ditakuti” oleh adek bujangnya, kakak perempuan seperti di reals, yang suka main “kekerasan” dan gak sabaran. Adek bujangnya sering dibikin berlinang air mata, di “hajar” cerewetan nya, cuma punya cara hubungan spesial juga. Sayang adeknya dengan cara dia.
Dia tumbuh dengan maminya, adek saya yang paling kecil, sejak dari umur nol sampai balita. Saat dia hadir kami lagi sedikit-sedikitnya waktu, makanya foto kecilnya dia lebih banyak dengan maminya. Itulah anak kedua, memang benar adanya anak pertama di sayang-sayang, anak kedua kurang di timang, anak ketiga disayang mamanya, laki satu-satunya. Dia tumbuh diantara uni dan adek bujangnya, “fey introvert sekarang sejak pindah kamar” komen Buk Na, adek mamanya terbungsu.
Tumbuh terus ya dek, sudah besar, kata google sudah bisa punya akun sendiri tidak didalam family link lagi. Jaga diri menjadi wanita muslim terhormat, berteman yang banyak, tidak usah spesial -spesial dulu selagi adek mengejar cita-cita. Muslimah itu intan berlian dek, mahal dan dijaga. Berjuang demi cita-cita dokter spesialis tulang perlu usaha, doa dan prasangka baik terhadap Allah, insya Allah, semua di kabulkan. Mama dan Yanda jadi fasilitatornya.
Semua sayang U Tita..🥰
Bogor, 9 Desember 2024 #Pepey13tahun