Mama dan nak bujang Part-35: meredup akademik.

SMP kelas 2, kelas unggul, 2B, akademik saya mulai meredup. Bukan karena kapasitas dan nilai turun, tapi memang di kelas ini berkumpul para Juara dari 9 kelas, peringkat 1-3 dari setiap kelas, nilai saya tetap saja sama, tapi posisinya sudah bergerak turun, 10 besar mungkin masih masuk. Saya dengan sadar undur diri dari persaingan akademik….

Mama dan nak bujang Part-34: “kumite” Wushu pertama.

Saya pada prinsipnya anak yang sangat “saulah”, tidak suka ribut malah mengarah ke penakut. Tapi di latihan wushu Masjid Agung Kota Solok, harus ada latihan pertarungan atau lebih dikenal dengan kelas Kumite. Cabang wushu Masjid Agung memang agak tradisional latihannya, keras. Latihan tanpa alas kaki di halaman masjid yang corannya mengelupas semua. Push Up pakai…

Mama dan nak bujang Part-32: bersepeda solok-singkarak

Saya sama besar dan sama tumbuh dengan sepupu saya anak Mak Tuo kakak Papa, kami sama-sama panggil Boi dari dulu sejak masih nyilam di lubuak pacah, sama-sama sunat ke Pak Tuo Dalim (alm) sampai sekolah SMP pun sama di Solok. Desrizal, Papa panggil dia ii akong, panggilan itu melekat bagi orang kampung. Rupanya itu doa,…

Mama dan nak bujang Part-31: menempatkan diri

Kelas 2 SMP, bergabung dengan para juara, tertinggal dua “tiang”, ini istilah balapan jalanan, maksudnya ketinggalan 2 tiang listrik, kalau jarak tiang listrik 25 m, ya ketinggalan 50 meter dan itu jauh. Karna itu saya secara sadar harus bisa menempatkan diri, bergabung pada rombongan depan atau pasrah tetap ketinggalan gerbong. Kelas kami waktu itu khusus…