Mama dan nak bujang Part-24: Patah tangan

Kehidupan baru diperantauan makin membuka pemikiran. Pergeseran pemikiran dari superior selama kehidupan dikampung menjadi inferior melihat dan membandingkan diri dengan sekeliling, termasuk dengan kawan-kawan sesekolah, bagaimanapun SMP 1 Solok adalah sekolah favorit, tentu saja yang bisa masuk banyak juga dari kalangan tertentu, anak Sekda, kepala Rumah sakit, Dokter, kepala dinas, kepala badan, anak tokoh emas…

Mama dan nak bujang Part-23: kosan papa

Setelah daftar ulang di SMP 1 Solok, saya sudah tidak sempat pulang lagi. Mama mencarikan kos-kosan pertama di Simpang Rumbio, depan RS Umum Kota solok, pemilik kos sudah kenal dekat dengan mama, karna waktu papa sakit dan di rawat di RS Solok sebelum di rujuk ke Padang mama dan papa kos cukup lama disini, menghindari…

Mama dan nak bujang Part-22: Merantau

Sambil menunggu pengumuman penerimaan SMP 1 Solok, Mama dapat pula menyelesaikan sawah dulu, Mama menitip ke Mak Etek Raf, untuk melihat pengumuman hasil cadangan itu, dari Sungai Nanam ke Solok, transpor relatif lancar. Suatu sore, saya sudah tidak ingat tanggalnya, Mak Etek mengirim pesan lewat orang yang dari Sungai Nanam, saya di terima di SMP…

Mama dan nak bujang Part-21: Tamat SD

1993 ujian akhir Sekolah Dasar (SD) masih digabung dan dipusatkan di SD Nagari Batu Bajanjang, sekolah saya. Semua murid dari nagari sekeliling yang tidak bisa akses jalan kaki ke kampung kami, nagari Simanau, Sumiso dan Garabak Data, menginap di kampung, ada lokasi rumah yang disiapkan atau menumpang di rumah warga, saya masih ingat, teman-teman dari…

Mama dan nak bujang Part-20: “Mairiak”

Mama jadi guru pagi sampai siang, siang sampai sore dan hari libur, mama jadi petani di bantu nenek mengerjakan paling tidak 3 tumpak sawah, dikampung biasa menyebut “tumpak” untuk satu lokasi persawahan, buka mengacu ke luas area, tapi lebih ke lokasi. Satu di sawah Mudiak, lokasi di Jorong Pangka Pulai, ada 5 petak mungkin, 1…