Archive

Archive for the ‘Mama&Nak Bujang’ Category

Mama dan nak bujang Part-19: Globalisasi

22 October 2020 Leave a comment

Mama dan Trio GDR

Tahun 80an arus globalisasi terasa kuat di Indonesia, hal itu bisa terlihat dari gaya hidup waktu itu, foto-foto dan budaya orang tua kami, terutama mama menambah keyakinan akan itu.

Dari pakaian misalnya, beberapa foto mama dan papa waktu muda memperlihatkan penampilan yang global, papa banyak befoto dengan celana pantovel, baju bersanding licin, rapi. Juga suka berjaket levis yang modis, rambut pun disisir rapi. Layaknya james bond.

Mama juga, beberapa foto waktu remaja dengan dress diatas lutut, yang serasi dari atas sampai alas kaki, mungkin layaknya Kate William, calon ratu Inggris itu. Anggun dan manis, tapi tentu saja tidak berjilbab. Dari sejarah kita juga mahfum, jaman-jaman itu berjilbab sangatlah susah, karena keadaan. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-18: literasi karna mama

18 October 2020 Leave a comment

Trio GDR

Saya mulai bisa membaca kelas 2 SD, kalau dikampung kami itu termasuk sudah luar biasa karena kami tidak menjalani pendidikan pra SD, tidak ada TK dikampung kami tahun 1990an. Bahkan sarana pendidikan hanya sampai SD dan satu-satunya.

Sejak bisa membaca, hasrat literasi menggebu dan tak terbendung, syukurnya itu didukung penuh oleh mama dengan mensuplai berbagai macam buku dan majalah untuk saya baca, karena sebagai guru kelas rendah mama punya “kekuasaan” lebih terhadap buku-buku inpres dan buku bantuan pemerintah saat itu.

Setiap buku baru yang diberikan ke sekolah, mama selalu membawa kerumah dulu sebelum dimasukkan ke perpustakaan. Saya pun membaca itu semua dan setelah buku itu masuk ke perpustakaan, ada teman-teman yang membaca, saya sudah bisa menceritakan. Kadang ada teman yang megang bukunya tapi minta diceritakan ke saya apa isinya. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-17: Pak Mantari

12 September 2020 Leave a comment

Batu Bajanjang

Dikisah-kisah sebelumnya saya beberapa kali menyinggung betapa traumanya saya dengan Pak Mantari, tenaga kesehatan bagi nagari, bukan dokter atau perawat, entahlah posisinya waktu itu apa dalam dunia kesehatan saat ini.

Kisah ini berawal saat saya mungkin umur 9 tahunan, belum sunat. Saat itu mulai ada puskesmas di kampung kami, yang jadi fasilitas kesehatan pertama di Nagari, lokasinya di pinggir sungai, dekat dengan kubur nenek baruah, ibu dari Papa. Keberadaan puskesmas ini mulai mentransformasi masyarakat dari dunia pengobatan alternatif ke ilmu pengetahuan. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-16: bataguran..

15 August 2020 Leave a comment

Oma

Di kampung saya dulu, mungkin sampai sekarang masih ada , satu kebiasaan yang hampir di percaya oleh sebagian besar warga, termasuk mama saya   yaitu”bataguran” atau “kanai taguran”.

Ya, satu kepercayaan mungkin berakar dari animisme dulu, jika kita sakit “orang pintar”akan memeriksa dengan potong ayam jantan hitam kemudian dari situ di diagnosa, “ini kanai taguran di lubuak judun” begitu biasanya, biasanya tempat-tempat tidak biasa yang disukai jin, bahkan kuburan. Setelah itu akan ditarok sesajenan di tempat tersebut. sedanglan Ayamnya di sop, kepala dan hati khusus untuk si sakit. Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang

Mama dan nak bujang Part-14: lebaran, “anak bujang buk ilih hilang”.

Kelas 4 SD, lebaran tahun 1991 warga kampung geger, anak bujang buk ilih hilang..!!

Itu headline di kancah “ota” mulut kemulut kampung kami hari itu. Berbagai prediksi dan analisa muncul. “Cari dilubuak rukan, mungkin mandi sama kawan-kawan”, “coba tanuang, mana tau dibawa antu aru-aru”, dan berbagai macam hipotesis lainnya dari yang bikin tenang sampai yang bikin senewen mama saya, “biasanya kalau lebih dari 2 jam dibawa penunggu lubuak rukan, dak bisa balik lagi”, prediksi yang membuat mama jadi makin pening.

Apa pasal?, ya, saya hilang, mulai dari siang sampai menjelang magrib, bahkan tidak ikut shalat idul fitri di masjid pagi ini. Mama sadar saya tidak ada pada saat mau mendoa lebaran siang, biasanya tidak pernah absen, karena mendoa lebaran ini bagi kami adalah perbaikan gizi. 🙂 Read more…

Categories: Mama&Nak Bujang