Mama dan nak bujang Part-21: Tamat SD

1993 ujian akhir Sekolah Dasar (SD) masih digabung dan dipusatkan di SD Nagari Batu Bajanjang, sekolah saya. Semua murid dari nagari sekeliling yang tidak bisa akses jalan kaki ke kampung kami, nagari Simanau, Sumiso dan Garabak Data, menginap di kampung, ada lokasi rumah yang disiapkan atau menumpang di rumah warga, saya masih ingat, teman-teman dari…

Mama dan nak bujang Part-20: “Mairiak”

Mama jadi guru pagi sampai siang, siang sampai sore dan hari libur, mama jadi petani di bantu nenek mengerjakan paling tidak 3 tumpak sawah, dikampung biasa menyebut “tumpak” untuk satu lokasi persawahan, buka mengacu ke luas area, tapi lebih ke lokasi. Satu di sawah Mudiak, lokasi di Jorong Pangka Pulai, ada 5 petak mungkin, 1…

Mama dan nak bujang Part-19: Globalisasi

Tahun 80an arus globalisasi terasa kuat di Indonesia, hal itu bisa terlihat dari gaya hidup waktu itu, foto-foto dan budaya orang tua kami, terutama mama menambah keyakinan akan itu. Dari pakaian misalnya, beberapa foto mama dan papa waktu muda memperlihatkan penampilan yang global, papa banyak befoto dengan celana pantovel, baju bersanding licin, rapi. Juga suka…

Mama dan nak bujang Part-18: literasi karna mama

Saya mulai bisa membaca kelas 2 SD, kalau dikampung kami itu termasuk sudah luar biasa karena kami tidak menjalani pendidikan pra SD, tidak ada TK dikampung kami tahun 1990an. Bahkan sarana pendidikan hanya sampai SD dan satu-satunya. Sejak bisa membaca, hasrat literasi menggebu dan tak terbendung, syukurnya itu didukung penuh oleh mama dengan mensuplai berbagai…

Mama dan nak bujang Part-17: Pak Mantari

Dikisah-kisah sebelumnya saya beberapa kali menyinggung betapa traumanya saya dengan Pak Mantari, tenaga kesehatan bagi nagari, bukan dokter atau perawat, entahlah posisinya waktu itu apa dalam dunia kesehatan saat ini. Kisah ini berawal saat saya mungkin umur 9 tahunan, belum sunat. Saat itu mulai ada puskesmas di kampung kami, yang jadi fasilitas kesehatan pertama di…