Home > Mama&Nak Bujang > Mama dan nak bujang Part-16: Pak Mantari

Mama dan nak bujang Part-16: Pak Mantari

Batu Bajanjang

Dikisah-kisah sebelumnya saya beberapa kali menyinggung betapa traumanya saya dengan Pak Mantari, tenaga kesehatan bagi nagari, bukan dokter atau perawat, entahlah posisinya waktu itu apa dalam dunia kesehatan saat ini.

Kisah ini berawal saat saya mungkin umur 9 tahunan, belum sunat. Saat itu mulai ada puskesmas di kampung kami, yang jadi fasilitas kesehatan pertama di Nagari, lokasinya di pinggir sungai, dekat dengan kubur nenek baruah, ibu dari Papa. Keberadaan puskesmas ini mulai mentransformasi masyarakat dari dunia pengobatan alternatif ke ilmu pengetahuan.

Mama yang memang besar di luar kampung dan sudah mengenal dengan baik bahwa fasilitas kesehatan pasti lebih baik dari pengobatan-pengobatan alternatif yang sebelumnya memang hanya itu yang ada dikampung kami, sejak itu jika ada dari kami yang sakit atau demam mama selalu bawa ke puskesmas.

Pengalaman pertama sungguh menggoda, begitu kata iklan. Dan itu pula yang terjadi pada saya, pengalaman pertama dengan tenaga kesehatan, pak Mantari, menjadi awal trauma saya akan fasilitas kesehatan, dan kadang terbawa sampai sekarang.

Saat itu mungkin sudah 3 hari demam saya tidak turun-turun, Sop ayam bataguran Mama pun sudah tak bersisa, sekolah pun sudah libur. Kebetulan puskesmas jadwal buka setiap hari Rabu, mengikuti jadwal kunjungan Pak Mantari Si Can, panggilan beliau, sudah almarhum saat ini, berdomisili di Nagari Simanau, sekitar 25 km dari kampung kami, 2-jam perjalanan dengan motor waktu itu.

Mamapun membawa saya ke puskesmas. Awalnya saya semangat, karena ada dua bu bidan yang menerima dan melakukan pemeriksaan awal, berinteraksi dengan baik dan saya pun malu-malu, kebetulan dua bidan juga datang dari luar nagari kami, baik, ramah dan menarik.

Setelah menunggu beberapa saat, masuklah pak mantari, melakukan pengecekan mata, mulut perut dan detak jantung. “ini demam, harus disuntik” katanya setelah analisa. Saya tidak mengerti apa itu suntik, masih tenang saja.

Kemudian Pak Mantari mulai dengan demonstratif menyiapkan alat suntiknya, ujungnya seperti jarum penjahit karung, kebayang besarnya. Tabung penekan seperti besi putih yang ada lobang kaca untuk melihat level cairan didalamnya. Waktu itu belum seperti sekarang yang jarum suntik sudah sangat halus dan sekali pakai, pemakainannya pun isi ulang.

Bu Bidan membaringkan saya miring, mengarah ke dia, celana saya mulai (maaf) di lorotkan agar posisi untuk penyuntikan tepat. Tanpa ba bi bu, Pak Mantari lansung menancapkan senjatanya di (maaf) pantat saya dan hanya butuh sepersekian mili detik untuk saya merespon, dengan respon yang mungkin juga tidak terbayang oleh bu bidan dan Pak Mantari.

Saya lansung melolong, “aaaaaduaaah.. sakiiiiiik maaaaa!!”, meloncat dari tempat tidur dengan jarum suntik masih di tertancap, tangan saya reflek menjangkau apapun alat alat yang ada diruangan, meloncat-loncat, sambil meraung-raung. Bu Bidan yang kaget berusaha menangkap saya, saya lari ke bawah tempat tidur, mengangkat badan sampai tempat tidur pun centang prenang, itu ruangan jadi hancur lebur, orang kampung yang antri diluar pun kaget menonton saya.

Tapi akhirnya Pak Mantari Si Can yang memang gendut dan badan besar bisa menangkap saya dan mencabut jarum suntiknya. Setelah dilepas, saya lari sambil masih menangis, sampai dirumah  butuh cukup lama sampai rasa sakitnya mulai berkurang. Mama datang dengan tertawa-tawa, “Bu Bidan trauma dek abang” kata mama. “iyo ma, sakik bana, dak lagi abang ka puskesmas do” jawab saya sambil meringis.

Dan sejak saat itu, Pak Mantari Si Can jadi momok menakutkan bagi saya. Kalau sudah mendengar kabar Pak Mantari ke kampung, seharian saya tidak keluar rumah atau main disawah yang jauh dari kampung. Pak Mantari yang juga kerabat mama, kadang menjadi-jadi juga, dengan sengaja setiap berkunjung ke kampung, malah sengaja mencari saya untuk membercandai, membuli mungkin bahasa sekarang.

Tapi mungkin itu sugesti juga, karena takut disuntik, setelah itu bahkan sampai sekarang saya jarang sakit yang membutuhkan perawatan. Paling deman dan sakit kepala yang bisa sembuh oleh alat generik, ditambah saat ini juga sudah makin jarang dokter yang suntak suntik, karena dunia farmasi sudah berkembang pesat. Kecuali pengambilan darah untuk MCU, kadang saya masih butuh waktu untuk menghilangkan bayangan pengalaman pertama itu.

Alfatihah untuk Pak Mantari Si Can dan Mama…

Soeta, 12 Sep 2020

Categories: Mama&Nak Bujang
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: