Home > Mama&Nak Bujang > Mama dan nak bujang Part-18: Globalisasi

Mama dan nak bujang Part-18: Globalisasi

Mama dan Trio GDR

Tahun 80an arus globalisasi terasa kuat di Indonesia, hal itu bisa terlihat dari gaya hidup waktu itu, foto-foto dan budaya orang tua kami, terutama mama menambah keyakinan akan itu.

Dari pakaian misalnya, beberapa foto mama dan papa waktu muda memperlihatkan penampilan yang global, papa banyak befoto dengan celana pantovel, baju bersanding licin, rapi. Juga suka berjaket levis yang modis, rambut pun disisir rapi. Layaknya james bond.

Mama juga, beberapa foto waktu remaja dengan dress diatas lutut, yang serasi dari atas sampai alas kaki, mungkin layaknya Kate William, calon ratu Inggris itu. Anggun dan manis, tapi tentu saja tidak berjilbab. Dari sejarah kita juga mahfum, jaman-jaman itu berjilbab sangatlah susah, karena keadaan.

Dari sisi budaya juga seperti itu, mama selalu merayakan ulang tahun kami. Menjadikan satu momen yang akhirnya kami tunggu-tunggu, karena ada saja sesuatu yang spesial pada hari itu. Saya masih ingat ditengah-tengah ujian nasional SD, saya kelas 5 kalau tidak salah. Mama merayakan ulang tahun saya di depan para guru yang memang menginap di rumah kami, waktu itu ujian nasional SD memang dipusatkan di SD kampung kami, para guru dan siswa dari berbagai daerah datang untuk ujian terpusat.

Seingat saya budaya itu berlanjut, mamalah yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama kali setiap tahun, sampai beliau berpulang.

Juga budaya hidup inklusif, bagi mama tidak ada masalah bergaul dengan siapapun, ras apapun, agama apapun. Mama sempat bercerita, waktu beliau hidup di Medan sebagai juru bayar di PTPN 3 Sumatera Utara, teman dekat beliau gadis medan yang katolik, yang sering ajak menginap dirumahnya.

Mungkin karena itu, mama juga selalu mendorong dan mendukung kami untuk sekolah, paling tidak dengan sekolah pemikiran akan terbuka, bahwa ada dunia luas diluar sana.

Tetapi, se global-globalnya mama, budaya minang pun melekat kuat. Minang yang Islam, mengaji merupakan keharusan bagi kami, saya di serahkan ke surau sejak umur 4 tahun mungkin, duluan mengaji ke surau dari pada sekolah. Saya di antarkan mengaji ke dua Surau, surau lubuak pulau yang gurunya mamak (paman) kami dan Surau Pangka Rangguang, yang gurunya kakek kami (sepupu nenek).

Penyatuan dua budaya itu, mungkin juga dipengaruhi oleh sejarah bangsa kita, Budaya Global dari founding Father yang belajar di Barat dan yang belajar dari Timur, Global dan Islam. Yang pada jaman Pak Habibie di jewantahkan dengan program IMTEK, iman dan Teknologi.

Selamat Ulang tahun mama, 22 Oct 1953 – 24 Jan 2017.

Soka 2, Bogor, 22 Oct 2020

 

Categories: Mama&Nak Bujang
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: