Mama dan nak bujang Part-32: bersepeda solok-singkarak

“Boi”..

Saya sama besar dan sama tumbuh dengan sepupu saya anak Mak Tuo kakak Papa, kami sama-sama panggil Boi dari dulu sejak masih nyilam di lubuak pacah, sama-sama sunat ke Pak Tuo Dalim (alm) sampai sekolah SMP pun sama di Solok. Desrizal, Papa panggil dia ii akong, panggilan itu melekat bagi orang kampung. Rupanya itu doa, akong itu panggilan untuk toke-toke diwilayah melayu, saat ini jalan hidupnya pun jadi toke.

Saya SMP 1 dia di SMP 3 di ampang kualo, kos di air mati, kami anggap kosan berdua itu tempat saling singgah, kalau tidak saya ke kosan dia, dia ke kontrakan saya. Cuma lebih menarik saya ke kosan dia dari pada ke kontrakan saya yang di depan kandang ayam. Ada “sesuatu” yang menarik di air mati waktu itu.

Dia duluan dibelikan sepeda, sepeda BMX full stainless steel, yang lagi viral waktu itu. Setelah saya punya sepeda, kamipun sering biking berdua ke pelosok-pelosok kota solok, sering ke kuburan papa di koto baru dari berbagai jalur. Ke ampang kualo, pulai belibis baik dari jalur tanjung paku maupun dari jalur simpang sigege. Dia suka bersepeda dengan saya karena relatif “aman”, ingat cerita saya sebelumnya?, tinggal sebut nama 🙂.

Sepedanya buka plastik sehingga sangat lancar di bawa riding, sedangkan sepeda saya bekas balapan BMX yang rangkanya sudah sedikit bergeser, gigi-pengikat sadel pun sudah dol, sering bergerak naik-turun, berbahaya. Pernah saya suatu kali pas didepan polres solok, sadelnya terjungkit sendiri, sayapun jungkir balik, sampai di tolong polisi, dibantu berdiri tapi juga di ketawain. Lutut dan siku jadi tanda sampai sekarang.

Yang paling fenomenal dan riding paling jauh adalah ke Danau Singkarak, tepatnya Tikalak, yang sekarang dekat hotel Palapa. Dia bawa handuk di leher, saya ikat dipinggang, ya tujuan kami berenang. Bekal hanya botol minum dan sedikit duit dikantong untuk makan bakso. 20 kilo total dari Air mati, 40 kilo bolak balik. Gempor.

4 jam bersepeda pulang pergi, akhirnya bisa memuaskan diri berenang di danau terbesar di sumatera barat itu. Handuk tidak terpakai jadinya, karena baju kering dibadan. Saya cerita ke mama setelah itu, beliau cuma komen, “hati-hati, oto solok bukit tinggi kancang-kancang”. Memang betul jalur lintas tengah sumatera, kecepatan diatas rata-rata, tak sedikit sudah terjadi kecelakaan termasuk mobil nyebur ke danau. Tapi buat kami jadi pengalaman berkesan.

Cuma sayang sekali riding kami tidak berlansung lama, BMX stainlessnya jadi incaran maling dan hilang. Beda dengan sepeda saya yang awet sampai tinggal tulang benulang. Padahal kami sudah berencana riding sampai ke Bukittinggi, naik kereta api ke padang Panjang sambung sepeda ke Bukittinggi. Kelak, kamipun sama-sama sekolah di Padang Panjang.

Cibis 9, Jaksel, 26 Nov 2021 #duo boi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s