Mama dan nak bujang Part-35: meredup akademik.

Team Kesenian SMP 1 Solok

SMP kelas 2, kelas unggul, 2B, akademik saya mulai meredup. Bukan karena kapasitas dan nilai turun, tapi memang di kelas ini berkumpul para Juara dari 9 kelas, peringkat 1-3 dari setiap kelas, nilai saya tetap saja sama, tapi posisinya sudah bergerak turun, 10 besar mungkin masih masuk. Saya dengan sadar undur diri dari persaingan akademik. Di tulisan sebelumnya sudah saya singgung, ada Hendri Umar, Susi Novrita, Asyraf Mursalina, Zendri Dovira, Roni Kurniawan, Devil ziola, Arli Setyowati dan beberapa nama lain, kalau mau tau siapa mereka di googling saja.

Namun dengan sadar juga, karena di akademik tidak terkejar, saya mengkhususkan diri diluar itu, salah satunya di kepramukaan, di keagamaan, juga di kesenian. Pas waktu itu ada kerja praktek kakak-kakak dari ISI Padang panjang. Saya ikut yang di latih sebagai penari, ada 3 orang cowok waktu itu, saya, Indra Kadican dan Tundo Sumanjaya. Sebenarnya bukan karna dengan rela juga sih, terpaksa!, semua alat musik karawitan sudah diambil oleh teman-teman, yang tinggal jatah penari, karna tetap ingin berpartisipasi, ya ikut.. 🀭.

Jadilah saya jadi penari selamat datang saat ada kunjungan walikota dan alumni ke Sekolah, masih ingat posisi tangan pembuka sampai sekarang, untung ada foto yang mengabadikan, jadi saya bisa tau, lucu juga dengan kumis tipis diatas bibir 😁.

Saya juga ikut lomba-lomba keagamaan. Berawal dari Pramuka, setiap ada persami, lomba tingkat, maupun perkemahan lainnya tingkat kota solok, saya selalu ikut lomba jadi Qori atau kaligrafi, sekali-kali lomba memasak. Dan dari sana sekolah mulai memberikan kesempatan saya untuk ikut lomba tingkat kota solok, yang saya ingat pernah juara harapan 1 untuk lomba kaligrafi tingkat kota.

Saat itu juga lagi tren lomba SKJ 90, saya pun mendaftar untuk ikut, ya bermodal liuk-liuk tari selamat datang la πŸ˜‘. Pernah lomba di walikota solok tapi tidak juara. Pernah juga saya ikut lomba azan, seperti yang saya ceritakan di salah satu tulisan sebelumnya, tapi bukan mewakili sekolah, mewakili kepala dinas kesehatan, waktu itu Pak Dokter Umar Rivai (alm).

Di kepramukaan, saya memang mengkhususkan diri, setingkat penggalang kelas dua, saya sudah penggalang terap, dengan lebih kurang 30 tanda kecakapan, lengan baju kanan dan salempang penuh. Ada satu lomba bergensi tingkat penggalang yang menjadi dambaan setiap regu untuk ikut, yaitu Lomba Tingkat (LT). Kalau tingkat kota (Kwartir Cabang) LT3, yang menang berlanjut ke provinsi (LT 4) dan nasional (LT5). Regu Elang SMP 1 solok pernah mengalami kekalahan epik, beda satu angka yang akibatnya gagal untuk bisa mewakili kwarcab solok ke Kwarda Sumbar. Tahunnya saya lupa.

Begitulah, kelas dua SMP saya mengkhususkan diri diluar akademik, yang penting tetap aktif, “dari pado dak goyang” kata orang-orang. Tetapi, saya juga mendapatkan previlage luar biasa bergabung dengan para juara, ada jugalah diam-diam saya mengambil cara mereka belajar, cara menghafal, menyelesaiakan tugas matematik, sampai belajar bahasa Inggris. Selain itu, ada juga beberapa hobi yang kalau saya sendiri mungkin tidak akan pernah kebeli. Filateli, pengumpul perangko, saya banyak dapat limpahan perabgko dari Hendri Umar, yang akhirnya bisa berkembang sendiri. Latihan badminton di hall lapangan merdeka, teman saya Eko “Kolok”, yang meminjamkan raket, cuma lansung ilfil setelah mata kena kok pada latih tanding perdana 😁. Tentu juga, termasuk merasakan gaya hidup kelas “atas” kota solok waktu itu. Maklum berteman dengan anak-anak pejabat 😎.

Mama mendukung semua kegiatan saya. Apapun itu, bahkan mungkin juga tidak sedikit usaha mama untuk mendapatkan penghasilan tambahan agar saya bisa beli seragam pramuka dengan semua perlengkapannya, juga hobi-hobi ikutan yang tentu saja perlu dana untuk itu, walaupun saya masih ingat, belanja saya waktu SMP hanya bisa untuk makan nasi goreng telor suir, waktu istirahat dan tahu bakso besar saat latihan pramuka sekali seminggu.

Dari kelas 2B ini saya belajar, bahwa rasional juga perlu dalam mencapai cita-cita, manusia tidak dicipatakan sama dalam kemampuan berfikir. Tapi juga belajar banyak bahwa mungkin pada satu sisi kita meredup, tapi bisa bersinar pada sisi lainnya, tinggal bagaimana kita menemukan sisi kita itu.

Cibis Nine, Cilandak, 24 Januari 2022. #5tahunMamaBerpulang #alfatihah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s