Akhirnya, Doktor.

Sidang Promosi Doktor

21 Juli 2022, perjuangan pendidikan tertinggi yang tercinta selesai. Dr. Ani Yumarni SHi, MH, dengan predikat cumlaude. Perjuangan, ketekunan, kesabaran membuahkan hasil maksimal, mengutip orasi promotor yang meluluskan mahasiswa doktor bimbingan pertamanya juga.

Prosesi pengukuhan doktor berlansung dalam suasana akademis di auditorium Prof. Djokosoetono Universitas Indonesia, Depok. Dihadiri oleh kolega dari Univerasitas Djuanda Bogor, termasuk Rektor dan Conselor, teman angkatan 2018 dan para undangan. Tentu juga keluarga besar. Orator promovendus dan tanya jawab 6 penguji dan co-promotor pun berjalan lancar. Promotornya Dr. Gemala Dewi, SH, LLM, menyampaikan apreasiasi dan rasa bahagia yang terlihat pada kesempatan orator promotor.

Mulai tepat jam 10.00 wib, 15 menit orator calon doktor dan 30 menit tanya jawab. Sesi pertama selesai jam 10.40 wib. Sesi kedua adalah pengukuhan Doktor dan penyampaian predikat kelulusan. Ketua sidang  yang langsung dipimpin oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Dr. Edmon Makarim, S.Kom, SH, LLM, mengatakan bahwa ini adalah Doktor ke 259 sejak program pascasarja berdiri Doktor ke 19 tahun 2022 dan ke-4 di angkatan 2018. Juga baru satu yang cumlaude pada tahun 2022 ini. Dan Doktor terlama menahan nafas, menunggu pegumuman kelulusan dan penyampaian predikat lulus, joke Dr. Edmon yang membuat geger ruang sidang.

Tepat 10.59 wib, sidang pengukuhan doktor ditutup dengan resmi. Dilanjutkan pengucapan selamat oleh penguji, promotor co-promotor dan diikuti para undangan. Kami, anak-anak, ayah dan ibu mendampingi sang doktor baru menerima ucapan selamat, berkaca-kaca.

Kisah menggapai pendidikan tertinggi dan berjuang untuk pendidikan, cukup panjang. Kami berdua sudah menyusun rencana sejak dulu sebelum menikah. Sepakat melansungkan pernikahan setelah dia menyelesaikan S2 di Fakultas Hukum Universitas Andalas, 2007 lalu dan sayapun harus menyelesaikan S1 saya ditahun berikutnya, target tersebut bisa kami capai. Ya, jalur dan tingkat pendidikan kami memang berbeda, saya dari D3 Politeknik Universitas Andalas dan sambil kerja menyelesaikan Sarjana di Universitas Pancasila Jakarta. Sedangkan dia cumlaude dari IAIN Imam Bonjol dan S2 di Unand, langsung.

Setelah nikah 2008, rencana pendidikan kembali disusun. Karena saya hanya mengizinkan dia satu profesi, yaitu dosen, tidak boleh yang lain, tentu saja menggapai doktor adalah keniscayaan. Tapi kami sepakat, saya harus S2 dulu baru dia melanjutkan S3. Rupanya rencana terpending cukup lama karena membangun bangunan rumah tangga dan kehidupan taunya membutuhkan effort yang besar, fokus kesana dulu. Akhirnya 2015, saat kehidupan diperantauan mulai membaik, asa melanjutkan pendidikan kembali di azzamkan.

Saya ikut SIMAK UI tiga kali mulai dari 2015, 2016 dan 2017, gagal. Setelah hatrik tiga kali tidak lolos, saya mengalihkan fokus sementata waktu ke sertifikasi internasional untuk manajemen proyek, sedangkan dia mulai mengajukan proposal ke saya untuk mulai S3, agar bisa doktor sebelum 40 tahun. Pas sekali 2019, kami dapat kelebihan rezeki yang menjadikan asa menyambung pendidikan jadi realistis.

Saya memberikan persyaratan, S3 boleh, tapi harus di UI, tidak boleh yang lain. Karena hanya UI lah pilihan yang paling logis, dekat dari rumah dan tentu saja yang terbaik di Indonesia. Buat saya, sekalipun menggapai cita-cita memang membutuhkan pengorbanan, tapi tidak boleh sama sekali mengorbankan yang utama, yaitu keluarga dan anak-anak. Saya tidak izinkan ada opsi berpisah dari anak-anak lebih dari 12 jam, artinya tidak ada pilihan untuk bermalam diluar rumah tanpa saya dan anak-anak untuk alasan apapun, termasuk dalam pemilihan kampus S3 ini.

Saya berikan jaminan, kalau lolos SIMAK UI, jangan fikirkan biaya, sampai selesai saya kasih beasiawa BUDI, budi suami 🙂. Waktu itu sebenarnya sambil bercanda, karna saya saja sudah hatrik tiga kali, tidak bisa lolos, apalagi dia. Taunya dia lolos pada first attemp. Mau tak mau janji harus ditunaikan. Sejak itu, mulailah perjuangan, harus bolak balik Bogor-Salemba, berangkat dari rumah setelah saya berangkat kerja dan harus sudah sampai di rumah sebelum saya sampai dirumah, naik KRL. Mengurus keluarga sampai anak-anak tidur, setelah itu baru mulai belajar, menulis disertasi, menulis jurnal, sampai rata-rata jam 12 malam. Bahkan saat periode penyelesaian disertasi, sampai sahur, adalah lumrah.

Vertigo kambuh, 1 tahun rutin makan obat, apalagi sempat terkena covid, makin memperparah. Puncaknya lebaran haji tahun lalu, saat tingginya tekanan mengikuti arahan promotor dalam perbaikan disertasi, di opname 5 hari, sudah tidak bisa membuka mata. Masuk RS, karena pas di puncak pandemik covid, di rawat sebagai pasien covid, menambah drop fisik dan psikis. Mungkin juga komen-komen singkat saya, ya itu pilihan, hadapi saja, jangan berlebihan, menambah parah fikiran dia. Tetapi pandemik covid juga membawa berkah, semua pembelajaran di ganti online, baik dia mengajar maupun kuliah hanya dari rumah, lebih mudah membagi waktu.

Setelah terlihat dia mendekati akhir disertasi, saya mulai lagi ikut SIMAK UI, yang ke empat kali, ujiannya online karena ditengah pandemik covid 19, rupanya berjodoh. Mulai kuliah angkatan 2021, full online. Dan tentu saja Doktornya dia makin menambah semangat, “beban beasiswa” biaya bisa di alihkan, 🙂. Semoga bisa selesai 3 semester.

Selamat bu Doktor…!

UI Depok, 21 Juli 2022 #DoktorAni

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s