Mama dan nak bujang Part-38: Berkurban kaki tertusuk kayu

Selamat lebaran haji..

Libur sebentar lebaran haji kelas dua SMP saya pulang kampung, makan daging yang agak banyak sekali setahun merupakan kemewahan. Tahun 1994an kurban dikampung kami masih sangat sedikit tak jarang hanya satu ekor sapi, lebih dari itu sesuatu yang luar biasa. Saya masih ingat,  mama, berkurban itu pakai julo-julo, arisan, tapi tidak diambil-ambil selama setahun, sesuai ketentuan satu sapi untuk maksimal 7 orang. Untuk kurban taun depan, menabung mulai dari sekarang, mama dan nenek biasanya selalu dua paket. Kalau sekarang alhamdulillah, dari perantau dan orang kampung bisa sampai 10 ekor.

Tempat pemotongan kurban di lubuk pulau-pulau, dekat masjid. Waktu kecil-kecil dulu kalau siang ada penyembelihan sapi, malamnya kami tidak berani keluar, dibilang harimau biasanya turun kampung untuk makan sisa-sisa darah hewan yang di sembelih, mitos yang kadang membuat kami tidak mandi dua hari, karena tempat jagal tersebut pas di lubuk tempat mandi kami 😄.

Lebaran haji kali ini rupanya lagi ada program nagari melakukan pengecoran jalan akses ke tepian tempat mandi, dari masjid sampai ke tepian pulau-pulau, bekisting papan bekas pengecoran belum di buka, memang belum kering benar beton hasil coran, tapi sudah bisa diinjak. Yang sebelumnya jalan tanah dan rumput, sekarang sudah beton rapi. Tapi rupanya proyek ini menjadikan saya “kurban” kerapiannya.

Waktu itu saya baru dari tepian untuk buang air dan juga sekalian melihat sapi untuk korban, sehari menjelang lebaran haji. BAB ke sungai? Ya, di kampung kami dulu, bahkan sampai sekarang masih, sungai adalah toilet terpanjang didunia. Semua kegiatan kami berhubungan dengan sungai, mulai dari lahir sampai mati, turun mandi, mandi cuci kakus, sampai memandikan mayat juga di sungai.

Saya melewati jalan yang baru di beton dengan riang, sambil tendang-tendang kerikil bekas pengecoran yang masih ada di jalan. Sedang asyik-asyiknya main bola kerikil, kearah tepi bekisting, tiba-tiba kaki saya sebelah kanan nyangkut di papan batas pengecoran tersebut, tidak bisa ditarik. Dan saya terkesiap, shock, melihat bilahan papan sebesar jari kelengkeng masuk diantara jempol dan jari tengah hampir tembus ke telapak kaki, seketika saya terduduk, akibatnya serpihan kayu tersebut lepas dari papan, menancap. Saya lansung berkeringat dingin dan mencoba menarik untuk melepaskan, tidak bisa, sakit mulai terasa.

Saat saya terduduk, rupanya lewat Mak Tuo baruah, kakak papa saya yang juga baru pulang dari sungai. “Mak tuo, kaki…” tidak lengkap kalimat saya, tercekat. Mak tuo melihat dan lansung histeris “Apo dikaki ang tu naak…”, beliau lansung menggendong saya, dan setengah berlari menuju rumah. “Lih anak kau..” masih histeris, memanggil mama didepan pintu. Mama kaget, dari dapur lansung lari kedepan “Kenapa bang..” mulai menangis juga, dan menutup muka saat melihat ada kayu menancap di kaki saya. “Kita lansung bawa ke solok, operasi ya” lanjut mama. Orang kampung mulai berdatangan.

“Biarkan sajalah la Ma..biar busuk dan lepas sendiri” saya bersikeras tidak mau dibawa ke dokter untuk di operasi. Saya “merarau” stress luar biasa, bagian yang tertusuk sudah mulai mengentak-ngentak rasanya. “Dak boleh begitu bang, harus dilepas, kalau tidak infeksi, kaki abang bisa di potong nanti” lanjut mama, saya makin takut dan kalut.

Dalam kondisi chaos seperti itu, tiba-tiba Pak Tuo Dalim masuk, suami mak tuo atas, anak kakak nenek, sepupu mama, “cubo pak tuo caliak” dengan santai beliau melihat kayu yang tertancap itu. “Biarkan sajalah pak tuo, biarkan busuk” jawab saya putus asa “ee, coba pak tuo lihat dulu” kata beliau. Tanpa ba-bu-bu, tiba-tiba saya meraskan pergerakan kayu yang sangat cepat keluar dari kaki saya, belum sempat saya merespon pak tuo sudah menekan lokasi tempat kayu tertancap, dan melihatkan kayunya. “Dah aman..”masih dengan santai beliau berkata. Baru saya sadar dan berteriak “aaaa..” orang yang melihat ada yang bergidik ada yang tertawa 😄.

Tidak ada darah setetespun, beliau lansung memberikan obat racikan sendiri, yang dulu juga dipakai untuk obat sunat saya. “Dah selesai, masak dibiarkan busuk, besok hati-hati” kata beliau. “Terima kasih pak tuo” saya tertunduk lemas. Mama juga lega, dan sungguh keajaiban, harusnya kayu kotor penuh bekas semen coran, jangankan tertusuk, tergores saja bisa mengakibatkan infeksi, ini tidak sama sekali, lansung kering dan seperti tidak terjadi apa-apa. Walaupun kalau membayangkan kejadian itu, kaki saya gerak-gerak sendiri, ngeri.

Berkurban kaki 😌. Alfatihan buat mama, nenek, pak tuo dalim… doa sehat dan bahagia selalu untuk mak tuo.. 🤲

Soka 2, 9 Juli 2022 #lebaranHajiRondeSATU

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s