Jogja..lagi..!

Kali Adem, Merapi Jogja

Kali ini setelah 3 tahun, kembali ke Jogja, pandemik kata orang jogja sudah pergi, tapi kali ini bersama dengan 50 orang great Team PT. MAKPR, Grow Toghether Grow Stronger !, ya, gathering lagi setelah beberapa tahun terkungkung Covid 19.

Jogja masih sama, masih kota yang bikin merindu, kota dengan ritme yang tidak ngoyo, cuma macetnya mulai bikin gregetan. Kata even organizer yang memanage kegiatan gathering ini, “kasih ruang kami kak, 3 tahun pandemik banyak hotel ganti nama, banyak resto, pusat oleh-oleh yang bangkrut, baru akan menggeliat lagi”. Yap, jogja merana selama pembatasan pergerakan di terapkan, sama dengan Bali, kunjungan wisatawanlah yang membuat kota ini Istimewa.. go Jogja !

Rute gathering, membuka kenangan lama saat pertama kali mengunjungi kota sultan ini. PIMR V Pramuka UNY tahun 2001, 21 tahun lalu. Kegiatan pendidikan intruktur Muda dengan kegiatan praktek alam di Kaliurang pinggang gunung Merapi. Dan hari ini Lava Tour mengingatkan lagi, cuma semua sudah berubah sejak erupsi Merapi 2006 dan 2010, lokasi yang dulu tempat kami bercerita didepan tenda dalam sahdunya dingin merapi, sekarang berubah ke tumpukan batu. Goa mata air tempat kami praktek navigasi dulu, kini sudah hampir rata dengan punggungan bukit diatasnya, padahal tinggi tebingnya hampir 300 m.

Kini semua berubah jadi lokasi wisata baru, Lava Tour. Paket perjalanan 20 km, 3 jam perjalanan mengunjungi beberapa spot tujuan dengan mobil jeep 4×4, kebanyakan willis tahun 1940an yang sudah diganti mesin agar kuat mendaki. Jalurnya sebagai pengingat bahwa disana pernah terjadi bencana alam luar biasa, korban hampir 300 orang, 3000an ternak terpanggang hidup-hidup oleh Wedhus Gembel yang temperaturnya sampai 400 dejarat selsius dan kecepatannya diatas 100 km/jam.

Salah satu titik kunjungan adalah museum harta peninggalanku, salah satu rumah warga yang selamat dari bencana, tapi rumahnya terpanggang, menyisakan perabotan meleleh karena ganasnya abu merapi, salah satu yang epic dan jadi maskot adalah jam dinding yang dibiarkan tetap terpasang diposisi sebelum bencana, berhenti berdetak tanggal 5 November 2010, jam 00.05.43 wib, penanda waktu wedhus itu datang membuat beku semuanya.

Juga bungker kali adem, yang menghadirkan kisah pengorbanan dan perjuangan epic, 2 relawan merapi saat erupsi itu terjadi. Terkubur 4 hari 4 malam dalam bungker oleh lava dan material merapi. Ditemukan dengan kondisi sudah hangus. Mereka tidak sempat lagi turun setelah membantu evakuasi masyarakat. Kisah yang menggambarkan pejuang sesungguhnya. Ada satu lagi sebenarnya, pengabdian abdi dalem yang ditugaskan sebagai juru kunci merapi, ya Mbah Maridjan, yang kita kenal beliau dengan iklan Extra Joss, Roso !

Ya, setelah 21 tahun, Jogja dan Kaliurang tetap membuat rindu…

Kaliurang, 6 Agustus 2022 #MKAPRgathering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s