
“Takut kembali tidak?”, satu topik diskusi beberapa hari lalu dalam perjalanan pulang dari kampus si dia. Percakapan penghantar 18 tahun penyatuan dua jiwa, yang tepat hari ini, 18 tahu lalu kebersamaan itu halal. Diskusinya agak berat. ☺️
Ya, tahun ke 18 ini buat dia lumayan merekonstruksi rasa dan jiwa. Kakak tersayang berpulang kembali ke haribanNYA tepat setelah ulang tahun ke 45, satu Minggu sebelum Uni, Pak wo, kakak ayah juga dipanggilNYA. Keduanya lumayan lama sakit. Ayah dan ibu kecelakaan, Alhamdulillah ummi’ sudah sehat, Abah masih berjuang pemulihan. Terjadi bersamaan di 18 tahun kebersamaan ini.
“Jangan tuntut daku dengan kerelaan akan kehilangan, daku sudah puas ditinggal, papa diusia sangat perlu dia, kakak sepupu yang sangat dekat, tiga nenek yang sangat di sayang, ditinggal mama tanpa sempat merawat memanjakan dan habis sudah di pihak mama setelah Mak Etek menyusul semua”, itulah alibi diri ini sekaligus hamparan dan contoh didepan mata bahwa ditinggal dan meninggalkan hanya soal waktu, saat Si Dia berubah warna muka mengingat telah ditinggal.
“Takut, takut membayangkan siapa yang akan menyayangi anak-anak”, jawab dia. “Daku?” Sambar saya, “gak, kan situ bisa ganti lagi” katanya, yang saya sambut dengan tawa. “Emang Habibie semudah itu melupakan Ainun, tidak, bahkan di bawa sampai mereka berkumpul kembali” kembali alibi ku, saat diskusi berlanjut.
“Daku, tidak, rasanya siap saja kapan dipanggilNYA, pengalaman ditinggallah yang mengajari rasa itu, bahwa berpulang hanya soal waktu”, lanjut diskusinya. “Mereka sudah paripurna, tinggal kita yang belum tau seperti apa ujungnya” sambung ku waktu itu. Cubitan lansung mendarat, “aku yang tidak kebayang ditinggal” jawabnya, senyum dan tawa renyah bersama.
18 tahun kalau di kalkulasi tentu tidak sebentar, kalau diukur jarak, total 630.000an km sudah dilalui bersama, aku nyetir, dia 2 menit ngomong setelah itu molor, tinggallah aku dengan si kayu bulat. Anak tertua sudah punya KTP, ponakan dia tertua anak almarhum uni, sudah mau mulai kuliah. Si tengah sudah lewat tinggi dari mamanya, si bontot sudah tidak bisa di gendong-gendong lagi, 42 kg beratnya kini, sudah banyak yang berubah tentunya.
Tapi sejauh apapun perjalanan, setinggi apapun pendidikan, insya Allah tahun depan dia Guru Besar,apapun posisi dan jabatan, tetap sajalah, didepan ayah ibu ya kita ini masih bocil. Pun aku didepannya, dia didepanku, tetaplah pemuda pemudi 19 dan 17 tahun, seperti awal berjumpa dulu, bedanya kalau sudah sama-sama berdiri didepan kaca, saling pandang, tersenyum dan berucap “kok bisa membengkak gini ya”. 🤤
Alhamdulillah 18 tahun sudah, insya Allah tahun-tahun setelahnya paling tidak seperti 18 tahun yang sudah, berharap Allah selalu melimpahkan keberkahan. Amin.
Soka 2, 27 Juni 2026 #18tahunKebersamaan