Home > Kata Hati & Jejak Langkah > Jadilah berkualitas…

Jadilah berkualitas…

Pesantren Habiburahman Nagrek, Bandung

Hari ini, minggu 15 July 2018 kami berkesempatan memenuhi undangan pernikahan puteri kedua Ust Taufik Rahman, mertua Adek ipar kami Ust Ramawansyah, alhafiz Teh Syifa dan alhafiz Mas Prabas di Pesantren Habiburrahman, Desa Bojong, Nagreg Bandung, pesantren yang baru dirintis dan diresmikan May 2018 ini. Saat ini dikelola olah putera satu2 beliau Aa Piros. Lulusan Pakistan.

Pesantren ini dikelililingi kawasan yang asri di pegunungan serta berada dilingkungan perkampungan masyarakat. 1,5 jam dari kota bandung. Sudah beoperasi tiga kelas. Masjid dilantai dua dan kelas dilantai satu. Insya Allah akan berkembang dan bermanfaat buat pendidikan indonesia.

Teh syifa, yang nama lengkapnya Syifa Al Rahman, alumni Gontor puteri dan S1 Univ Padjajaran, mojang Bandung, hafiz sejak kelas dua sma. Sedangkan M. Prabasworo Jihwakir nama lengkap mas Prabas, juga alumni gontor putera dan S1 Fak Adab Univ King Abdul Aziz Saudi Arabia, saat ini sedang melanjutkan S2 di universitas yang sama. Keturanan Kyai Ahmad Dahlan Yogyakarta. Keduanya Hafiz Alquran. Yang baik untuk yang baik dan saling membaikkan…

Walimahan ini berkesan, prosesi nikahnya khitmad dan bersahaja, dihadiri oleh dua insan spesial yang menunjukkan penganten ini juga spesial. Kyai Hasan Abdullah Sahal, pimpinan pesantren Gontor Ponorogo beserta ibu yang merupakan ayah ibu psikologis buat kedua penganten. Dan Syeik Ali Mayouf, Dekan Fak. Adab King Saud University Saudi Arabia. Yang dalam sambutannya juga memberitahukan Mas Prabas sudah selayaknya adik, karna spesialnya.

Hadir diantara orang2 spsesial, dalam bahasa Kyai Hasan, orang2 berkualitas, menjadikan hati dan pikiran ini pengen mengulang masa lalu, bukan mengulang prosesi nikahnya..tapi proses pendidikannya… 😁.

Ust Hasan dalam tausiah yang membangkitkan izzah dan beberapa kali sesenggukan menahan haru karna bahagia, memulai dengan bahasa mendalam, “saya benar2 serius mempersiapkan apa yang akan saya sampaikan hari ini, karena dua anak saya ini sangat spesial”. Beliau mengungkapkan, tidak sama antara yang berpendidikan dan yang tidak, yang nyantri dan yang tidak, yang nyantri hafal quran dan yang tidak, yang hafal dan mempelajari alquran dan yang tidak, yang hafal mengerti alquran dan yang tidak. Bedanya inilah yang menyebabkan berkualitas atau tidak seorang insan dan sebuah keluarga. “Saya tahu anak2ku ini berkualitas, mereka memulai perjalanan berkeluarga ini juga dengan cara berkualitas, insya Allah mereka akan melaluinya juga dengan berkualitas”. Beliau menuturkan juga, bahwa bangsa kita ini sedang sakit, “kalau sakit butuh pemimpin atau perawat?” Tanya beliau ke tamu undangan yang memenuhi area pesantren ini. “Karena bangsa kita sedang sakit, kita perlu pemimpin yang seperti perawat, yang akan merawat negara ini. Jangan karena kita merawat bangsa ini dari sakit dan pecah belah malah di tuduh menyebar ujaran kebencian” yang disambut dengan tertawa hadirin.

Beliau juga menyampaikan bahwa saat ini kita dan para pemimpin hanya banyak bertanya what for, what for jadi bupati, walikota, gubernur, jadi guru jadi dosen, bahkan presiden. Hanya membahas untuk apa saya jadi ini itu. Bukan why, kenapa saya jadi begini dan begitu. Inilah yang menyebabkan kualitas kita saat ini sangat bermasalah. “Saya yakin kedua anakku ini kalau ditanya why berkeluarga, mereka sudah tau jawabannya” sambung beliau.

Beliau berpesan pada kedua mempelai dan hadirin, jadilah berkualitas, karena dengan itulah hidup kita akan berarti.

Diakhir kalam Ust Hasan memimpin doa buat mempelai, dan kedua keluarga.

Sambutan dari Syeik ali, awalnya saya dan sebagian besar hadirin tidak ada yang mengerti, bahasa Arab. tiba2 Kyai Hasan Maju dan jadi penerjemah, Syeikh ali memeluk beliau, semua hadirin terkejut, apalagi mempelai dan semua anak2 beliau alumni Gontor yang hadir, tertunduk, ini diluar rencana. Saya juga terkesiap, subhanallah, kyai yang begitu dihormati dan disayang oleh puluhan ribu bahkan jutaan anak2nya, bertindak sangat humble. Mata saya seketika memberat..luar biasa.

Syeik Ali yang diterjemahkan oleh kyai Hasan memulia dengan ucapan maaf “saya tidak bisa bahasa indonesia, alhamdulillah saya berterima kasih para Syeik hasan yang saya hormati dan yang saya cintai”. Kemudian beliau menyampaikan bahwa Mas Prabas ini anak indonesia yang khusus, dalam pelajaran Muntaz, sangat suka bersosialisasi, aktif berorganisasi. Calon presiden indonesia masa depan. Saat mentranslate Ust Sahal menambahkan dan nyeletuk “tidak buat saya, kalau ananda hanya akan what for jadi presiden, kecuali kalau akan merubah itu presiden, baru saya setuju” disambut tawa hadirin.

Syeik ali juga menyampaikan bahwa wanita itu sangat istimewa, banyak sekali hadis2 nabi tentang wanita. Apalagi beliau juga mengetahui bahwa Teh Syifa hafiz. “Istri saya juga hafiz, tapi saya hanya hafal al ikhlas” disambut tawa hadirin. “Makanya saya sangat berharap Prabas jangan seperti saya, jadilah lebih baik” hadirin tertawa.

Syeik Ali menutup bahwa setiap saya ke Indonesia selalu menemukan yang berbeda dan menjadi pelajaran, dan ini tentu baik buat saya dan kita semua.

Acara serius, berbobot dan bersahaja. Makan jamuan setelah semua prosesi selesai sehingga terasa bermakna. Harusnya beginiliah walimahan muslim, tidak saja memuaskan jasmani tetapi juga memenuhi rohani. Saya lebih suka disebut walimahan yang bersahaja.

 

Jadi pelajaran.

Selamat buat Teh Syifa dan Mas Prabas, semoga diberkahi Allah….

Nagrek, 15 July 2018

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: