Home > Mama&Nak Bujang > Mama dan nak bujang Part-6: Setelah papa kembali..

Mama dan nak bujang Part-6: Setelah papa kembali..

Sungai Nanam, 1989

Bagaimana kehidupan kami setelah papa kembali? Normal, itulah jawabannya.

Mama Guru SD yang berpenghasilan sendiri, kalau dilihat realistis waktu itu, gaji mama lebih besar dari papa yang baru PNS golongan satu, mama waktu itu sudah golongan dua. Selama kami hidup di kampung, gaji PNS cukuplah walau tidak berlebihan. Tapi berbeda kondisi pada saat kami sudah sekolah keluar dan kuliah. Insya Allah ada cerita tersendiri nanti tentang “efisien”nya kami selama sekolah.

Nenek kami juga masih menerima pensiunan Angku (kakek) setiap bulannya. Lumayan untuk menambah dan mensupport mama dalam membesarkan kami.

Mama dan nenek juga punya sawah yang diolah sendiri, tiga “tumpak” bahasa kampung kami untuk tiga lokasi. Alhamdulillah menghasilkan sekitar 80 karung 60kgan setiap panen per enam bulanan. Cukuplah untuk hidup mandiri dan nabung buat piknik.

Ini menarik, semiskin2nya masyarakat kampung kami, minimal dia punya sawah setumpak. Makanya krismon tidak pernah sampai ke negeri kami.

Tentang piknik ini saya akan buat tulisan tersendiri, karena kami dari kecil adalah keluarga yang tidak pernah “kurang piknik”. Piknik ini banyak mempengaruhi pandangan saya terhadap kehidupan setelahnya. Mama punya pikiran yang jauh sebelum masa sekarang ideom “kurang piknik” jadi viral. 😊

Saya juga memelihara ayam, mulai dari sepasang jadi sekandang. Cukuplah untuk asupan gizi telor dan daging ayam kami adek beradik. Walau akhirnya dari sekandang akhirnya habis lagi karna penyakit setelah saya keluar kampung untuk sekolah.

Kami juga bertanam singkong yang daunnya bisa untuk sayur. Kalau kangen ikan, mancing ke sungai dapat jugalah seekor dua ekor. Yang jadi menu mahal bagi kami, bahkan bukan hanya keluarga kami tapi juga orang sekampung adalah daging, kami makan daging hanya 2 kali setahun. Idul Fitri dan Idhul Adha. Kecuali kalau ada yang dapat kijang atau rusa waktu berburu. 😊

Belum ada listrik dikampung saya tahun 1980-1990. Kami punya TV hitam putih dan radio pakai accu untuk hidupkan. Ingat sekali kehidupam waktu itu, dikampung baru ada 2 TV chrome. Di rumah saya dan di kantor camat. Dunia dalam berita adalah acara yang kami tunggu2. Berita perang Irak yang pertama saat Presiden Bush Senior jadi ulasan hangat ngopi pagi.

Film G30SPKI, film barry prima, advent bangun, sensara membawa nikmat, siti nurbaya adalah acara dengan rating paling tinggi. Juga menjadi penggerak perekonomian, saya ingat jualan kerupuk “leak”. Krupuk yang dimakan dengan kuah sate ini laku saat prime time film2 diatas. Harganya 3 buah 25 rupiah, atau lebih familianya “slawe”.. 😊

Secara ekonomi, alhamdulillah kami hidup stabil dan cukup selama dikampung.

Kami juga hidup dengan keluarga papa yang hanya berjarak 10 meter. Sehabis sekolah, karena mama dan nenek masih disawah, kalau tidak ke sawah membantu mama dan nenek, saya habiskan waktu dengan sepupu di rumah Mak Wo Baruah kakak Papa, Nek Baruah (ibu papa) lah yang mengasuh kami kalau Mak Wo dan mama juga nenek lagi kerja disawah.

Sepupu saya, Desrizal, kami panggil BOY satu sama lain. Sama-sama dibesarkan oleh belaian kasih sayang Nek Baruah. Saya panggil Nek Baruah, sepupu saya panggil Niniak, sebutan nenek dalam bahasa minang.

Kami sama2 khitan, dengan cara kampung tidak dijahit dan tidak ada obat kimia 😊. Setelahnya kami sama-sama keluar kampung untuk sekolah, dan mencari kehidupan dan peruntungan sendiri-sendiri setelahnya.

Dari kehidupan masa kecil ini saya bisa mengambil pelajaran, bahwa kalau dua pasangan suami istri mempunyai penghasilan sendiri-sendiri, adalah baik. Karena kita tidak pernah tau kapan ajal akan menjemput. Tetapi kalaupun istri bekerja, yang utama adalah selesaikan dulu kewajibannya dirumah setelahnya silahkan menjalakan kehidupan karirnya.

Mama buat saya menjadi contoh itu. Menu makanan kami sehari, selalu selesai dan tersedia di bawah “songkok” dulu sebelum mama berangkat sekolah atau ke sawah. Kami tidak pernah ketiduran dengan perut keroncongan, pada masa kecil hidup di kampung.

Sesibuk apapun, urusan gizi tidak pernah mama alihkan ke siapapun, nenek sekalipun.

Kehidupan yang normal dan natural inilah yang alhamdulillah secara sadar atau tidak, mebuat kami tumbuh dan berkembang wajar baik dari sisi fisik, psikis maupun intelektual.

Mama cerita, waktu saya tamat SD, kepala Diknas Kecamatan Payung Sekaki memberitahu ke mama bahwa untuk tahun 1993 Nem paling tinggi tingkat kecamatan bahkan nomor dua tingkat kabupaten solok adalah anak Garabak Data, negeri ujung jalan. “Siapa namanya?” Tanya mama. “Anton Pane” jawab kepala diknas, mama tersenyum, itu anak saya. 😊

Pelajarannya, single parent bahkan lebih militan dan serius untuk masa depan anak-anaknya.

Semoga semua ibu single parent, bisa kuat dan selalu berjuang. Seperti mama kami… 😊

Sekolah Kreativa, 3 Feb 2019

Categories: Mama&Nak Bujang
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: