Home > Mama&Nak Bujang > Mama dan nak bujang Part-13: Puasa pertama potong ayam.

Mama dan nak bujang Part-13: Puasa pertama potong ayam.

Bagi kami orang kampung, yang hidup dipedalaman tahun 90an, beras/nasi, sayur pucuk ubi, pete, jengkol, rebung (umbinya bambu), kemumu (pohon keladi), cabe dan sayur gunung lainnya selalu berlebihan tidak pernah kekurangan. Pun ayam dan telurnya, kami surplus, saya pernah punya ayam sekandang, mungkin 30 ekoran, protein terpenuhi. Begitu juga Ikan, kampung kami di sepanjang aliran sungai, bawa pancing sambil mandi, seekor dua ekor dapat juga lah.

Yang jadi barang mewah buat kami adalah produk laut, kalau ikan laut jenisnya kami kenal cuma satu, “ikan padang”, baik itu kembung, hiu, lumba2 kami di gunung taunya ikan Padang, karena yang punya laut hanya Padang, ibu kota provinsi Sumatera Barat. Biasanya datangya sekali seminggu pas pasar nagari hari Rabu. Itupun kadang sudah kering sampai di kampung kami. Makanya kalau diminta sebutkan nama-nama ikan, sudah pasti kami menyerah, taunya cuma ikan padang.. 😆

Ikan maco (teri kering) dan ikan asin (kembung diasinin) jadi menu teristimewa buat kami, cukup dengan “samba lado”, dua piring mah lewat. Tahun 90an, masyarakat dari Sungai Nanam dan Alahan Panjang lah yang “manjojo” ikan kering tersebut ke kampung kami, sebelum kesejahteraan mereka berbalik 180 derajat setelah Bupati Kab Solok dua periode Mak Gamawan Fauzi mencanangkan area tersebut jadi sentra sayur nasional.

Yang ditunggu-tunggu buat kami orang kampung adalah masa-masa masuk Ramdhan seperti saat hari ini. Ada budaya “makan-makan” dan berdoa sehari sebelum masuk Ramdhan. Mama dan nenek pasti semangat menyiapkan segala menu.

Tapi puasa pertama yang saya ingat jadi momen terrible buat saya. Setelah papa berpulang, banyak pekerjaan “laki-laki” sedikit-sedikit pindah ke saya, salah satunya jadi “jagal”, tukang potong ayam.

Awal puasa satu waktu, tahunnya saya lupa, mama minta saya potong ayam, ini jadi momen pertama saya jadi tukang potong. Tapi masalahnya yang minta dipotong adalah ayam saya, yang saya ternakkan dari sepasang sampai sekandang.

Mama bilang “Bang potong ayam besok ya buat makan-makan, potong yang jantan aja, yang udah tua”. Setelah di cek yang sesuai dengan yang mama minta, pilihan jatuh pada “bapak” ayam saya. Saya galau “Ma, jangan bapak ayam abang la, beli aja ma, itu kan kesayangan abang” jawab saya. “Eh punya ayam sekandang kok beli ayam, apa kata orang nanti” sambung mama sambil tersenyum. “Lagian udah tua, nanti kalau dibiarin mati sendiri, kan rugi” lanjut mama. Dengan berat hati saya panggillah di “bapak” ayam, dia datang lenggak lenggok, tak tau jiwanya akan terbang hari itu.

Sambil bapak ayamnya dikasih makan, saya siapkan pisau untuk sembelih, mengasah pisau juga jadi pekerjaan laki-laki yang pindah ke saya, saya ahli asah pisau mulai dari umur 7 tahunan. “Ma, cara potong ayam bagaiman?” Teriak saya dari depan sambil asah pisau. “Tanya nenek ya” jawab mama dari dapur.

Nenek akhirnya mengajari saya, “pisau harus tajam, caranya coba raba mata pisau yang sudah diasah, harus seret dan tidak licin, kemudian coba iris daun pisang, kalau mudah berarti sudah tajam. Kemudian supaya ayamnya tidak lari, ikat dulu kaki ayam, injak sayapnya, menghadap kiblat, tutup mata ayam, bersihkan bulu di leher, raba dan rasakan saluran nafas dileher ayam, itu harus putus sekali gesek. Jangan lupa baca bismillah dan sahadat” begitu standard operating procedure jagal ayam dari nenek

Akhirnya dengan gemeteran saya mulai lakukan prosedur. Tapi rupanya saluran nafas ayam tidak putus sekali gesek, ayam meronta, saya kaget, lepas.. bapak ayamnya lari dengan leher sudah separo putus. Saya panik, teriak panggil mama. “Maaaa !, ayamnya kabur, dak mati..”.. dengan tergopoh-gopoh dari dapur, mama lari tangkap ayamnya. 😆

Mama tertawa, “dak boleh gitu potong ayamnya baaang, berdosa ayam jadi tersiksa” nasehat mama setelah akhirnya “bapak” ayam bisa di tundukkan. “Kaget ma..” jawab saya.

Setelah itu, setiap momen-momen bahagia yang perlu potong ayam jadi tupoksi saya. Yang paling sedih pada saat kampung terkena wabah penyakit ayam “akuak”, mungkin flu burung, setiap hari saya harus potong ayam 2 ekor, dua minggu ayam sekandang saya habis..

Saat ini, ditengah wabah Covid-19, kita memulai Ramadhan dengan cara sangat berbeda, di kampung, budaya makan-makan juga di pending, shalat Tarawih dan witir dirumah saja, masjid kosong.. Positifnya, kedekatan dengan anggota keluarga semakin baik. 6 minggu sudah di rumah saja, belum tau entah sampai kapan, semoga segera. Kita bantu dengan disiplin kita mengikuti arahan pemerintah dan Ulama..

Selamat berpuasa…

Bogor, Jum’at, 1 Ramadhan 1441 H/24 April 2020.

Categories: Mama&Nak Bujang
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: